Topswara.com -- Belakangan ini viral istilah duck syndrome. Asal mula disebut disebut sebagai duck syndrome karena kondisi tersebut sama dengan kondisi bebek yang sedang berenang tampak tenang di permukaan namun di dalamnya sangat sibuk mengayuh agar tetap bisa berenang.
Psikolog dari Unit Pengembangan Karier dan Kemahasiswaan (UKK) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Anisa Yuliandri menjelaskan, istilah duck syndrome pertama kali digunakan untuk menggambarkan mahasiswa Universitas Stanford yang tampak tenang tetapi sebenarnya sedang berada di bawah tekanan besar.
Keseimbangan psikologis seseorang dapat terganggu ketika pilihan hidup tidak lagi didorong oleh keinginan pribadi melainkan oleh tekanan eksternal (kompas.com, 22/8/2025).
Kondisi sebaliknya terjadi di Gaza Palestina, di mana sudah hampir dua tahun penjajah Yahudi zionis berusaha mengosongkan Gaza dengan berbagai cara seperti, pengeboman pusat-pusat pendidikan, kesehatan dan fasilitas publik, pembunuhan, pelaparan, merupakan kondisi yang sangat buruk, dan bertambah buruk.
Anak-anak Gaza tetap teguh bahkan tetap belajar dan berprestasi dengan tekun dan bercita-cita tetap di gaza.
Sangat berbeda dengan kondisi generasi di negera lain termasuk di Indonesia, di mana kondisi yang sama sering terlihat di kampus-kampus di seluruh dunia, termasuk di Indonesia di mana rata-rata mahasiswa berupaya memenuhi ekspektasi tinggi terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar.
Walaupun dalam kondisi dijajah, namun pembentukan generasi penjaga masjid Al-Aqsa tetap dilakukan. Remaja dan orangtua bahkan nenek-nenek yang memiliki kemampuan melakukan diskusi dan memberikan pelajaran serta pendidikan pada anak-anak Gaza.
Pendidikan Qur'ani yang akan membentuk generasi yang berkepribadian Islam penjaga Al-Aqsa. Anak-anak tetap melakukan kewajiban dalam kondisi perang. Perang bukan alasan berhenti belajar, bahkan berhasil menyelesaikan pendidikan tanpa didampingi orangtua mereka yang telah syahid
Kondisi yang sangat berbeda saat ini terjadi pada mahasiswa yang berada dalam tekanan sistem kapitalisme, berjuang untuk tetap bertahan.
Tuntutan hidup perfeksionis ala kapitalisme dan gaya hidup kapitalisme telah menjerat generasi muda, harus memenuhi tuntutan ala sekuler kapitalis tapi sebenarnya tidak mampu sehingga menjadi stres dalam hidup.
Ditambah dengan kondisi lemah iman, tidak memahami hakikat hidup, prioritas amal, rendahnya kesadaran politik bahwa Sistem sekuler Kapitalisme menjadikan krisis multidimensi sehingga tidak bisa dihadapi secara individual
Butuh penyatuan kekuatan kaum muslimin untuk mengakhiri penjajahan di Gaza, yang akan mampu mengomando tentara kaum muslimin untuk berjihad demi mengakhiri zionis AS.
Anak-anak bisa merasakan kembali kehidupan yang indah dalam naungan syariat Islam, oleh karena itu perlu ada perjuangan untuk menegakkan khilafah. Perjuangan ini membutuhkan dukungan umat termasuk para pemuda/mahasiswa Muslim.
Ketangguhan anak-anak Gaza harus menjadi inspirasi bagi mereka yang terkena duck syndrome. Ketangguhan mereka adalah bukti nyata ketinggian Islam dalam membina generasi.
Memahamkan kembali hakikat identitas hakiki sebagai Muslim dan menyadarkan jebakan standar kapitalisme justru membuat stres, merusak dan menjerumuskan.
Semua itu membutuhkan penyadaran politik dan adanya kebutuhan perubahan sistem Islam sebagai solusi krisis multidimensi termasuk membebaskan Palestina dari cengkeraman Zionis. []
Oleh: Nita Nur Elipah
(Penulis lepas)
0 Komentar