Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ironi Pemberdayaan Istri versus Pemberdayaan Suami

Topswara.com -- Tampaknya, benarlah jika ada guyonan bahwa perempuan makin terdepan. Bagaimana tidak, sektor ekonomi pun semakin didominasi kaum perempuan. Misalnya pelaku UMKM yang mana 64 persen dikendalikan oleh perempuan (kemenkopmk.go.id). 

Sementara itu, BPS mencatat ada 52,74 juta pekerja perempuan di Indonesia pada 2022 atau 38,98 persen dari total pekerja. Proporsi tertinggi ditempati perempuan sebagai tenaga penjualan, yaitu 28,44 persen dari seluruh pekerja perempuan sepanjang 2022. 

Fenomena ini bisa disaksikan dengan gamblang di sekitar kita. Yang keliling menawarkan dagangan, tidak hanya laki-laki, juga perempuan. Penjual online dan talent-talent live kebanyakan juga perempuan.

Peran perempuan kini makin sama persis dengan peran laki-laki, yaitu peran ekonomi. Baik sebagai pencari nafkah utama maupun sampingan, yang jelas peran ekonomi ini sebenarnya bukanlah tugas kaum perempuan. Jika saat ini perempuan berbondong-bondong mengambil peran tersebut, pasti ada yang salah.

Salah Sasaran

Puluhan juta penduduk Indonesia saat ini, masih jauh dari kesejahteraan dan kemakmuran. Data BPS menyebut, lebih dari 25 juta rakyat masih miskin. Tentu saja hal itu disebabkan penerapan sistem kapitalisme sekuler yang tidak menjanjikan pemerataan ekonomi. Sumber kekayaan hanya beredar di kalangan kapitalis.

Salah satu cara untuk mendongkrak kesejahteraan adalah dengan memberdayakan perempuan di bidang ekonomi. Para ibu rumah tangga, baik dengan terpaksa atas kesadaran diri maupun dorongan dari berbagai pihak, akhirnya terjun menekuni peran ekonomi, yaitu ikut mencari nafkah. Sebuah peran yang seharusnya cukup diambil oleh laki-laki. 

Proyek-proyek pemberdayaan perempuan pun gencar dilakukan. Seperti dukungan terhadap UMKM berupa pelatihan keterampilan dan kewirausahaan. Juga, pemberian porsi yang besar kepada pekerja perempuan, mulai tenaga buruh, penjual sampai level manajer profesional. Kaum perempuan semakin merambah ke berbagai sektor, yang seharusnya diisi kaum laki-laki.

Para ibu rumah tangga pun berbondong-bondong bekerja atau berwirausaha untuk mencari uang. Tentu ada dampak positifnya, yaitu ikut berkontribusi dalam mengatasi kemiskinan keluarga. Namun, memberdayakan para ibu rumah tangga agar berperan ekonomi bukanlah pilihan ideal. Sebab, ada peran-peran lain yang akhirnya terabaikan ketika perempuan fokus menjalankan peran ekonomi.

Seharusnya, pemberdayaan ekonomi ditujukan kepada kaum laki-laki. Terutama para suami yang nganggur, tidak punya skill, kurang bertanggung jawab terhadap keluarga dan tidak berdaya menghadapi terpaan kemiskinan. Mereka ini yang seharusnya diarahkan, didukung, dilatih dan disadarkan untuk menjadi pria sejati yang gigih mencari nafkah. Merekalah yang harus didorong agar mandiri secara ekonomi, bukan perempuan.

Saat ini, ketika perempuan mendominasi peran ekonomi, justru semakin tersisihlah keberadaan laki-laki di sektor ekonomi. Mereka semakin tidak punya peluang untuk meraih penghasilan. Laki-laki akhirnya banyak yang menjadi beban keluarga, masyarakat dan negara. Laki-laki banyak yang nganggur, bahkan bergantung secara ekonomi kepada perempuan di sekitarnya. Termasuk mengandalkan penghasilan istrinya. Inilah lingkaran setan pemberdayaan perempuan.

Berebut Peran yang Sama

Saat ini, laki-laki dan perempuan berebut peran yang sama, yaitu peran ekonomi. Laki-laki mencari nafkah, perempuan pun sama. Laki-laki pergi pagi pulang petang untuk bekerja, perempuan pun sama. Kalau bekerja di rumah pun, perempuan terpaksa punya jam kerja yang sama panjangnya dengan laki-laki. 

Bagi laki-laki, yang secara fitrah memang peran utamanya peran ekonomi, hal itu tidak masalah. Namun bagi perempuan, yang peran utamanya bukan peran ekonomi, tentu membawa dampak negatif. Ibarat seorang pemain film, jika ia mendapatkan dua peran sekaligus, tentu bagiannya untuk syuting lebih panjang. Tugasnya menghafal naskah dua kali lipat. Capeknya juga dua kali lipat.

Begitu pula perempuan yang berperan ganda. Justru peran utama perempuan yaitu mengurus rumah, mengasuh dan mendidik anak, tidak bisa dijalankan dengan baik. Termasuk, tidak maksimal dalam menjalankan peran keistrian. Ketika ia fokus menjalankan peran ekonomi, peran sebagai istri pendamping suami terkikis. Kelelahan fisik dan mental, membuatnya tidak punya banyak energi untuk melayani suami. Gairahnya hilang, yang ada tinggalah tenaga sisa. 

Belum lagi peran keibuan, di mana ia tidak dapat hadir membersamai tumbuh kembang anak-anak secara intensif. Pagi-pagi saat ia pergi, anak masih tidur. Di tempat kerja, hanya bisa bervideo-call dengan anaknya yang sedang bersama pengasuhnya. Pulang kerja, anak-anak sudah tidur. Atau jika masih melek, ibu sudah kehabisan energi untuk sekadar menyimak celoteh sang anak. 

Naluri keibuannya terusik. Di satu sisi, ada rasa bersalah tidak dapat mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Di sisi lain ia mengkhawatirkan masa depan diri dan anak-anaknya, jika ia tidak ikut berdiri memperjuangkan ekonomi keluarganya. Pilihan yang sangat dilematis.

Tentu saja, beban stres perempuan pencari nafkah juga tinggi. Ia harus terus menerus memikirkan pekerjaan kantor sekaligus pekerjaan rumah, bagaimana mengkompromikannya agar berjalan sebaik mungkin. Tekanan dalam pergaulan, penampilan, gaya hidup dan persaingan di sektor ekonomi, bukanlah perkara mudah bagi perempuan yang perasa.

Peran Ideal

Islam menggariskan perempuan untuk menjalani peran yang berbeda dengan laki-laki. Sebuah peran yang unik, yang paling ideal dikerjakan oleh perempuan. Peran yang strategis dan mulia, walaupun tidak mendatangkan uang. Di sinilah perempuan dapat memberdayakan dirinya secara maksimal.

Pertama, peran sebagai hamba Allah. Seorang individu Muslimah yang wajib taat kepada Allah SWT, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mendidik diri agar ber-syakhsiyah Islamiah. Memiliki pemahaman Islam yang kaffah, mulai aqidah sampai syariah. Mengembangkan potensi dirinya menjadi versi terbaik seorang Muslimah. 

Kedua, peran keuamatan, yaitu berkontribusi pada tugas sosial kemanusiaan dan politik. Amal saleh di ranah publik, khususnya di komunitas sesama perempuan. Di sini perempuan paling peduli dengan urusan masyarkat, seperti mengurus anak-anak yatim piatu, menyantuni janda, membantu korban perang atau bencana alam. 

Perempuan adalah penggerak kebaikan di lingkungan tempat ia tinggal. Seperti menjenguk tetangga yang sakit, membantu dan peduli pada yang kekurangan, bergotong royong dan sebagainya. Juga, peran politik sebagai pengoreksi penguasa dan berdakwah untuk mencerdaskan sesama kaum perempuan. 

Ketiga, peran keistrian, yaitu sebagai pendamping suami. Cakap menjadi sahabat terdekat suami, hingga ada saling kecenderungan di antara keduanya. Cakap mengurus rumah tangga, mengelola keuangan keluarga, merapikan rumah, melayani kebutuhan suami dan menjaga hartanya. Cakap dalam berkomunikasi dan menjadikan relasi dengan suaminya harmonis, penuh suka cita dan kebahagiaan.

Keempat, peran keibuan, yaitu tugas sebagai ummu warobbatul bayt, pengatur rumah tangga, pengasuh dan pendidik anak. Di sini perempuan sebagai pendidik pertama dan utama generasi penerus bangsa. Tugas penting dan mulia yang tidak bisa digantikan oleh siapapun.

Kelima, peran kenegaraan atau peran politik, yaitu memiliki kepedulian terhadap aspek politik. Bisa berkiprah langsung secara praktis dalam aspek politik pemerintahan, bisa juga sebagai rakyat yang melakukan muhasabah kepada penguasa.

Itulah peran yang diharapkan dalam sistem kehidupan seorang perempuan. Pemberdayaan atas peran unik tersebut yang seharusnya digencarkan. 

Peran Laki-laki

Adapun laki-laki, punya peran unik yang juga hanya ideal jika dilakukan oleh laki-laki. Mereka punya tugas yang strategis yang berbeda, hingga terciptalah keseimbangan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. 

Pertama, peran individu, sama seperti halnya perempuan, ia wajib membina dirinya agar berkepribadian Islam yang kuat dan kaffah.

Mampu mendidik dirinya dengan akhlak yang mulia. Siap menerima amanah sebagai laki-laki, berupa taklif hukum dari Allah Swt.

Kedua, peran politik keumatan, di mana laki-laki harus melek dengan tata cara pengurusan rakyat. Baik sebagai praktisi dalam pemerintahan maupun rakyat biasa, harus mampu menjalankan amanah untuk muhasabah kepada penguasa. Selain itu, juga amanah untuk berdakwah sebagai kewajiban yang harus dipikul setiap muslim.

Ketiga, peran kepemimpinan dalam rumah tangga. Cakap menjadi pendamping istri. Bijak membuat keputusan untuk kebaikan keluarga. Mampu membimbing istri, bersahabat dekat dengannya, hingga berdua dapat mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

Keempat, peran ekonomi, yaitu kecakapan dalam mencari nafkah. Gigih, rajin, sungguh-sungguh dan kreatif dalam mencari uang. Kelima, peran keayahan, yaitu cakap dalam mendidik anak-anaknya, karena itu bukan tugas istri semata.

Demikianlah, jika laki-laki dan perempuan dapat menjalankan perannya masing-masing dengan baik, insyallah akan terwujud keseimbangan. Tidak ada lagi kemiskinan, jika laki-laki berdaya. Tidak ada perceraian, jika rumah tangga sejahtera. 

Tidak ada anak-anak yang gagal, jika dibesarkan dalam keluarga yang harmonis dan bahagia. Namun, semua itu butuh sistem hidup yang ideal, yaitu sistem Islam. Di mana negera ikut memberdayakan suami dan istri sesuai syariat Islam.(*)


Oleh: Kholda Najiyah
Founder Salehah Institute
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar