Topswara.com -- Kasus dugaan percobaan bunuh diri kembali terjadi di lingkungan kampus. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melompat dari lantai 6 gedung kampus pada Kamis (10/9/2026).
Beberapa hari sebelumnya, kasus serupa terjadi di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. Pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia pada Minggu (6/9/2026) dini hari.
Diketahui sebelumnya, FS sempat mengunggah pesan perpisahan di laman media sosialnya dan mendonasikan uang sebesar Rp40 juta untuk komunitas kesehatan mental. (kompas.id,10/09/2026)
Dua peristiwa tersebut terjadi di tengah persoalan kesehatan jiwa yang kini tengah mendapat perhatian. Kementerian Kesehatan telah menyediakan layanan Healing199.id untuk memberikan dukungan psikologis awal bagi masyarakat yang mengalami tekanan, keputusasaan, pikiran bunuh diri, atau krisis psikologis.
Kemenkes juga menegaskan bahwa masalah kesehatan jiwa kerap tidak terlihat dari luar dan pentingnya lingkungan yang peka terhadap kondisi orang di sekitarnya.
Yang menjadi perhatian adalah, berbagai persoalan itu muncul di tengah kehidupan yang semakin ramai dan terkoneksi. Anak muda memiliki kampus, tempat kerja, komunitas, media sosial, dan berbagai sarana komunikasi. Namun, banyaknya koneksi tidak otomatis membuat seseorang merasa memiliki tempat untuk bercerita dan bersandar.
Setiap kasus yang terjadi tentu memiliki latar belakang yang berbeda. Persoalan kesehatan jiwa juga tidak tepat disederhanakan sebagai akibat satu faktor saja.
Namun, ketika kesepian, tekanan psikologis, dan krisis pada generasi muda terus menjadi perhatian, layak dipertanyakan kehidupan seperti apa yang sedang kita bangun hingga seseorang bisa begitu ramai di luar, tetapi merasa sendirian ketika menghadapi persoalannya?
Di sinilah sekularisme dan kapitalisme perlu dikritisi. Sekularisme memisahkan agama dari pengaturan kehidupan. Akidah akhirnya cenderung ditempatkan sebagai urusan pribadi, sementara pendidikan, ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial berjalan dengan ukuran lain.
Generasi muda didorong untuk mengejar pendidikan dan kesuksesan, tetapi tidak selalu dibentuk dengan pemahaman yang kokoh tentang tujuan hidup dan bagaimana menghadapi ujian.
Kapitalisme kemudian memperkuat budaya individualistik. Sejak dini, seseorang diarahkan untuk berprestasi, menjadi yang terbaik, memperoleh pekerjaan bagus, berpenghasilan tinggi, dan membangun kesuksesan sendiri.
Sepintas tidak ada yang salah dengan target pencapaian tersebut. Persoalannya muncul ketika keberhasilan duniawi menjadi ukuran utama nilai diri.
Budaya positivity pun dapat berubah menjadi tekanan. Dia menjelma menjadi tekanan yang berbentuk dorongan untuk harus selalu kuat, produktif, optimistis, dan mampu mengatasi semuanya sendiri.
Ketika gagal mencapai standar tersebut, seseorang mudah merasa tertinggal. Di lain sisi paparan media sosial yang memperlihatkan kehidupan orang lain yang tampak sempurna semakin memperkuat kebiasaan membandingkan diri.
Akhirnya, manusia bisa memiliki banyak koneksi tetapi kehilangan kedekatan. Keluarga dan masyarakat tidak selalu menjadi tempat bertumpu karena setiap orang sibuk mengejar targetnya masing-masing. Inilah paradoks masyarakat sekuler kapitalistik. Individu dituntut kuat sendirian, sementara ikatan yang seharusnya menguatkannya justru semakin rapuh.
Islam membangun fondasi yang berbeda. Sejak dini, akidah ditanamkan sebagai dasar kehidupan. Seorang Muslim memahami bahwa hidup memiliki tujuan, yaitu beribadah kepada Allah. Kesulitan adalah ujian, bukan alasan untuk kehilangan harapan.
Keberhasilan pun tidak semata diukur dari materi, jabatan, atau pencapaian duniawi. Bunuh diri juga jelas diharamkan dalam Islam.
Namun Islam tidak berhenti pada pembentukan individu. Islam membangun keluarga dan masyarakat dengan ikatan akidah. Ada kewajiban menyayangi keluarga, memperhatikan sesama, menolong orang yang mengalami kesulitan, dan menjaga ukhuwah. Seseorang tidak dibiarkan menghadapi hidup seorang diri.
Negara juga memiliki tanggung jawab membangun kehidupan tersebut. Dalam sistem Islam, pendidikan berbasis akidah membentuk generasi yang memiliki tujuan hidup jelas.
Sistem ekonomi Islam menjamin kebutuhan dasar masyarakat sehingga kehidupan tidak semata-mata dibangun di atas persaingan materi. Negara pun bertanggung jawab menyediakan layanan kesehatan, termasuk kesehatan jiwa.
Dengan demikian, Islam tidak sekadar meminta generasi muda agar lebih kuat menghadapi tekanan. Islam membangun individu yang kokoh, keluarga yang menjadi tempat pulang, masyarakat yang saling peduli, dan negara yang bertanggung jawab.
Sebab yang dibutuhkan generasi muda bukan sekadar lebih banyak koneksi, tetapi kehidupan yang menghadirkan makna, ikatan, dan tempat untuk bersandar. Di tengah dunia yang semakin ramai, Islam tidak membiarkan manusia berjalan sendirian.
Wallahu'alam bishawab.
Oleh: Selly Nur Amelia
Aktivis Muslimah

0 Komentar