Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya (Bagian satu)


Topswara.com -- Al-Azhari berkata, “Arti cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.” Al-Baidhawi berkata, “Cinta adalah keinginan untuk taat.” Ibnu Arafah berkata, “Cinta menurut istilah orang Arab adalah menghendaki sesuatu untuk meraihnya.” Al-Zujaj berkata, “Cintanya manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati keduanya dan ridha terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah SAW.”

Sedangkan arti cinta Allah kepada hamba-Nya adalah ampunan, ridha dan pahala. Al-Baidhawi berkata ketika menafsirkan firman Allah:

"Niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." (QS. Ali ‘Imrân: 31)

Maksudnya, pasti Allah akan ridha kepadamu. Al-Azhari berkata, “Cinta Allah kepada hamba-Nya adalah memberikan kenikmatan kepadanya dengan memberi ampunan.” Allah berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir." (QS. Ali ‘Imrân: 32)

Maksudnya, Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Sufyân bin Uyainah berkata, “Arti dari niscaya Allah akan mencintaimu adalah Allah akan mendekat padamu. Cinta adalah kedekatan. Arti Allah tidak mencintai orang-orang kafir adalah Allah tidak akan mendekat kepada orang kafir.” Al-Baghawi berkata, “Cinta Allah kepada kaum Mukmin adalah pujian, pahala, dan ampunan-Nya bagi mereka.” Al-Zujaj berkata, “Cinta Allah kepada makhluk-Nya adalah ampunan dan nikmatnya-Nya atas mereka, dengan rahmat dan ampunan-Nya, serta pujian yang baik kepada mereka."

Yang menjadi fokus kami dalam bab ini adalah cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta dalam arti yang telah disebutkan di atas merupakan suatu kewajiban. Karena mahabbah (cinta) merupakan salah satu kecenderungan yang akan membentuk nafsiyah seseorang. Kecenderungan ini terkadang berupa perkara alami yang berbentuk naluri yang bersifat fitri (sesuai dengan penciptaan Allah). Naluri seperti ini tidak berhubungan dengan mafhum (pemahaman) apa pun seperti kecenderungan manusia terhadap kepemilikan, kecintaan pada kelestarian dirinya, kecintaan pada keadilan, keluarga, anak, dan sebagainya. Namun kecenderungan ini terkadang juga merupakan dorongan yang berhubungan dengan mafhum tertentu. Mafhum inilah yang nantinya akan menentukan jenis kecenderungan tersebut. Misalnya, bangsa Indian, mereka tidak mencintai bangsa Eropa yang bermigrasi ke negeri mereka (karena menjajah mereka, penj.). Sementara itu, kaum Anshar mencintai orang-orang Muhajirin (dari Makkah) yang berhijrah ke mereka (Madinah). Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jenis kecintaan yang terikat dengan mafhum syar’i, yang telah diwajibkan oleh Allah. Dalil dari Al-Qur'an tentang hal ini adalah:

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang 1menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Ada pun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." (QS. al-Baqarah: 165)

Maknanya, orang-orang beriman itu lebih besar kecintaannya kepada Allah dibandingkan dengan kecintaan orang-orang musyrik kepada Tuhan-Tuhan tandingan selain Allah.

Katakanlah, “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri- isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS. at-Taubah: 24)

Adapun dalil dari As-Sunnah di antaranya adalah:

Dari Anas, sesungguhnya Nabi SAW bersabda:

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kiamat. Ia berkata, “Kapan terjadinya kiamat ya Rasulullah?” Rasul berkata, “Apa yang telah engkau siapkan untuknya?” Laki-laki itu berkata, “Aku tidak menyiapkan apa pun kecuali sesungguhnya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasul saw. berkata, “Engkau bersama apa yang engkau cintai.” Anas berkata; Kami tidak pernah merasa bahagia dengan sesuatu pun yang membahagiakan kami seperti bahagianya kami dengan perkataan Nabi, “Engkau bersama apa yang engkau cinta”, Anas kemudian berkata, “Maka aku mencintai Nabi, Abû Bakar, dan Umar. Dan aku berharap akan bersama dengan mereka karena kecintaanku kepada mereka meskipun aku belum bisa beramal seperti mereka.” (Mutafaq ‘alaih)

Dari Anas RA, sesungguhnya Nabi SAW bersabda:

"Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lainnya; orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah; dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke Neraka." (Mutafaq ‘alaih)

Dari Anas ra., ia berkata; telah bersabda Rasulullah SAW:

"Tidak beriman seorang hamba hingga aku lebih dicintai dari pada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia yang lainnya." 
(Mutafaq‘alaih)

Para sahabat Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh untuk menerapkan kewajiban ini. Mereka senantiasa berlomba untuk mendapatkan kemuliaan ini karena ingin termasuk golongan orang-orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Bukti akan hal ini adalah:

Diriwayatkan dari Anas ra., ia berkata:

Ketika perang Uhud kaum Muslim berlarian meninggalkan Nabi saw. Abû Thalhah sedang berada di depan Nabi saw., melindungi beliau dengan perisainya. Abû Thalhah adalah seorang pemanah yang sangat cepat lemparannya. Pada saat itu ia mampu menangkis dua atau tiga busur panah. Kemudian ada seorang lelaki yang lewat. Ia membawa satu wadah anak panah kemudian berkata, “Aku akan menebarkannya untuk Abû Thalhah”. Kemudian Nabi saw. berdiri tegak melihat orang-orang. Maka Abû Thalhah berkata, “Ya Nabiyullah, demi bapak dan ibuku, engkau jangan berdiri tegak, nanti panah orang-orang akan mengenaimu. Biarkan aku yang berkorban jangan engkau....” (Mutafaq ‘alaih)

Qais berkata:

"Aku melihat tangan Abû Thalhah menjadi lumpuh, karena dengan tangannya itulah ia telah menjaga Nabi SAW, pada saat perang Uhud." (HR. al-Bukhâri)

Ditulis kembali oleh: Achmad Mu'it

Disadur dari buku: Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah, Jakarta, Cetakan ke-5, April 2008
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar