Topswara.com -- Fakta memilukan kembali menyelimuti bumi Palestina. Pohon zaitun yang selama ini menjadi lambang jati diri warga Palestina dan menjadi pengikat batin mereka dengan tanah kelahirannya, kini justru menjadi sasaran penghancuran.
Bagi rakyat Palestina, zaitun bukan sekadar tanaman. Lebih dari 90 ribu keluarga menggantungkan hidupnya dari kebun zaitun, bahkan komoditas ini menjadi salah satu penyangga perekonomian dengan kontribusi 8 persen terhadap PDB.
Namun ironisnya, ladang-ladang zaitun ini terus menjadi target amukan penjajah, terutama ketika musim panen tiba di bulan Oktober hingga November.
Memasuki musim panen tahun 2026 ini saja, catatan kelam kembali bertambah. Tercatat ada sekitar 200 kali aksi penyerangan yang dilakukan oleh para pemukim ilegal Yahudi dengan kawalan ketat tentara IDF.
Akibat kebiadaban tersebut, satu petani gugur sebagai syahid, lebih dari 120 orang mengalami luka-luka, dan ribuan pohon zaitun yang telah berusia puluhan tahun hancur dirusak (Aljazeera.com, 16-10-2026). Tidak hanya petani, para jurnalis asing dan aktivis kemanusiaan yang mendampingi proses panen pun turut menjadi korban kekerasan (Economic Times, 16-10-2026).
Framing yang sengaja dibentuk oleh media Barat adalah bahwa yang terjadi hanyalah gesekan biasa antara pemukim dan petani lokal di musim panen. Seolah-olah ini hanyalah konflik horizontal yang tidak terencana. Narasi palsu ini terus diputar untuk menutupi fakta bahwa ini adalah proyek penjajahan yang sistematis.
Padahal fakta di lapangan membuktikan sebaliknya. Penghancuran kebun zaitun bukanlah insiden spontan, melainkan skenario matang penjajah Israel untuk melumpuhkan ekonomi dan mencabut akar budaya rakyat Palestina agar mereka putus asa dan hengkang dari tanahnya sendiri.
Penyerangan terhadap jurnalis dan relawan asing adalah upaya licik agar tidak ada lagi saksi mata yang membersamai petani dan agar kejahatan perang Israel tidak tersebar luas ke dunia.
Akar persoalannya adalah sikap munafik para pembela palsu Palestina. Kepedulian Amerika baru muncul ketika yang menjadi korban adalah jurnalis warga negaranya sendiri dan para diplomat Eropa, bukan karena peduli pada darah petani Palestina.
Kecaman yang dilontarkan Uni Eropa pun terbukti hanya menjadi pemanis bibir, tidak pernah berujung pada tindakan nyata untuk menghukum Israel, sama seperti kecaman-kecaman kosong di tahun-tahun sebelumnya.
Hal ini menjadi bukti nyata bahwa meski kebiadaban Israel telah membangkitkan murka warga dunia, namun kondisi Palestina tidak pernah berubah menjadi lebih baik.
Hal ini terjadi karena para penguasa negeri-negeri muslim, khususnya para penguasa Arab, memilih diam seribu bahasa, bahkan sebagian dari mereka justru menjadi antek dan kaki tangan AS dan Israel. Mereka lebih memilih menyerahkan urusan Palestina kepada PBB dan Amerika, padahal keduanya adalah pelindung utama penjajahan.
Padahal dalam Islam, tanah Palestina adalah tanah milik kaum muslimin dan memiliki kedudukan yang sangat istimewa yang wajib dijaga dengan nyawa.
Allah SWT berfirman:
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya..." (TQS. Al-Isra: 1).
Tanah yang diberkahi ini adalah amanah bagi seluruh kaum muslimin, bukan hanya bagi warga Palestina.
Kondisi Palestina hari ini menjadi tamparan keras bahwa umat Islam tidak boleh lagi menggantungkan harapan kepada siapapun kecuali kepada kekuatannya sendiri, yaitu dengan mewujudkan kembali kesatuan umat yang berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah, yakni Khilafah.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu adalah junnah (perisai), dimana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Muslim).
Satu-satunya cara untuk menghentikan kezaliman Israel, AS, dan sekutu-sekutunya bukanlah dengan kecaman, bukan dengan meja perundingan, tetapi dengan mengirimkan tentara-tentara kaum muslimin di bawah kepemimpinan khilafah.
Sudah saatnya kita jujur melihat keadaan. Selama umat masih menaruh harapan kepada PBB yang tidak punya gigi, kepada Uni Eropa yang hanya bisa berkata-kata, kepada Amerika yang justru menjadi beking penjajah, dan kepada penguasa Arab yang lebih sibuk menjaga kursinya daripada menjaga Al-Aqsha, maka setiap tahun di bulan Oktober dan November kita akan terus mendengar kabar duka yang sama dari kebun-kebun zaitun.
Pohon zaitun itu tidak akan bisa menjaga dirinya sendiri. Petani Palestina tidak akan mampu melawan buldoser dan senapan IDF seorang diri. Mereka butuh pelindung yang nyata, bukan kecaman di atas kertas.
Pelindung itu hanya akan lahir ketika umat ini kembali bersatu dalam satu kepemimpinan, satu komando, yaitu khilafah yang akan mengerahkan tentaranya untuk benar-benar membebaskan bumi Palestina dan mengembalikan kemuliaan tanah yang diberkahi itu.
Wallahu a'lam bishawab.
Oleh: Nurfillah Rahayu
Forum Literasi Muslimah Bogor

0 Komentar