Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Sumpah Pemuda versus Susah Pemuda: Ketika Sistem Tak Ramah Anak, Para Ibu Subang Bangkit Mengingatkan


Topswara.com -- Di tengah riuh peringatan Sumpah Pemuda, ratusan kilometer dari panggung seremonial para pejabat, sebuah pertanyaan yang jauh lebih jujur diajukan di Masjid Darul Mustanir, Subang: generasi pencetak sejarah, atau generasi pembuat resah?

Pertanyaan itu menggema di hadapan kurang dari seratus peserta MT Khairul Ummah Subang. Mereka datang dari majelis-majelis taklim wilayah Kalijati, Dawuan, Purwadadi, Pagaden, dan Subang Kota. Para ibu, yang sehari-hari bergulat dengan layar ponsel anak-anaknya, pagi itu (01/10/2026) duduk menyimak dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kegelisahan: anak-anak kami sedang kenapa?

Dari Sumpah Keramat ke Susah yang Dibuat Sendiri

Hadir sebagai pemateri, Ummu Jihan dari Kalijati membuka dengan membandingkan dua potret. Tahun 1928, para pemuda bersumpah bersatu demi memerdekakan negeri. 

Hari ini, katanya, tidak sedikit remaja justru mengeluh hidup berat dan pening tujuh keliling, padahal banyak bebannya lahir dari kebiasaan yang mereka pelihara sendiri: terpenjara layar, gemar jalan pintas, malas bergerak. Ia menyebut empat "wabah" yang kini menggerogoti pemuda.

Pertama, ilusi cuan cepat. Judi online berawal dari modal receh dan rasa penasaran, lalu menyeret korbannya ke pinjaman online, saldo minus, dan timbunan utang. "Yang kalah penasaran, yang menang ketagihan," begitu rumus abadinya. Ujungnya hanya satu: menyusahkan.

Kedua, raja di dunia virtual, pecundang di dunia nyata. Game online berubah dari hiburan menjadi prioritas utama. Jam tidur kacau, prestasi sekolah merosot, sementara peringkat di dunia maya terus naik.

Ketiga, krisis adab. "Bentar, Bu, aku lagi mabar!" adalah kalimat yang kini akrab di telinga para ibu. Sopan santun di rumah luntur digerus layar, komunikasi menjadi seret, bahkan ada yang berani ngegas ketika ditegur orang tua.

Keempat, berhala viral dan sindrom sultan sehari. Demi konten FYP, remaja rela melakukan tantangan konyol, prank menyakitkan, dan gaya hidup boros berlabel branded. Ingin kaya tanpa menabung, ingin tenar tanpa karya.

Jangan Hanya Salahkan Anak

Namun inti pesan malam itu bukan sekadar menunjuk kesalahan remaja. Para peserta diajak membongkar akar masalah yang lebih dalam: sistem hidup hari ini memang tidak ramah untuk anak.

Coba lihat tekanan yang dipikul generasi muda. Kerja belasan jam dengan upah murah dan ancaman PHK sewaktu-waktu. Harga sewa rumah yang melambung. Media sosial yang dijejali pamer kemewahan hingga memicu kecemasan permanen. 

Mereka lelah, stres, dan hampa. Dan apa jawaban sistem? Menjual "obat" yang sama kapitalistiknya dengan penyakitnya: retret mahal, aplikasi meditasi berbayar, kelas relaksasi jutaan rupiah. Ketenangan batin yang semestinya gratis disulap menjadi komoditas industri bernilai miliaran dolar.

Pola ini berputar seperti lingkaran setan. Sistem memeras tenaga, pemuda hancur secara mental, industri menjual solusi palsu, lalu pekerja kembali "tenang" sementara, siap diperas lagi. Pemuda disuruh berobat, tetapi yang membuatnya sakit dibiarkan utuh.

Di ruang digital pun demikian. Algoritma tidak peduli apakah seorang anak sudah tidur atau belum, sudah salat atau belum. Platform dirancang agar penggunanya betah, bukan agar penggunanya selamat. Ketika negara membiarkan pasar bebas menentukan apa yang dikonsumsi mata dan pikiran anak-anak kita, wajar bila yang tumbuh adalah generasi rebahan, bukan generasi pejuang.

Beda sekali dengan pemuda 1928 yang rela berjalan jauh, tidur di mana saja, bahkan mempertaruhkan nyawa demi cita-cita besar. Kini, tantangan terbesar justru tak terlihat: merdeka dari ketergantungan pada layar dan gaya hidup konsumtif.

Tiga Pilar Penjaga: Keluarga, Masyarakat, Negara

Di sinilah Ummu Jihan menekankan bahwa menyelamatkan generasi tidak bisa diserahkan kepada ibu seorang diri. Perlu tuntunan yang utuh dari tiga pilar.

Keluarga adalah benteng pertama. Orang tua bukan sekadar penyedia kuota dan uang jajan. Allah Swt. memerintahkan, "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS at-Tahrim: 6). Ini berarti hadir, mendampingi, membangun akidah dan adab sejak dini, serta memberi teladan nyata. Anak yang tak mendapat perhatian di rumah akan mencari perhatian di dunia maya.

Masyarakat adalah pagar yang menguatkan. Budaya amar makruf nahi mungkar harus hidup di lingkungan, di majelis taklim, di masjid, di antara tetangga. Ketika masyarakat acuh pada kemaksiatan yang terang-terangan, anak-anak kita akan menyimpulkan bahwa itu hal biasa.

Negara adalah pemangku kebijakan dan penanggung jawab terbesar. Rasulullah saw. bersabda bahwa pemimpin adalah raa'in, pengurus, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang diurusnya (HR Bukhari dan Muslim). 

Maka negara tidak boleh sekadar menjadi wasit yang menonton pasar bekerja. Negara wajib menutup pintu judi, pinjol, dan konten perusak, menjamin lapangan kerja yang layak, menyediakan pendidikan yang membentuk kepribadian Islam, serta memastikan keluarga tidak dipaksa menyerahkan anak-anaknya pada derasnya arus kapitalisme sekuler.

Tanpa pilar ketiga, para ibu hanya akan terus menambal perahu bocor sementara air terus masuk dari lambung yang lain.

Formula Anti-Rugi dan Standar Kebermanfaatan

Sebagai pegangan, Ummu Jihan mengajak peserta kembali pada QS al-'Ashr. Manusia benar-benar merugi kecuali yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. 

Dua unsur pertama menyempurnakan diri, dua unsur berikutnya menyempurnakan orang lain. Artinya, keselamatan seseorang tak lepas dari seberapa besar ia memberi manfaat bagi sekitarnya.

Standarnya pun jelas, sebagaimana sabda Nabi saw.: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (HR Thabrani), dan di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat (HR Tirmidzi). 

Para ibu diajak menanamkan pertanyaan sederhana pada anak-anaknya: berapa banyak waktumu hari ini terbuang untuk scrolling tanpa tujuan, dan berapa banyak yang berguna bagi orang lain?

Pesan untuk remaja pun disampaikan runtut. Mulailah dari muhasabah diri, tinggalkan yang sia-sia, dekatkan diri kepada Allah, lalu fokus berkarya dan memberi manfaat. "Jangan jadi beban, jadilah andalan," begitu kira-kira intinya: bantu orang tua tanpa disuruh, serius pada pendidikan, dan hadirkan rasa lega serta bangga bagi keluarga.

Menutup dengan Sumpah Baru

Acara ditutup dengan seruan yang menohok sekaligus menumbuhkan harapan. Jika pemuda dulu bersumpah untuk persatuan, pemuda hari ini harus bersumpah untuk menata dirinya di atas jalan Islam. Dan jika para pemuda bersungguh-sungguh, mereka tetap membutuhkan orang tua yang sadar, masyarakat yang peduli, serta negara yang benar-benar mengurus.

Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai nama di buku sejarah. Ia harus hidup kembali dalam diri generasi yang menjadi cahaya dan menjadi manfaat. Namun cahaya itu hanya bisa tumbuh subur bila sistem yang menaunginya berhenti menjadikan anak-anak sebagai korban dan pasar.

Seusai acara, para peserta pulang membawa pekerjaan rumah yang lebih besar daripada sekadar membatasi jam bermain gawai: mengembalikan fungsi keluarga, menghidupkan dakwah di tengah masyarakat, dan terus menyuarakan agar negara kembali pada perannya sebagai pelindung generasi.

Wallahu a'lam bish-shawab.


Aisah Salwi
Muslimah Kabupaten Subang 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar