Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Palestina Butuh Tentara, Bukan Sekadar Retorika


Topswara.com -- Tanah para nabi kembali berduka. Serangan brutal Israel selama sebelas hari telah memorakporandakan bumi Palestina. Ratusan orang meninggal, ribuan lainnya terluka sekaligus kehilangan tempat tinggal. Satu yang pasti, setiap agresi Israel terjadi, kecaman dan kutukan juga terus menggema di banyak negara, tak terkecuali negeri ini. 

Di antara partisipasi Indonesia untuk mengupayakan pembebasan Palestina adalah dengan menggelar pertemuan darurat bersama Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Pertemuan tersebut dihadiri oleh enam belas menteri dan wakil menteri luar negeri negara-negara anggota OKI. Indonesia sendiri diwakili oleh Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi. Dalam pidatonya, Retno menyebutkan tiga langkah kunci membela Palestina. Pertama, memastikan adanya persatuan, Kedua, OKI harus mengupayakan gencatan senjata sesegera mungkin. Ketiga, OKI juga harus tetap membantu kemerdekaan Palestina. (detik.com, 16/5/2021)

Tidak hanya mencari solusi bersama negara-negara OKI, Indonesia juga turut menghadiri pertemuan dengan Dewan Keamanan PBB guna membahas konflik Palestina-Israel. Bahkan di tengah ketegangan dua negara tersebut, Presiden Amerika Serikat Joe Biden meminta Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk menggerakkan kelompok Hamas agar menghentikan serangan roket ke Israel. Demi terciptanya perdamaian, Biden menekankan pada solusi dua negara yang diyakini sebagai jalan terbaik dan abadi dalam menyelesaikan konflik Israel-Palestina. (detik.com, 17/5/2021)

Konflik Abadi tetapi Solusi Setengah Hati

Pendudukan Israel atas Palestina mencatat sejarah panjang dan memilukan. Tak hanya terus berulang, konflik tersebut menyisakan duka mendalam di pihak Palestina. Sejak pengumuman pendirian negara Israel pada tahun 1948, Israel terus menganeksasi wilayah Palestina. Mencaplok tanahnya hingga 77 persen dan mengusir dua pertiga rakyat Palestina dari negeri mereka. Hingga kini, entah berapa banyak darah kaum muslim tertumpah karena keserakahan dan kebrutalan Israel. Meski kecaman demi kecaman datang sebagai bentuk pembelaan terhadap Palestina, nyatanya tidak mengubah pendirian Israel untuk terus membombardir dan menguasai Palestina.

Sejak pertempuran berlangsung pada 10 Mei hingga disepakatinya genjatan senjata pada Jumat (21/5), sebanyak 232 warga Palestina terbunuh termasuk 65 di antaranya adalah anak-anak. Sementara korban terluka ada sekitar 1.900 orang. Sebagaimana dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan Gaza, yang dilansir kantor berita AFP. (detik.com, 21/5/2021)

Anehnya, meski Israel telah melakukan kejahatan perang dan penjajahan atas Palestina, sikap diam justru ditunjukkan oleh penguasa negeri-negeri muslim, terutama dunia Arab. Andaipun ada pembelaan, hal itu hanya sebatas kecaman, kutukan, maupun bantuan makanan. Padahal, tindakan mengecam dan mengutuk yang terus berulang tidak pernah membuat zionis Israel takut.

Diamnya dunia muslim dan negara-negara Arab menjadi sinyal adanya kepentingan negara-negara tersebut dengan Israel maupun AS. Sebagai informasi, di akhir masa pemerintahan Donald Trump, Israel telah melakukan normalisasi dengan empat negara Arab. Yakni Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan. Perjanjian yang dibuat di AS dengan nama 'Kesepakatan Abraham' menjadi penanda bahwa negara-negara Arab tersebut tidak sekadar menormalisasikan hubungan dengan Israel, tetapi juga melakukan kerja sama di beberapa sektor.

Sektor-sektor yang mereka anggap menguntungkan dari kerja sama dengan Israel antara lain, perdagangan, pariwisata, riset medis, ekonomi hijau, pembangunan saintifik, keamanan, dan intelejen. Di sisi lain, masih tingginya ketergantungan dunia muslim dan negara-negara Arab terhadap Amerika Serikat, menjadikan pembelaan mereka terhadap Palestina hanya sekadar retorika belaka.

Buktinya, sejak awal pendudukan Israel terhadap Palestina, tidak pernah secuil pun kemerdekaan sebagai bangsa berdaulat dirasakan oleh Palestina. Bahkan, beragam resolusi Dewan Keamanan PBB  tidak mampu membebaskan Palestina dari kejamnya penjajahan. Pembelaan yang hanya retorika dan pencitraan justru semakin mempertahankan eksistensi Israel di bumi Palestina. 

Jihad, Solusi Hakiki Membebaskan Palestina

Krisis Palestina tidak hanya bisa diselesaikan  dengan pembelaan setengah hati. Selama negara Arab dan dunia Islam masih menaruh ketergantungan besar terhadap AS, maka kepongahan Zionis Israel akan terus terpelihara dengan terus mencaplok dan menjajah Palestina. Pada akhirnya, agresi Israel akan terus berulang, sedangkan kemerdekaan Palestina hanyalah angan-angan.

Palestina butuh solusi hakiki untuk bebas dari penjajahan. Sebab, Palestina adalah tanah wakaf kaum muslim yang harus dijaga dan tidak boleh dimiliki oleh siapa pun, baik sebagian kecil apalagi sebagian besar. Karena itu, resolusi DK PBB berupa solusi dua negara sama saja memberikan tanah kharajiyah Palestina kepada penjajah.
 
Sejatinya, opini dibalas opini. Perang fisik harus dibalas dengan kekuatan fisik pula. Inilah yang dikenal dalam Islam sebagai aktivitas jihad. Hanya dengan tegaknya daulah Islam, Palestina dan seluruh kaum muslim akan dijaga dan dilindungi dari berbagai bentuk kezaliman. Hanya dengan jihad pula, Zionis Israel akan diperangi dan dihapuskan dari tanah para nabi. Sebagaimana pembebasan Palestina yang pernah dilakukan oleh Umar bin Khathtab pada tahun 15 H. Juga pembebasan kembali tanah Palestina oleh Salahuddin al-Ayyubi. Semuanya itu dilakukan melalui jihad.

Sekali lagi, jihad adalah satu-satunya jalan untuk membebaskan al-Quds dan Palestina. Bukan dengan perdamaian, apatah lagi sekadar retorika belaka yang tidak mampu memberi dampak apa pun. Di bawah naungan khilafah, maka tanah, darah, harta, dan nyawa kaum muslim dilindungi. Demikian juga para penguasa (khalifah) akan menjadi perisai terhadap seluruh rakyatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
Imam (khalifah) itu laksana perisai; kaum muslim diperangi (oleh kaum kafir) di belakang dia dan dilindungi oleh dirinya (HR Muslim).
Wallahu 'alam bishshawab []


Oleh: Sartinah
(Pemerhati Masalah Publik)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar