Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kepribadian Umat Rusak, Buah Sistem Sekularisme


Topswara.com -- Saat ini aktivitas manusia lebih banyak dilakukan di media sosial. Baik dari handphone, laptop, komputer dan banyak alat teknologi informasi lainnya. 

Handphone adalah salah satu benda yang paling banyak digunakan oleh sekumpulan manusia. Sebab, benda kecil ini mampu menelusuri banyak informasi dengan cepat. Semua bisa dilakukan di media sosial dari berbagai bisnis, mengakses informasi dan berbagai keperluan bisa didapatkan. 

Namun tidak sedikit dampak buruk dari media sosial ini. Banyak oknum-oknum yang menyalahgunakan kecanggihan teknologi menjadi tempat perjudian online, penjualan narkoba, menyebarkan pornografi dan lain-lain. 

Media sosial juga menjadi tempat untuk menunjukkan eksistensinya dan menerapkan flexing agar orang lain mengakui keberadaannya. Dan ini banyak dilakukan oleh umat muslim sendiri. Memperlihatkan kemewahan seperti barang-barang branded, baik dari baju, sepatu, tas, motor, mobil, dan lainnya. 

Namun bagaimana halnya eksistensi yang dilakukan oleh remaja satu ini? Bukan kemewahan dan keglamoran, melainkan sebuah cara untuk meraih perhatian, akan tetapi malah berakhir tragis. 

Seperti yang dilansir oleh CNN Indonesia, seorang perempuan di Leuwiliang, Kabupaten Bogor ditemukan tewas dengan kondisi leher menggantung di sebuah tali. Korban berinisial W (21 tahun) tersebut tewas saat membuat konten candaan gantung diri di hadapan teman-temannya via video call. 

Berawal dari sebuah candaan sebelum melakukan aktivitas live, perempuan berinisial W tersebut berniat menunjukkan terlebih dahulu pada teman-temannya melalu video call. Namun tak disangka akan berakhir dengan kematian. Candaan berujung kematian tepatnya.  

Eksistensi Diri yang Diprioritaskan dan Budaya Flexing

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), eksistensi berarti keberadaan. Kata ini mengacu pada kata dasar eksis. Eksis selain memiliki arti ada dan berkembang, juga bisa berarti dikenal, tenar dan populer. 

Tenar, dikenal dan populer kini menjadi sebuah prioritas bagi sebagian kalangan pengguna media sosial, terutama remaja itu sendiri. Melakukan berbagai cara untuk menunjukkan pada dunia. 

Tidak menimbang-nimbang perilaku tersebut bersifat baik atau buruk, aman atau membahayakan, yang terpenting adalah menunjukkan pada dunia bahwa dia bisa. Padahal manusia memiliki batas kuasa terhadap dirinya. Tidak sedikit di antara mereka yang sampai merenggang nyawa karena unjuk eksistensi. Ini terjadi pada seorang laki-laki sekitar dua tahun lalu. 

Dikutip dari kompas.com, Kamis (15/7/2021), sebuah video yang memperlihatkan seorang remaja laki-laki tewas akibat terlindas truk saat melakoni suatu tantangan viral di media sosial. Yang mana sudah terpampang di depan mata bahayanya. 

Namun dengan kesalahan dalam unjuk eksistensi, diterimalah tantangan tersebut dan berakibat fatal. Peristiwa yang berbeda, namun berakhir sama, demi konten seorang perempuan di Leuwiliang, Kabupaten Bogor melakukan aktivitas yang menantang maut, candaan gantung diri dan akhirnya benar-benar tewas.

Selain eksistensi, masyarakat sendiri menjadikan flexing sebagai budaya. Flexing bermakna suatu kebiasaan seseorang untuk memamerkan apa yang dimilikinya di media sosial. Perilaku ini bagaikan ada kesenangan tersendiri dalam melakukannya, kesannya seperti mencari perhatian dengan menunjukkan keglamorannya. 

Tujuannya untuk mendapatkan apresiasi, likes dan komentar dari orang sekitar. Sayangnya, ini tidak sekali dua kali, tetapi akan terus menerus dan nagih. Ini seperti virus, susah untuk lepas apabila sudah terjangkit. Karena aksinya menjadikan perbuatan tersebut sebagai perbuatan yang benar. 

