Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Belanja untuk Bahagia, Berutang untuk Gengsi: Jebakan Konsumerisme


Topswara.com -- Pernah tidak masuk toko, awalnya cuma mau lihat-lihat, lalu pulang membawa barang yang sebelumnya tidak ada dalam daftar kebutuhan?

Begitulah hebatnya budaya konsumsi. Kadang kita bukan membutuhkan barangnya, tetapi membutuhkan alasan untuk membelinya. Apalagi sekarang alasannya tersedia di mana-mana, seperti self reward, me time, “aku layak bahagia”, mumpung diskon gede, dan lain-lain.

Kalau semua alasan dikumpulkan, akhirnya yang butuh healing bukan kita, tetapi rekening.

Sebenarnya membeli barang bukan masalah. Islam tidak melarang manusia menikmati rezeki. Kita boleh makan enak, berpakaian bagus, punya rumah nyaman, kendaraan layak. 

Persoalannya adalah ketika keinginan diperlakukan seperti kebutuhan, lalu seseorang memaksakan diri membelinya meski kemampuan finansial tidak mencukupi. Di sinilah konsumerisme menjadi persoalan.

Ketika Barang Jadi Ukuran Harga Diri

Kita hidup dalam budaya yang mudah menjadikan barang sebagai simbol keberhasilan. Ponsel apa? Mobil apa? Tas merek apa? Rumah di mana? Liburan ke mana? Restoran mana? Akhirnya manusia tidak sekadar menggunakan barang. Barang ikut menentukan bagaimana seseorang ingin dilihat. 

Kalau tidak punya barang branded, minder. Kalau orang lain punya yang lebih mahal, ingin mengejar. Kalau tren berubah, ikut berubah.

Hari ini ganti ponsel. Besok kendaraan. Lusa renovasi rumah. Minggu depan liburan. Belum selesai satu keinginan, muncul keinginan berikutnya. Ini bukan lagi sekadar belanja. Ini sudah menjadi perlombaan. 

Masalahnya, perlombaan gaya hidup tidak pernah punya garis finis. Selalu ada barang lebih mahal, tempat lebih mewah, dan orang yang lebih kaya. Kalau kebahagiaan bergantung pada kemampuan mengejar semua itu, kapan merasa cukup?

Kapitalisme dan Industri Keinginan

Di sinilah pembahasan menjadi lebih ideologis. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam pemikiran ekonominya tidak memandang persoalan harta sekadar sebagai urusan produksi dan konsumsi. Ia membahas kepemilikan, cara memperoleh harta, serta bagaimana harta dimanfaatkan berdasarkan hukum syariat.

Dalam pemikirannya, kepemilikan dibagi menjadi kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. 

Islam mengakui kepemilikan individu, tetapi manusia tidak bebas menggunakan harta tanpa batas syariat. Sebab pertanyaan Islam tentang harta bukan cuma, “Berapa banyak yang kamu punya?” 

Tetapi juga, “Dari mana mendapatkannya?”, “Bagaimana membelanjakannya?”, dan “Untuk apa harta itu digunakan?”

Di tengah budaya konsumtif, pertanyaan ini penting. Iklan hari ini tidak hanya menjual barang. Ia menjual perasaan.

“Pakai ini, kamu akan lebih cantik.” “Beli ini, hidupmu lebih nyaman.” “Miliki ini, kamu akan terlihat sukses.”

Akhirnya barang menjadi simbol status dan manusia terus didorong membeli agar merasa cukup.

Paylater: Masalah Hari Ini Dipindahkan ke Bulan Depan

Tentu, instrumen kredit memiliki konteks hukum dan finansial yang berbeda-beda. Tetapi dari sisi perilaku, kita perlu waspada ketika kemudahan pembayaran membuat seseorang merasa mampu membeli sesuatu yang sebenarnya belum mampu ia tanggung. Jangan sampai gengsi dibayar mahal dengan ketenangan keluarga.

Islam Tidak Melarang Punya Harta

Islam bukan agama yang memerintahkan manusia membenci kekayaan. Harta boleh dimiliki. Bisnis boleh dibangun. Keuntungan boleh dicari. Kehidupan nyaman boleh dinikmati. Tetapi harta harus ditempatkan sebagai alat, bukan tujuan hidup.

Al-Qur'an mengingatkan tentang kehidupan dunia yang dapat menjadi permainan, perhiasan, serta ajang bermegah-megahan. (QS. Al-Hadid: 20).

Allah juga berfirman, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan.” (QS. Al-A'raf: 31).

Jadi persoalannya bukan sekadar boleh beli atau tidak, tetapi perlu atau tidak, mampu atau tidak, halal atau tidak. Apakah ini membawa manfaat atau hanya memenuhi gengsi?

Jaga Diri dari Konsumerisme

Pertama, bedakan kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli, tanyakan, “Kalau barang ini tidak saya beli, apakah kehidupan saya benar-benar terganggu?”

Kedua, belanja sesuai kemampuan, bukan sesuai gengsi. Jangan menjadikan gaya hidup orang lain sebagai standar pengeluaran keluarga.

Ketiga, biasakan menunda pembelian. Kalau bukan kebutuhan mendesak, beri waktu untuk berpikir. Sering kali setelah beberapa hari, keinginan itu hilang sendiri.

Keempat, hindari berlebih-lebihan. Islam mengajarkan keseimbangan. Menikmati rezeki boleh, tetapi jangan sampai pemborosan menjadi kebiasaan.

Kelima, perbanyak syukur dan qana'ah. Syukur membuat kita melihat nikmat yang sudah ada, bukan terus menghitung apa yang belum dimiliki.

Keenam, ingat pertanggungjawaban harta. Dalam Islam, harta bukan sekadar milik pribadi tanpa konsekuensi. Cara memperolehnya dan menggunakannya akan dipertanggungjawabkan.

Ketujuh, perbanyak sedekah. Ketika sebagian harta dibagikan kepada orang lain, kita belajar bahwa nilai harta bukan hanya pada apa yang bisa dibeli untuk diri sendiri, tetapi juga pada manfaat yang bisa diberikan kepada sesama.

Jadi, silakan menikmati hasil kerja. Silakan membeli sesuatu yang dibutuhkan. Silakan sesekali memanjakan diri. Tetapi jangan sampai gengsi menjadi tuan dan kita menjadi budaknya. Karena hidup bukan perlombaan siapa paling mahal barangnya. Bukan pula kompetisi siapa paling mewah gaya hidupnya.

Ada uang, beli dengan bijak. Tidak ada uang, jangan memaksa. Sebab ketenangan pikiran terlalu mahal untuk ditukar dengan barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Dan bentuk self reward paling keren bukan membeli barang baru. Melainkan bisa berkata, “Aku mampu membeli, tetapi aku memilih tidak membeli karena aku tahu mana kebutuhan dan mana sekadar keinginan.” Itulah kendali. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar