Topswara.com -- Kaum Muslim meyakini bahwa Nabi Adam as adalah manusia pertama yang diciptakan Allah SWT. Dalam sebagian kronologi populer, Adam diperkirakan hidup sekitar 6.000 tahun lalu. Sementara itu, penelitian ilmiah melaporkan fosil Homo sapiens yang diperkirakan berusia sekitar 315.000 tahun, bahkan fosil hominin awal yang diperkirakan berusia 6–7 juta tahun.
Bagaimana menyikapi temuan yang usianya jauh melampaui perkiraan populer tentang masa Adam?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu teguh dalam akidah, kritis dalam menilai riwayat, teliti memeriksa bukti ilmiah, dan berhati-hati dalam menarik kesimpulan.
Teguh pada Wahyu
Keyakinan bahwa Adam as adalah manusia pertama berlandaskan ajaran Islam. Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi’” (QS Al-Baqarah [2]: 30).
Ayat tersebut merupakan bagian dari penjelasan Al-Qur’an tentang penciptaan Adam as. Pemahaman bahwa Adam adalah manusia pertama juga sejalan dengan hadis sahih yang menyebutnya sebagai Abu al-Basyar (bapak manusia).
Dalam hadis tentang syafaat pada hari kiamat, orang-orang mendatangi Adam dan berkata, “Engkau adalah Adam, bapak manusia. Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu, dan mengajarkan kepadamu nama-nama segala sesuatu” (HR al-Bukhari).
Dalam memahami persoalan ini, penting untuk membedakan hal yang ditegaskan wahyu dari penafsiran ulama dan kesimpulan manusia. Al-Qur’an dan hadis sahih menegaskan penciptaan Adam, tetapi tidak menetapkan tahun penciptaan ataupun tahun turunnya Adam ke bumi.
Karena itu, perkiraan waktu hidup Adam perlu ditelaah berdasarkan sumber yang melandasinya, bukan langsung dianggap sebagai ketetapan agama.
Menyikapi Israiliyat
Perkiraan bahwa Adam as hidup sekitar 6.000 tahun lalu kerap dikaitkan dengan kronologi yang bersumber dari tradisi terdahulu, termasuk riwayat Israiliyat. Israiliyat adalah berita atau kisah yang berasal dari tradisi Bani Israil dan Ahli Kitab. Karena tidak semua riwayat tersebut dapat dipastikan kebenarannya, kita perlu menilainya berdasarkan tuntunan Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
“Ceritakanlah riwayat dari Bani Israil, tidak apa-apa. Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka” (HR al-Bukhari).
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW mengingatkan kaum Muslim agar tidak serta-merta membenarkan atau mendustakan berita Ahli Kitab (HR al-Bukhari no. 4485). Kedua hadis ini menjadi pedoman untuk bersikap hati-hati dalam menyikapi riwayat Israiliyat.
Secara umum, riwayat Israiliyat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis sahih dapat diterima sejauh kesesuaiannya dapat dipastikan. Riwayat yang bertentangan dengan keduanya harus ditolak. Adapun riwayat yang tidak dibenarkan maupun disalahkan oleh wahyu tidak boleh dipastikan kebenarannya tanpa dasar lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, perkiraan bahwa Adam as hidup sekitar 6.000 tahun lalu tidak tepat dijadikan kepastian akidah jika tidak memiliki landasan dari Al-Qur’an atau hadis sahih. Angka tersebut juga tidak dapat dijadikan batas mutlak untuk menilai usia fosil. Temuan fosil perlu diperiksa berdasarkan bukti ilmiah, sementara hubungan temuan tersebut dengan penciptaan Adam harus dinilai secara cermat.
Periksa Fakta Ilmiah
Setelah menelaah sumber perkiraan tentang masa Adam, kita juga perlu memeriksa temuan ilmiah yang memunculkan pertanyaan tersebut. Fosil merupakan sisa atau jejak makhluk hidup dari masa lampau yang tersimpan dalam material geologis.
Para ilmuwan mempelajari bentuk fosil, lapisan tempat fosil ditemukan, serta hasil penanggalan untuk memperkirakan usia dan mengklasifikasikan makhluk hidup tersebut.
Salah satu temuan yang banyak dibahas adalah fosil Homo sapiens dari Jebel Irhoud, Maroko. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 2017 memperkirakan usianya sekitar 315.000 tahun, dengan rentang ketidakpastian sekitar 34.000 tahun.
Penelitian terhadap fosil Jebel Irhoud menemukan perpaduan ciri: beberapa bagian wajah dan rahangnya relatif menyerupai manusia modern, sedangkan bentuk tempurung otaknya lebih panjang dan rendah. Adapun kulit, rambut, otot, dan sebagian besar jaringan lunak tidak terawetkan dalam fosil yang ditemukan.
Karena itu, fosil tersebut tidak memberikan gambaran lengkap tentang penampilan fisik manusia pada masa itu. Berdasarkan ciri-ciri yang ditemukan, para ilmuwan menggolongkan fosil itu sebagai Homo sapiens, yaitu spesies manusia modern.