Beberapa hari lalu, viral seorang anak pejabat yang menunjukkan aksinya dalam memamerkan barang-barang yang harganya terbilang mahal. Dilansir dari detik.com, geger di media sosial aksi anak pejabat memamerkan harta. 

Setelah beberapa waktu lalu heboh anak pejabat pajak, Mario Dandy Satriyo (20) yang ketahuan sering memamerkan mobil dan motor mahal. Kini giliran putri dari Kepala Bea Cukai Makassar, Andhi Pramono yang disoroti netizen gara-gara sering memamerkan pakaian mahal seharga puluhan juta rupiah lewat media sosialnya.

Kini budaya flexing bahkan menjadi ajang perlombaan di media sosial. Sehingga tidak heran apabila yang sedang trend akan cepat mereka miliki dan dengan cepat pula dipamerkan di media sosial tanpa peduli pada manfaatnya. Yang aksinya itu akan diakhiri setelah mendapatkan pujian atau hujatan. Ini tidak hanya terjadi di media sosial dan digitalisasi, tapi juga di kehidupan nyata.

Taraf Berpikir Rendah dalam Sistem Sekularisme

Di era digitalisasi dan media sosial menjadi sangat mudah untuk anak muda mengembangkan kemampuan dan potensinya. Kecanggihan teknologi seharusnya mampu mencetak generasi yang cerdas, namun fakta mengatakan hal yang justru sebaliknya. 

Dengan banyaknya akses internet yang luas tidak menjamin generasi berada dalam 'kawasan' yang benar. Justru menjadi taraf berpikir yang rendah terutama bagi remaja. Sebab, di media sosial baik dan buruk menjadi satu, tidak lagi dikenai pelanggaran. 

Semua akses internet bisa dibuka tanpa blur, dari yang berkaitan dengan kekerasan, kriminalitas, pornografi, semua bebas untuk dijangkau dan disebarluaskan. 

Berawal dari tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab dan kurangnya pengawasan dan keamanan ketat oleh negara, sehingga membuat media sosial dan digitalisasi tidak lagi aman untuk remaja. 

Ini adalah bukti kerusakan penerapan sistem sekularisme yakni pemisahan agama dari kehidupan. Aturan agama disingkirkan dan kedaulatan berada di tangan manusia. 

Sehingga manusia dengan mudahnya mengatur sesuai keinginannya. Kebenaran dan kesalahan pun menjadi sama. Halal dan haram juga tidak bisa dibedakan. 

Akibatnya dari sistem sekularisme beserta turunannya kapitalisme ini lahirlah perbuatan-perbuatan yang akan dikendalikan oleh keinginan dan ego manusia sendiri. Mereka mengedepankan keuntungan dan manfaat dari materi tersebut tanpa mempedulikan kemudharatan di dalamnya. 

Dikendalikan oleh keinginan dan ego sudah tidak asing lagi, kini dapat ditemukan dengan mudah di media sosial, juga lingkungan sekitar. Berlomba-lomba dalam menunjukkan eksistensinya melalui konten serta memarkan keglamoran untuk 'menerapkan' flexing. Kebanyakan dari mereka melakukannya untuk meraih viewers dan followers, hingga menjadi ladang untuk mencari materi. 

Sehingga faedah atau non faedahnya tidak dipertimbangkan, membawa pengaruh buruk atau baik, cara yang digunakan salah atau benar. 

Begitu juga ketika melakukan flexing, demi sebuah pengakuan rela memamerkan apa saja, baik dari rumah mewah, barang-barang mahal, bahkan sampai tubuh elok pun ditampakkan hanya untuk meraih perhatian. Ini adalah bukti cara yang salah, meraih kebahagiaan dan kesenangan ala kapitalisme. 

Akibatnya, rasa empati terhadap sesama manusia pun hilang, terlahirlah di dalamnya generasi yang membangkang, gila harta dan kemewahan. Karena yang mereka tonton, yang didapat hanyalah materi. "Bagaimana cara mendapatkannya dan akan diapakan materi ini?" Begitulah kira-kira pemikiran umat sekuler saat ini. 

