Topswara.com -- Dalam pandangan Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia. Setidaknya ada empat poin yang mendasarinya.
Hal tersebut diungkap Pemerhati Remaja, Khoeriyah Apendi dalam Kajian Remaja, Redesign Your Life In A Day!, Jum’at (23/01/2026), di salah satu SMK di Depok.
Adapun keempat poin tersebut yakni: Pertama, perintah pertama dalam Al-Quran. “Wahyu pertama yang turun adalah perintah belajar, yaitu Quran surah al-Alaq ayat 1 yang artinya “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu adalah pondasi kehidupan seorang Muslim,” kata Kak Riyah, sapaan akrabnya di hadapan 60 siswi.
Kedua, menuntut ilmu adalah kewajiban sebagaimana sabda Rasulullah SAW. “Rasulullah SAW bersabda dalam HR. Ibnu Majah, menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim. Artinya, ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan, berlaku sepanjang hayat, dan disesuaikan dengan kebutuhan peran dan kondisi,” jelasnya.
Ketiga, ilmu sebagai jalan menuju surga. “Ini juga sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam HR. Muslim, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga,” ujarnya.
Keempat, ilmu harus diniatkan karena Allah. “Menuntut ilmu dalam Islam harus diniatkan untuk ibadah, diamalkan dan memberi manfaat. Karna ilmu yang tidak membawa kebaikan, tidak bernilai di sisi Allah,” ucap Kak Riyah.
Kak Riyah pun menjelaskan, sistem pendidikan dalam Islam merujuk pada kehambaan kepada Allah, bukan kepentingan ekonomi. “Islam sebagai sistem kehidupan secara menyeluruh (kaffah), pendidikan dalam islam lahir dari visi penghambaan kepada Allah, bukan kepentingan ekonomi,” jelasnya.
Tak hanya itu, menurut Kak Riyah, pendidikan merupakan hak rakyat dan kewajiban negara. “Pendidikan adalah hak rakyat dan kewajiban negara, bersifat gratis dibiayai negara dari baitul mal, bukan diserahkan ke perusahaan atau mekanisme pasar. Ilmu diposisikan sebagai amanah dan ibadah, bukan komoditas,” ucapnya.
“Kurikulumnya pun dibentuk untuk menanamkan ketaatan kepada Allah, membentuk manusia beriman, berilmu dan berakhlak, serta mendorong agar ilmu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Kak Riyah mengungkapkan, hal ini sangat berbanding terbalik dengan sistem pendidikan saat ini. “Sistem pada saat ini sering berorientasi pada cepat lulus, cepat kerja, dan tujuan materi semata,” pungkasnya. [] Mustikawati

0 Komentar