Namun, ciri-ciri fisik tersebut dan perkiraan usia fosilnya saja belum cukup untuk menjelaskan kaitan temuan itu dengan keyakinan bahwa Adam as adalah manusia pertama.
Temuan lain ialah fosil Sahelanthropus tchadensis dari Chad yang diperkirakan berusia sekitar 6–7 juta tahun. Fosil ini digolongkan sebagai hominin awal, tetapi kedudukan spesies tersebut dalam garis evolusi manusia masih menjadi bahan kajian ilmiah.
Kedua temuan itu perlu dibedakan. Homo sapiens merupakan spesies manusia modern dalam klasifikasi biologis, sedangkan Sahelanthropus tchadensis merupakan hominin awal yang karakteristik dan kedudukannya masih diteliti. Keduanya tidak dapat disamakan begitu saja.
Jika dibandingkan dengan perkiraan populer bahwa Adam hidup sekitar 6.000 tahun lalu, usia fosil-fosil tersebut memang jauh lebih tua. Namun, perbandingan angka itu belum menjawab bagaimana temuan tersebut berhubungan dengan penciptaan Adam menurut ajaran Islam.
Karena itu, kaum Muslim tidak perlu menutupi temuan ilmiah atau langsung menuduh penelitian tersebut keliru. Metode penanggalan, klasifikasi fosil, dan kesimpulan ilmiah dapat dikaji serta dikritik berdasarkan bukti. Pada saat yang sama, hasil penelitian tentang usia fosil tidak dengan sendirinya menjawab seluruh pertanyaan mengenai penciptaan manusia.
Jangan Melampaui Bukti
Dalam menyikapi temuan fosil, kita perlu membedakan hasil pengamatan ilmiah, penafsiran atas hasil tersebut, dan kesimpulan teologis yang berkaitan dengan ajaran agama.
Usia fosil merupakan perkiraan ilmiah berdasarkan metode tertentu. Klasifikasi fosil sebagai Homo sapiens atau hominin juga didasarkan pada karakteristik biologis dan bukti yang tersedia. Sementara itu, kesimpulan tentang hubungan makhluk yang ditemukan dalam fosil tersebut dengan Adam as tidak dapat ditetapkan hanya dengan membandingkan angka usia.
QS Al-Baqarah [2]: 30 juga perlu dicermati dalam pembahasan ini. Ketika Allah SWT menyampaikan rencana menjadikan khalifah di bumi, para malaikat bertanya tentang kemungkinan adanya kerusakan dan pertumpahan darah.
Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana?’” (QS Al-Baqarah [2]: 30).
Sebagian ulama menjelaskan bahwa pertanyaan para malaikat itu berkaitan dengan jin yang telah menghuni bumi sebelum Adam dan melakukan kerusakan.
Namun, ada pula penafsiran bahwa Allah telah memberi malaikat pengetahuan tentang perilaku keturunan Adam kelak, atau bahwa pertanyaan tersebut merupakan permintaan penjelasan tentang hikmah penciptaan Adam.
Namun, ayat ini tidak secara tegas menyebut bahwa sebelum Adam sudah ada manusia atau makhluk yang bentuknya menyerupai manusia. Karena itu, ayat tersebut tidak dapat dijadikan bukti pasti bahwa fosil Homo sapiens dari Jebel Irhoud berasal dari makhluk yang hidup sebelum Adam.
Lalu, bagaimana menyikapi fosil yang diperkirakan jauh lebih tua daripada kronologi populer tentang masa Adam? Persoalan ini perlu dijawab dengan membedakan apa yang dapat disimpulkan dari bukti ilmiah dan apa yang ditegaskan oleh ajaran Islam.
Kita tidak bisa begitu saja menyatakan bahwa fosil yang berusia sangat tua pasti bukan manusia dalam pengertian agama hanya karena usianya dianggap tidak sesuai dengan kronologi populer. Sebaliknya, klasifikasi ilmiah suatu fosil sebagai Homo sapiens atau hominin juga tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa keyakinan tentang Adam sebagai manusia pertama keliru.
Dua hal perlu dijaga secara bersamaan: keyakinan terhadap Adam as sebagai manusia pertama dan ketelitian dalam menilai bukti ilmiah. Jika hubungan antara suatu temuan fosil dan penciptaan Adam belum dapat dipastikan, kita perlu mengakui batas pengetahuan tersebut, bukan memaksakan kesimpulan yang belum memiliki dasar kuat.
Kaum Muslim harus teguh meyakini Adam as sebagai manusia pertama. Pada saat yang sama, temuan fosil perlu ditelaah berdasarkan bukti ilmiah, sedangkan kesimpulan tentang hubungannya dengan penciptaan Adam harus memiliki dasar yang jelas.
Kita tidak perlu mengarang kepastian yang tidak diberikan wahyu atau menolak fakta tanpa argumentasi yang kuat. Akidah harus dijaga, fakta harus diperiksa, dan hal yang belum diketahui harus diakui. Wallahu’alam bish-shawwab.[]
Depok, 16 Jumadil Awal 1448 H | 27 Oktober 2026 M
Oleh: Joko Prasetyo
Jurnalis

0 Komentar