Topswara.com -- Mahasiswa dan mahasiswi merupakan bagian dari generasi muda terdidik yang diharapkan menjadi penerus bangsa serta mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Di tangan generasi muda, terdapat harapan besar untuk masa depan.
Namun, harapan tersebut menghadapi tantangan ketika kita melihat berbagai persoalan yang dialami mahasiswa, termasuk munculnya kasus bunuh diri di lingkungan perguruan tinggi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa dapat menghadapi berbagai tekanan dalam kehidupan, baik yang berkaitan dengan akademik, keluarga, ekonomi, hubungan sosial, maupun persoalan kesehatan mental.
Karena itu, persoalan bunuh diri tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan individu, tetapi perlu dilihat secara lebih luas dengan memperhatikan kondisi keluarga, lingkungan pendidikan, masyarakat, serta sistem kehidupan yang berkembang.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus bunuh diri yang melibatkan mahasiswa diberitakan oleh berbagai media. Pada September hingga Desember 2023, misalnya, terdapat pemberitaan mengenai kasus yang melibatkan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi, antara lain UMY, UNAIR, dan USU. Pada 2025, kembali muncul sejumlah pemberitaan mengenai kasus serupa yang melibatkan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi.
Berbagai pemberitaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental dan tekanan kehidupan di kalangan mahasiswa perlu mendapatkan perhatian serius.
Berbagai persoalan dapat menjadi tekanan bagi seseorang, seperti masalah akademik, konflik keluarga, perundungan, kesulitan ekonomi, tekanan sosial, maupun keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental.
Oleh sebab itu, pencegahan bunuh diri membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, termasuk dukungan keluarga, lingkungan pendidikan yang sehat, kepedulian masyarakat, serta akses terhadap bantuan profesional.
Dalam pandangan penulis, persoalan tersebut juga berkaitan dengan sistem kehidupan yang berkembang di masyarakat. Sistem sekuler memisahkan agama dari berbagai aspek kehidupan sehingga peran agama dalam mengarahkan kehidupan manusia menjadi lebih terbatas.
Ketika agama tidak dijadikan sebagai landasan dalam menjalani kehidupan, manusia dapat kehilangan salah satu sumber nilai dan pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan.
Kehidupan yang terlalu berorientasi pada pencapaian materi, prestasi, gelar, jabatan, dan kesenangan duniawi juga dapat memberikan tekanan ketika seseorang tidak mampu mencapai standar yang diharapkannya.
Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut dapat memperburuk rasa gagal dan keputusasaan, terutama apabila seseorang tidak memiliki dukungan sosial dan spiritual yang memadai.
Namun, persoalan bunuh diri tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu faktor. Kesehatan mental, kondisi keluarga, lingkungan sosial, tekanan akademik, persoalan ekonomi, serta faktor lainnya juga memiliki peran. Karena itu, diperlukan upaya pencegahan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan.
Menurut pandangan Islam, kehidupan manusia memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar pencapaian materi. Manusia dipandang sebagai hamba Allah yang memiliki tanggung jawab dalam menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran agama.
Kesadaran tersebut diharapkan dapat membentuk keimanan, ketakwaan, serta sikap yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Salah satu upaya yang dapat dikedepankan adalah pendidikan berbasis nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga membentuk akidah, akhlak, dan kepribadian peserta didik.
Dengan demikian, pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki ilmu pengetahuan sekaligus memiliki landasan moral dan spiritual.
Selain pendidikan, diperlukan pula peran keluarga, masyarakat, dan negara dalam menciptakan lingkungan kehidupan yang mendukung kesejahteraan manusia.
Dalam perspektif Islam, penerapan nilai-nilai Islam dalam berbagai bidang kehidupan diharapkan dapat membentuk masyarakat yang memiliki kepedulian, tanggung jawab, dan ketahanan moral.
Dengan demikian, fenomena bunuh diri di kalangan mahasiswa perlu menjadi perhatian bersama. Persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan menyalahkan individu, tetapi membutuhkan upaya pencegahan yang menyeluruh.
Dukungan kesehatan mental, lingkungan sosial yang peduli, pendidikan yang membangun karakter, serta penguatan nilai-nilai agama perlu berjalan bersama.
Islam menawarkan pandangan kehidupan yang menempatkan manusia bukan hanya sebagai pencari kesuksesan duniawi, tetapi juga sebagai hamba yang memiliki tujuan hidup dan tanggung jawab kepada Allah.
Dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan kehidupan, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keimanan, ketakwaan, dan ketangguhan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Semua hanya terwujud, jika Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan dalam bingkai Daulah Khilafah Islam yang kedua, sesuai janji Rasulullah SAW.
Wallhualam bishawab.
Oleh: Wibi Fanisa
Aktivis Muslimah

0 Komentar