Eksistensi yang terlalu dijadikan prioritas dan budaya flexing adalah potret nyata bahwa umat saat ini sedang berada dalam taraf berpikir yang rendah. Demikianlah kapitalisme menjadikan umat tidak lagi fokus pada tujuan dalam hidup yaitu beribadah kepada Allah SWT.

Selain itu, kualitas pendidikan saat ini tidak mampu membentuk kepribadian generasi. Sebab sistem saat ini mengokohkan aturan sekulernya dalam dunia pendidikan. Sangat minimalis pendidikan agamanya, sedangkan pendidikan di bidang yang instan atau dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan begitu dominan diajarkan. 

Walhasil, pemahaman agama dan keimanan dalam diri generasi semakin terkuras habis. Generasi yang dihasilkan hanya fokus pada kerja untuk meraih materi dan jabatan untuk diakui ke depannya. 

Cara Islam Membentuk Syakhsiyyah Umat

Eksistensi dan budaya flexing yang berlaku saat ini adalah wujud dari penerapan sekularisme kapitalisme. Sistem ini membuka jalan seluas-luasnya untuk masyarakat bebas berekspresi. 

Dengan meliberalisasi cara ekspresi, resiko menjadi urusan belakangan. Baik taraf berpikir yang rendah sampai begitu tidak pentingnya keselamatan jiwa. Sedangkan dalam Islam, manusia harus memahami tujuan dalam hidupnya. Memahami bahwa dia adalah hamba Allah SWT. Yang mana hamba harus beribadah kepada penciptanya. 

Allah SWT berfirman; 

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya; Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Az Dzariyat : 56)

Beribadah yang dimaksud adalah taat kepada Allah. Tunduk dan patuh terhadap perintah dan laranganNya. Dan terikat akan syariat Allah SWT dan Rasulullah SAW. 

Menurut Ibnu Taimiyyah, ibadah adalah kerendahan hati dan rasa cinta kepada Allah SWT yang timbul dari hati seorang hamba. Makna cinta adalah takut kepada Allah, menjalankan perintah dan menjauhkan laranganNya, serta manaati syariatNya. Dengan menjalankan syariat Islam umat akan menjadikan orientasi hidupnya untuk meraih ridha Allah SWT. Mengoptimalkan potensi yang dimilikinya hanya untuk memuliakan Islam dan membantu kepentingan umat muslim. 

Selain itu, ada pendidikan Islam yang akan melahirkan generasi yang bersyakhsiyyah Islam. Yakni pola pikir dan pola sikapnya sesuai dengan syariat Islam. Menjadikan generasi yang taat dan menjalankan amar makruf nahi mungkar. Segala aktifitasnya akan disuasanakan dengan Islam. 

Sehingga tidak ada prilaku riya' dan unjuk eksistensi yang salah. Pastinya akan membuatnya takut akan balasan di akhirat kelak, sebab keduanya tidak dianjurkan dalam Islam. 

Generasi lebih mementingkan kepentingan umat daripada hal yang tidak ada faedahnya untuk Islam itu sendiri. Sama halnya dengan kehidupan sosial, yang dalam Islam harus diatur oleh syariat. Dan media dalam Islam adalah untuk mengedukasi umat terhadap syariat Islam, menambah pengetahuan mereka terhadap sains, politik luar negeri dan ilmu lainnya. 

Namun saat ini bukan sistem Islam yang diterapkan, sehingga sulit membentuk syakhsiyyah Islam dalam diri umat. Maka, butuh syariat Islam diterapkan secara kaffah dalam institusi daulah khilafah untuk menaungi umat. 

Daulah khilafah ini tidak akan berdiri apabila tidak ada kesadaran pada diri umat. Kesadaran bahwa saat ini umat membutuhkan yang namanya syariat Islam yang akan memecahkan setiap problematika kehidupannya. 

Pastinya, untuk mendapatkan hasil yang dijanjikan Allah SWT harus butuh perjuangan dalam mencapainya. Berjuang untuk mengembalikan khilafah Islamiah, yakni dengan dakwah ideologis bersama kelompok ideologis. 

Wallahu 'alam.


Oleh: Reni Fitriani
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar