Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kejarlah Rahmat Allah dan Bukalah Gerbang-gerbangnya


Topswara.com -- Sobat. Kejarlah rahmat Allah dengan hati yang tulus dan perbuatan yang baik. Berusaha untuk mendekatkan diri kepada-Nya, melakukan amal kebajikan, dan mengembangkan sifat-sifat mulia adalah langkah-langkah dalam mengejar rahmat-Nya. Semoga Allah selalu memberkahi dan memberikan rahmat-Nya kepada kita semua.

Apa Itu Rahmat dalam Pandangan Islam?

Dalam pandangan Islam, rahmat memiliki makna yang luas dan mendalam. Secara harfiah, "rahmat" berasal dari kata Arab "rahmah" yang berarti belas kasih, kasih sayang, dan kemurahan hati. Ini adalah salah satu dari 99 nama Allah yang disebut dalam Islam, yaitu "Ar-Rahman" dan "Ar-Rahim", yang berarti Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Rahmat Allah mencakup banyak aspek, termasuk kasih sayang-Nya terhadap makhluk-Nya, kemurahan hati-Nya dalam memberikan nikmat dan berkah, serta pengampunan-Nya terhadap dosa-dosa hamba-Nya yang bertaubat. Rahmat Allah juga meliputi petunjuk-Nya, perlindungan-Nya, dan pertolongan-Nya kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa.

Dalam ajaran Islam, manusia diajak untuk mengejar rahmat Allah dengan beribadah, berbuat kebajikan, dan menjalani hidup sesuai dengan ajaran-Nya. Dengan mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, umat Islam berharap untuk meraih rahmat-Nya di dunia dan akhirat.

Kenapa ketika kita menjalani sebuah kepahitan hidup dianjurkan langsung menuju Allah dengan cara mendirikan shalat? 

Dalam Islam, ketika seseorang menghadapi kepahitan hidup, seperti kesedihan, kegagalan, atau cobaan lainnya, dianjurkan untuk segera mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan mendirikan shalat. Ada beberapa alasan mengapa shalat dianjurkan sebagai respons terhadap kesulitan dalam hidup:

1. Mengingat Allah: Shalat adalah cara untuk mengingat Allah dan memperkuat hubungan spiritual antara hamba dan Tuhannya. Saat seseorang berdiri di hadapan Allah dalam shalat, ia diingatkan akan kekuasaan, kasih sayang, dan pertolongan-Nya.

2. Menenangkan Hati: Shalat memberikan ketenangan dan kedamaian kepada jiwa yang sedang dilanda kepahitan. Ketika seseorang fokus pada ibadah kepada Allah, ia merasakan ketenangan batin yang membantu mengurangi kecemasan dan stres.

3. Meminta Bantuan Allah: Shalat adalah wujud doa kepada Allah. Ketika seseorang menghadapi kesulitan, ia dianjurkan untuk meminta bantuan, petunjuk, dan kekuatan kepada Allah dalam shalat. Percaya bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Menjawab doa, seseorang berharap untuk mendapatkan pertolongan-Nya dalam mengatasi masalah yang dihadapi.

4. Mengingat Kehidupan Akhirat: Shalat mengingatkan manusia akan kehidupan akhirat dan akibat dari perbuatan di dunia. Dengan menghadap Allah dalam shalat, seseorang diingatkan akan pentingnya menjalani hidup yang taat dan bertakwa agar mendapatkan kebahagiaan abadi di akhirat.

Dengan mendirikan shalat saat menghadapi kepahitan hidup, seseorang memperkuat ikatan spiritualnya dengan Allah, merasakan ketenangan batin, meminta bantuan-Nya, dan diingatkan akan akhirat. Ini merupakan langkah penting dalam menghadapi cobaan dan kesulitan dalam hidup seorang muslim.

Mendirikan shalat itu merupakan salah satu pintu dilimpahkannya rahmat Allah. Sebagaiman disebutkan dalam QS. An-nur ayat 56.

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ  
"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul, agar kamu diberi rahmat."

Sobat. Pada ayat ini Allah mengiringi janji akan mencapai kemenangan itu dengan perintah mendirikan salat, menunaikan zakat dan menaati Allah dan Rasul-Nya. Itulah syarat pertama untuk mencapai kemenangan dan memeliharanya. Kadang-kadang mencapai sesuatu tidaklah begitu berat, tetapi memelihara kelestarian apa yang telah dicapai itu lebih berat daripada mencapainya. 

Oleh sebab itu kaum Muslimin harus memperkuat diri dan memupuk pertahanan dengan tiga macam senjata yang sangat ampuh itu yaitu pertama menguatkan batin dengan selalu berhubungan dengan Yang Mahakuasa. 

Kedua zakat yang membersihkan diri dari sifat bakhil dan kikir, sehingga apabila tiba waktu untuk seseorang tidak segan mengorbankan harta, tenaga bahkan jiwanya. 

Ketiga taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya di mana segala tindak tanduknya disesuaikan dengan ajaran-Nya dan bila terdapat perbedaan pendapat hendaklah dikembalikan kepada hukum Allah dan Rasul-Nya. Itulah yang menjadi pedoman bagi segala gerak dan langkah. 

Dengan memenuhi ketiga syarat itu akan dapat dibina kekuatan umat dan ketahanannya terhadap segala bahaya yang mengancam dan kejayaan yang telah dicapai dapat dipertahankan dan dipelihara.

Ayat ini menegaskan pentingnya mendirikan shalat sebagai salah satu kewajiban utama umat Islam. Selain itu, ayat tersebut juga menunjukkan bahwa dengan melaksanakan perintah Allah, seperti mendirikan shalat, membayar zakat, dan mengikuti ajaran Rasulullah, umat Islam akan mendapatkan rahmat-Nya. Mendirikan shalat bukan hanya merupakan kewajiban ibadah, tetapi juga merupakan cara untuk mendapatkan rahmat Allah. 

Shalat adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki hubungan dengan-Nya, dan meraih berkah serta rahmat-Nya. Oleh karena itu, menjalankan shalat dengan konsisten dan khusyuk adalah salah satu pintu untuk mendapatkan limpahan rahmat Allah, sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut.

Bentuk-Bentuk Rahmat Allah dalam Pandangan Al-Qur'an 

Dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan banyak bentuk rahmat-Nya yang meliputi aspek-aspek berikut:

1. Rahmat dalam penciptaan: Allah menyatakan bahwa rahmat-Nya meliputi segala sesuatu di alam semesta ini. Dia menciptakan segala sesuatu dengan rahmat-Nya dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu (QS. Al-A'raf: 156).
2. Rahmat dalam memberikan petunjuk: Allah memberikan petunjuk kepada manusia melalui wahyu-Nya, termasuk Al-Qur'an, sebagai rahmat-Nya kepada hamba-Nya yang beriman (QS. Al-Anbiya: 107).
3. Rahmat dalam pemberian rezeki: Allah memberikan rezeki kepada makhluk-Nya sebagai rahmat-Nya (QS. Al-Isra: 20).
4. Rahmat dalam pemberian kesembuhan: Allah adalah Yang menyembuhkan dan Dia adalah sumber rahmat (QS. Al-Isra: 82).
5. Rahmat dalam pengampunan: Allah adalah Maha Pengampun, dan rahmat-Nya meliputi pengampunan-Nya terhadap hamba-Nya yang bertaubat (QS. Az-Zumar: 53).
6. Rahmat dalam memberikan keselamatan: Allah memberikan keselamatan kepada hamba-Nya sebagai rahmat-Nya (QS. An-Naml: 62).
7. Rahmat dalam menjawab doa: Allah mendengar doa hamba-Nya dan menjawabnya sebagai rahmat-Nya (QS. Al-Baqarah: 186).
8. Rahmat dalam memberikan petunjuk hidayah: Allah memberikan hidayah kepada hamba-Nya sebagai rahmat-Nya (QS. Al-An'am: 125).

Ini hanya beberapa contoh dari banyaknya bentuk rahmat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Keseluruhan pesan Al-Qur'an adalah tentang rahmat Allah yang meliputi segala aspek kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat, bagi hamba-Nya yang bertaqwa dan beriman kepada-Nya.

Membuka Gerbang-gerbang Rahmat Allah: 1. Berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah SWT.
2. Iman kepada Allah dan berpegang teguh kepada-Nya.
3. Sabar saat ditimpa musibah.
4. Taqwa kepada Allah dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
5. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya. 
6. Berbuat baik atau amal sholeh. 
7. Beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah.
8. Beritighfar dan memohon ampunan kepada Allah.
9. Mendengarkan bacaan Al-Qur'an dan mengamalkannya.

Bentuk-bentuk membuka gerbang-gerbang rahmat Allah yang disebutkan adalah prinsip-prinsip penting dalam Islam yang membantu individu mendekatkan diri kepada Allah dan meraih rahmat-Nya. Berikut adalah penjelasan singkat tentang masing-masing prinsip tersebut:

1. Berbuat Ihsan dalam Beribadah kepada Allah SWT: Melaksanakan ibadah dengan ikhlas dan dengan cara terbaik, serta memberikan yang terbaik dalam beribadah kepada Allah.

2. Iman kepada Allah dan Berpegang Teguh kepada-Nya: Memiliki keyakinan yang kokoh kepada Allah dan menjaga keimanan dengan memahami dan mengamalkan ajaran-Nya.

3. Sabar Saat Ditimpa Musibah: Menerima ujian atau cobaan dengan kesabaran dan menjaga hati agar tetap tenang dan tidak bersikap putus asa.

4. Taqwa kepada Allah: Menjaga diri dari perbuatan dosa dengan patuh terhadap segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

5. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya: Mematuhi segala perintah Allah dan menjalankan ajaran Rasulullah sebagai tindakan manifestasi dari kepatuhan kepada-Nya.

6. Berbuat Baik atau Amal Sholeh: Melakukan perbuatan baik dan amal saleh sesuai dengan ajaran Islam untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain.

7. Beriman, Berhijrah, dan Berjihad di Jalan Allah: Memiliki iman yang kuat, berhijrah dari segala keburukan menuju kebaikan, serta berjuang untuk kebenaran dan kebaikan dalam jalan Allah.

8. Beristighfar dan Memohon Ampunan kepada Allah: Meminta ampunan Allah atas dosa-dosa yang dilakukan dan berusaha untuk memperbaiki diri agar mendapatkan keampunan-Nya.

9. Mendengarkan Bacaan Al-Qur'an dan Mengamalkannya: Mendengarkan, memahami, dan mengamalkan ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber petunjuk dan rahmat Allah.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat membuka gerbang-gerbang rahmat Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya serta meraih berkah-Nya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anám ayat 155:

وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ  
“Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” 

Sobat. Ayat ini kembali menerangkan sifat-sifat dan kedudukan Al-Qur'an yang mencakup segala macam petunjuk dan hukum syariat yang dibutuhkan oleh umat manusia seluruhnya dan jin, untuk mencapai kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi. 

Kitab Taurat yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa penuh berisi ajaran-ajaran syariat dan petunjuk-petunjuk yang hanya dibutuhkan oleh Bani Israil untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, sedangkan Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, berisi lebih banyak petunjuk dan lebih luas jangkauannya dari Kitab Taurat. Oleh karena itu, ikutilah petunjuknya dan laksanakan semua perintah dan larangan yang ada di dalamnya, agar kamu diberi rahmat, dan kamu diberi hidayah di dunia ini.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis 30 Buku mengenai motivasi dan Pengembangan diri. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar