Topswara.com -- Hari ini kita sedang berada di era semua serba digital. Faktanya, banyak kemudahan yang disajikan tapi juga banyak pengaruh buruk. Di satu sisi menawarkan koneksi global dengan manusia tanpa ada batasan, menginformasikan kondisi masyarakat di berbagai wilayah, baik dalam maupun luar negeri secara cepat dan akurat.
Namun sisi gelapnya tidak sedikit dari mereka yang terkena gangguan mental dan dampak buruk lain dari digitalisasi tersebut.
Survei APJII mengungkap bahwa Generasi Z (lahir 1997–2012, usia 12–27 tahun) adalah kelompok paling dominan dalam penggunaan internet dengan kontribusi 25,54 persen dari total pengguna. Dominasi generasi muda ini menunjukkan bahwa pertumbuhan internet di Indonesia sangat dipengaruhi oleh digital native, generasi yang tumbuh bersama teknologi.
Gen Z sebagai kaum yang mendominasi era digital dipandang sebagai generasi lemah, tapi di satu sisi memiliki potensi kritis dan mampu menginisiasi perubahan melalui medsos.
Ruang Digital Menjebak
Ruang digital yang serba bebas dan tak terbatas itu nyatanya tidak netral, karena didominasi nilai sekuler kapitalistik. Kapitalisme menjebak Gen Z dan aktivis melalui kapitalisme estetik, yaitu penciptaan dan penjualan citra melalui visual dan pengalaman.
Dalam kapitalisme estetik, penampilan (baik diri, produk, atau gaya hidup) menjadi komoditas yang diperjualbelikan.
Akhirnya mereka terjebak dalam penjajahan kapitalisme algoritma yang mengarahkan mereka pada perilaku konsumerisme, FOMO, permisif, hedonistik, sekuler, liberal, dan kapitalistik.
Hegemoni digital membentuk karakter generasi yang terfokus pada mengejar pencapaian duniawi, misalnya harus mencapai financial freedom pada usia muda; matang finansial sebelum menikah.
Bukan hanya itu, kapitalisme algoritma juga menyasar aktivis muslim dengan kemasan yang “islami”.
Padahal sejatinya, itu Islam yang telah direduksi dan diminimalisasi dengan pandangan moderasi sehingga hanya tampil pada aspek akidah, akhlak, dan ibadah ritual. Jika era digital ini dikuasai dengan baik, menjadikan aktivisme generasi muda menyodorkan format baru, yaitu yang dikenal dengan aktivisme glocal (global-local).
Para pemuda turun ke jalan dan menyuarakan tuntutan perubahan kepada penguasa pada bidang politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan lain-lain.
Selain bergerak di ranah pemikiran, generasi muda juga aktif turun ke lapangan melakukan aksi praktis, seperti mendirikan sekolah, menanam pohon, membersihkan sampah, mengelola masjid, menggelar event dakwah kolosal, dan lain-lain.
Hanya saja pergerakan semacam ini cenderung pragmatis, mencari validasi. Sosiolog Spanyol Manuel Castells menyebut fenomena ini sebagai networked social movements, yaitu pergerakan yang cair tanpa pemimpin tunggal, tetapi justru kuat karena sulit dipatahkan. Di satu sisi mereka terbukti kreatif, berani, dan mampu menggerakkan ribuan orang dalam waktu singkat.
Mereka juga tidak gentar menghadapi sikap represif aparat. Namun, di sisi lain, mereka kerap rapuh terhadap fragmentasi. Perhatian mereka cepat beralih dari satu isu ke isu lain. Gerakan bisa menggelegar hari ini, lalu sepi minggu depan.
Di sisi lain, aktivitas dakwah Islam ideologis dihalang-halangi oleh kapitalis pemilik raksasa digital melalui shadow-ban, yaitu tindakan tersembunyi yang dilakukan oleh platform media sosial untuk membatasi jangkauan (visibilitas) suatu akun tanpa pemberitahuan langsung kepada pemilik akun tersebut. Ini berarti sebuah unggahan tidak akan mudah ditemukan oleh pengguna lain yang bukan pengikut, meskipun akun kita bersifat publik.
Akibatnya, konten dakwah Islam pun diisolasi di echo chamber, yaitu ruang informasi yang terbentuk ketika algoritma platform menyajikan konten yang sesuai dengan preferensi.
Hanya Islam yang Mampu Selamatkan
Berdasarkan hal ini, penting untuk mengarahkan aktivisme generasi muda pada upaya mewujudkan kembali kehidupan Islam. Aktivitas dakwah ini dilakukan dengan menanamkan Islam sebagai qiyadah fikriyyah pada generasi Muslim.
Perlu ada upaya penyadaran terhadap generasi Muslim terhadap hegemoni digital kapitalisme sehingga mereka menyadari adanya perang ideologi di dunia digital. Jika dahulu pergolakan pemikiran terjadi di ruang seminar dan diskusi; buku dan majalah politik; serta adu argumentasi pada kontak/pertemuan dakwah, kini semuanya pindah ke ruang digital dengan medsos sebagai ruangannya.
Namun, ruangan ini sudah di-setting oleh pemiliknya agar hanya nilai-nilai kapitalisme yang menang, sedangkan nilai-nilai Islam harus tenggelam.
Di tengah konstelasi dunia yang unipolar dengan AS sebagai adidaya satu-satunya, umat Islam makin ringkih melawan hegemoni digital global. Ini karena umat Islam tidak memiliki kekuatan yang sebanding untuk melawan hegemoni AS.
Umat Islam butuh negara yang mengemban ideologi Islam dalam konteks global, yaitu Daulah Islam/Khilafah Islamiah.[]
Oleh: Wike Wijayanti
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar