Topswara.com -- Beberapa hari yang lalu umat dihebohkan oleh tingkah seorang penceramah setelah videonya viral di media sosial. Sang dai itu adalah Habib Alwi Assegaf, seorang kiai Kampung Jati, Citayam, Kabupaten Bogor Jawa Barat.
Dia menyebut bahwa tarif ceramahnya paling rendah Rp.75 juta. Na'udzubillah Mindzalik. Sang kiyai pun melontarkan candaan atau kelakar yang meminta santriwati dihadirkan untuk dijadikan istri keempat, serta mengeluarkan ucapan yang dinilai merendahkan jemaah perempuan, khususnya yang sudah lanjut usia. (Berbagai medsos/18/10).
Tak ayal ceramah dan candaan kiai tersebut mendapat respon negatif dari banyak kalangan termasuk dari MUI. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, secara terbuka menyerukan kepada umat Islam agar tidak lagi mengundang atau menghadiri majelis Habib Alwi Assegaf karena dinilai tidak mencerminkan etika dakwah yang baik.
"Sodare-sodare, jangan undang lagi dan tak usah diikuti majelisnya orang model gini ya," tegas Kiai Cholil Nafis melalui unggahan di akun X (Twitter) pribadinya, @cholilnafis, Ahad (18/10/2026).
Pasang Tarif Tidak Ikhlas
Kiai atau ustaz yang berceramah atau kajian Islam dengan memasang tarif honor ini jelas bentuk dakwah yang tidak ikhlas karena Allah Taala. Dakwahnya bertujuan mendapat amplop yang bersifat duniawi. Hal ini dikecam dalam hadis berikut:
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis yang shahih,
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Siapa saja yang mempelajari satu ilmu dari ilmu-ilmu yang harus dipelajari karena Allah ‘azza wajalla (seperti ilmu syar’i, pent.), tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali hanya untuk memperoleh keuntungan duniawi, maka dia tidak akan bisa mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani.
Subhanallah, ancamannya tak akan bisa mencium bau surga. Larangan tersebut jelas bahwa dakwah atau ceramah diniati untuk mengambil honor atau amplop dilarang dalam Islam. Karena hal ini namanya tidak ikhlas karena Allah SWT.
Profil dai semacam ini tidak akan bersedia jika amplopnya tidak sesuai dengan tarif yang ia pasang.
Boleh kok Terima Amplop
Tetapi bukan berarti seorang dai atau penceramah tidak boleh menerima bisyarah atau honor dari aktivitasnya. Tetapi ini bukan tujuannya dalam berdakwah. Jika dikasih amplop alhamdulillah baik nilainya sedikit atau banyak. Dan jika tidak mendapat honor juga tidak masalah.
Sebagaimana hadis dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
إنَّ أحقَّ ما أخذتُم عليه أجرًا كتابُ اللهِ
“Sesungguhnya upah yang paling berhak Anda dapatkan adalah upah dari mengajarkan Al-Qur’an.” (HR. Az-Zarqani, dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al-Jami’)
Syaikh Abdul Karim Al-Khudoir (ulama senior Saudi Arabia) hafizhahullah menerangkan makna hadis ini,
فإذا جاز هذا في القرآن ففي غيره من باب أولى.
“Jika mengambil upah dari mengajar Al Qur’an dibolehkan, maka mengambil upah dari mengajar ilmu yang lain, itu lebih dibolehkan.”
Hadis ini berlaku pada dai yang tidak menjadikan dunia (upah) sebagai niat utama. Niat pokoknya tetap karena berharap pahala atau surga Allah Ta’ala, namun ia tetap diberi upah.
Ikhlas dalam Berdakwah
Ikhlas dalam berdakwah adalah sikap menyampaikan ajaran Islam semata-mata karena mengharap keridaan Allah SWT, tanpa mengharapkan pujian, popularitas, kedudukan, atau materi dari manusia.
Ikhlas dalam beramal termasuk berdakwah itu diperintahkan langsung dari Allah Ta’ala dan RasulNya saw,
Firman Allah Taala ;
قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ ١١
”Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar : 11).
Orang yang ikhlas itu menghendaki pahala akhirat, bukan balasan dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
“Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” [QS. Asy-Syûra/42: 20]
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الْآخِرَةِ لِلدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الْآخِرَةِ نَصِيبٌ
“Barangsiapa di antara mereka (umat ini) beramal dengan amalan akhirat untuk dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian di akhirat.” (HR. Ahmad).
Sesuai Sunnah Rasulullah Saw, ikhlas itu nilainya sangat tinggi. Apapun amal yang tidak ikhlas tidak ada nilainya termasuk dalam hal ini adalah kerja dakwah : ceramah, mengajar dan termasuk juga dakwah via media sosial.
Jadi walau honor atau amplop yang tebal tetapi tidak ada bandingannya dengan pahala dari Allah di akhirat. Karenanya dalam Al-Qur'an Allah berfirman :
وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ٣٣
'Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (QS.Fushshilat : 33).
Surat Fushshilat ayat 33 ini adalah salah satu ayat dalam Al-Qur'an yang membahas tentang keutamaan berdakwah dan konsistensi dalam iman.
Tugas ini sangat mulia karena mengajak, menyuruh dan menunjukkan satu kebaikan, serta mencegah kemunkaran.
Di antara kita umat muslim harus ada yang mau dan peduli untuk melaksanakan tugas agama ini. Paling tidak merekalah yang punya ilmu agama, para asatiz dan kiai dan ulama sebagai pewaris para nabi.
Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (Ali-Imran: 104).
Insya Allah akan menjadi umat terbaik, sebagaimana firman Allah:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran:110).
Semoga para kiai, ustaz dalam melaksanakan tugas dakwah dan amar makruf nahi mungkar dilandasi dengan iman yang kokoh dan ikhlas karena Allah SWT.
Oleh: Abdul Mukti
Pemerhati Kehidupan Beragama

0 Komentar