Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Siapa Bilang Ibu Rumah Tangga Enggak Boleh Bicara Politik?


Topswara.com -- Katanya, ibu rumah tangga tidak perlu ikut campur urusan politik. Sudahlah, urus dapur saja. Masak, mencuci, mengurus anak, menunggu suami pulang, lalu tidur. Besok begitu lagi. Hidup seperti tombol pengulangan otomatis.

Kalau bicara politik, nanti dibilang sok tahu. Kalau mengkritik kebijakan pemerintah, ditanya, "Memangnya ngerti politik?" Kalau bicara ideologi, ada yang menyuruh kembali ke dapur.

Lho, memangnya dapur dan politik harus dipisahkan seperti minyak dan air?

Padahal, seorang ibu setiap hari berhadapan dengan berbagai persoalan yang berkaitan langsung dengan kebijakan negara. Harga beras naik, minyak goreng mahal, biaya pendidikan meningkat, lapangan pekerjaan sulit, biaya kesehatan membengkak. Siapa yang paling cepat merasakan dampaknya? Sering kali ibu rumah tangga.

Jadi, bagaimana mungkin ibu diminta tidak peduli politik, sementara hasil kebijakan politik justru masuk sampai ke dalam wajam dan panci?

Sobat Nabila, politik itu bukan sekadar urusan rebutan jabatan, pemilu, partai, pencitraan pejabat, atau drama elite yang kadang lebih ramai daripada sinetron tujuh turunan episode.

Dalam perspektif Islam, politik atau siyasah memiliki makna yang lebih luas, yakni ri‘āyatu syu’ūnil ummah (mengurusi urusan umat).

Politik dalam Islam bukan sekadar bagaimana mendapatkan kekuasaan, melainkan bagaimana mengatur urusan manusia berdasarkan syariat Allah.

Di sinilah perbedaannya dengan paradigma politik kapitalis-sekuler. Dalam sistem kapitalisme, praktik politik dapat sangat dipengaruhi kepentingan ekonomi, kekuatan modal, lobi kelompok, dan perebutan pengaruh. Agama ditempatkan sebagai urusan pribadi, bukan sebagai landasan pengaturan kehidupan publik.

Sementara dalam perspektif politik Islam, akidah menjadi landasan berpikir dan syariat menjadi pedoman pengaturan kehidupan. Kekuasaan merupakan amanah untuk mengurus rakyat, bukan mesin pencari keuntungan bagi penguasa maupun kelompoknya.

Maka, ibu rumah tangga yang memahami politik Islam bukan sedang mencari pekerjaan tambahan. Ia sedang memahami bagaimana kehidupan seharusnya diatur.

Jadi, menjadi ibu ideologis itu tidak cukup hanya rajin mengikuti kajian, mengoleksi buku, atau hafal istilah-istilah politik Islam. Ada pekerjaan rumah yang tidak kalah menantang.

Pertama, wajib jago mengelola emosi. Ini penting. Jangan sampai baru membaca berita politik, tekanan darah naik. Melihat komentar netizen, langsung ingin membalas dengan 17 paragraf dan 23 ayat sekaligus. Ibu ideologis harus mampu mengendalikan emosi. Tegas dalam prinsip, santun dalam komunikasi, dan tidak mudah terpancing provokasi.

Kedua, wajib jago mengelola uang suami. Jangan sampai bicara tentang ekonomi Islam, tetapi uang belanja tanggal 10 sudah habis tanggal 5. Membahas kapitalisme boleh, tetapi jangan lupa harga cabai, gas LPG, beras, listrik, dan kebutuhan anak.

Mengelola keuangan rumah tangga bukan berarti menjadi bendahara negara, tetapi latihan tanggung jawab, kecermatan, dan kesederhanaan. Apalagi kalau suami bertanya, "Kok uang belanja cepat habis?" Jawabannya jangan langsung, "Ini akibat sistem kapitalisme!"

Walaupun harga kebutuhan pokok memang layak menjadi bahan kritik, tetap harus ada catatan pengeluaran yang jelas. Wkwkwk.

Ketiga, wajib jago memasak. Ini bukan syarat menjadi muslimah ideologis, tetapi keterampilan hidup yang sangat bermanfaat. Jangan sampai sedang menjelaskan konsep perubahan sistem kehidupan, tetapi anak-anak di rumah sedang melakukan demonstrasi karena belum makan.

Dakwah jalan, dapur jangan sampai ditinggalkan. Boleh sibuk membahas persoalan umat, tetapi aroma masakan juga harus sesekali tercium dari dapur.

Keempat, wajib punya manajemen waktu. Ini tantangan sesungguhnya.
Ada kewajiban kepada Allah, ada suami, anak-anak, pekerjaan rumah, aktivitas dakwah, membaca, menulis, dan belajar. Kalau semua dikerjakan tanpa manajemen, yang terjadi bukan perubahan masyarakat, melainkan perubahan suasana hati setiap lima menit.

Ibu ideologis harus mampu menyusun prioritas. Tidak semua pekerjaan harus selesai dalam satu waktu. Ada hak keluarga, ada kewajiban dakwah, dan ada kebutuhan pribadi yang juga perlu dijaga.
Jangan sampai sibuk mengurus umat di media sosial, tetapi anak sendiri kesulitan mendapatkan waktu untuk bercerita.

Kelima, wajib melek politik. Nah, ini yang paling penting, sob. Ibu tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi yang menelan semua berita mentah-mentah. Harus belajar memahami kebijakan publik, ekonomi, pendidikan, hukum, hubungan internasional, dan persoalan umat.

Mengapa harga pangan terus menjadi persoalan? Mengapa pendidikan berkualitas sulit dijangkau sebagian masyarakat? Mengapa sumber daya alam yang melimpah belum otomatis menjadikan rakyat sejahtera? Pertanyaan seperti ini membutuhkan pemahaman politik dan ideologi, bukan sekadar keluhan di grup WhatsApp keluarga.

Ibu harus mampu membedakan fakta, opini, propaganda, dan kepentingan di balik sebuah kebijakan. Sebab, mendidik anak bukan hanya mengajarkan cara membaca dan berhitung, tetapi juga membangun cara berpikir agar mereka memahami kehidupan dengan benar.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan tentang pembentukan kepribadian Islam mengajarkan pentingnya membangun pola pikir dan pola sikap berdasarkan akidah Islam.

Artinya, seorang muslimah tidak cukup hanya memiliki semangat beragama, tetapi juga perlu memiliki pemahaman yang benar tentang bagaimana Islam mengatur kehidupan.

Peran ibu sangat strategis dalam membentuk generasi. Dari rumah, anak belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, keberanian menyampaikan kebenaran, kepedulian terhadap sesama, dan ketaatan kepada Allah.

Namun, jangan pula mempersempit peran perempuan hanya pada urusan domestik. Perempuan memiliki hak dan tanggung jawab untuk belajar, menyampaikan pendapat, berdakwah, serta berkontribusi dalam kehidupan masyarakat sesuai ketentuan syariat.

Jadi, siapa bilang ibu rumah tangga tidak boleh bicara politik?

Justru ibu harus memahami politik agar tidak mudah dibodohi janji-janji kampanye, tidak gampang terjebak propaganda, dan tidak menganggap persoalan umat sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupannya.


Nabila Zidane
Jurnalis
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar