Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kesepian di Tengah Keramaian: Potret Kelam Generasi Sekarang


Topswara.com -- Kesepian di tengah keramaian menjadi fenomena yang paling mengerikan. Di tengah himpitan hidup yang makin berat dan jangkar iman yang rapuh, banyak jiwa yang akhirnya menyerah, memilih jalan pintas, berharap dengan mengakhiri kehidupan maka berakhir pula persoalan. 

Baru-baru ini, seorang mahasiswa kedokteran Universitas Brawijaya, diduga mencoba melakukan upaya bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 gedung Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan, beruntung korban selamat dan kini masih dalam perawatan di rumah sakit. 

Sementara itu, seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, hari minggu, 6 September 2026. Rasa terisolasi dan akumulasi masalah diduga menjadi penyebab FS mengambil keputusan ekstrem tersebut. 

FS juga sebelumnya sempat mengunggah pesan perpisahan dan mendonasikan Rp 40 juta kepada sebuah komunitas kesehatan mental (kompas.id, 10/09/2026).

Saat ini fenomena bunuh diri kembali mencuat ke permukaan. Mirisnya lagi, dari Hotline pencegahan bunuh diri, Healing 119.id, klien yang tercatat didominasi kelompok usia 21-30 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa krisis kesehatan mental paling banyak dialami generasi usia produktif atau generasi muda. 

Kasus bunuh diri yang mengalami peningkatan tak lepas dari pengaruh aturan sekularisme yang kita terapkan dalam kehidupan kita. Sekularisme yang memisahkan urusan agama dari urusan negara dan urusan publik telah mencabut akidah dari kehidupan sehingga generasi kehilangan pegangan dan tak memiliki kekuatan mental saat menghadapi tekanan hidup.

Sekularisme yang menjauhkan kita dari nilai-nilai agama juga membuat kita kehilangan iman, tanpa iman sebagai benteng, persoalan yang menimpa kita akan terasa berat dan berujung pada keputusasaan. 

Kapitalisme yang mengiringi sekularisme makin memperburuk situasi. Kapitalisme melahirkan masyarakat yang individualistik. Orang-orang semakin merasa tidak butuh bersosialisasi. Setiap orang berjuang sendiri-sendiri tanpa ikatan masyarakat yang kuat. Kepekaan dan empati menjadi kian terkikis.

Kesepian pun merajalela, tak hanya menimpa orang-orang dengan kehidupan sederhana cenderung tak berpunya, kesepian bahkan bisa menghinggapi kehidupan orang-orang yang hidupnya berkecukupan. 

Hilangnya ikatan dalam masyarakat merupakan salah satu pengaruh dari budaya positivisness, yakni budaya yang fokus mengejar kesuksesan secara individu, sekaligus asosial yakni tidak tertarik untuk bersosialisasi.

Budaya positivisness melahirkan standar sukses yang semu, semua orang dituntut harus terlihat sukses, bahagia, dan produktif, tak boleh ada ruang untuk bersedih atau mengeluh. 

Dalam jangka panjang, kondisi ini mengantarkan orang-orang menjadi sibuk membangun citra bukan koneksi. Karena fokus mengejar citra sukses, maka berbagi cerita, mengobrol, ataupun bertemu untuk berkumpul akan dianggap sebagai sebuah aktivitas yang membuang waktu dan tidak produktif.

Orang-orang merasa lebih nyaman sendiri, cenderung menarik diri dari kehidupan sosial. Pada akhirnya, kita memang hidup berdekatan namun tak pernah terhubung, bertemu dengan banyak orang tapi tak ada yang benar-benar mengenal, walhasil ketika kita ingin mencurahkan isi hati, takut dicap negatif, ingin berbagi kegundahan hati namun khawatir disebut banyak drama. 

Inilah yang membuat orang-orang kesepian, bukan karena tidak ada orang, namun tidak ada ruang aman untuk menjadi manusia yang apa adanya.

Berbeda halnya dengan sekuler kapitalisme, Islam akan membangun akidah sebagai benteng jiwa sejak dini. Melalui sistem pendidikan yang berbasis akidah, Islam akan membentuk manusia-manusia dengan mental pejuang, dan tidak mudah menyerah. 

Islam akan menanamkan keyakinan dalam setiap individu bahwa setiap kesulitan adalah ujian yang berasal dari Allah SWT dan haram hukumnya melakukan tindakan bunuh diri. Kedua hal ini akan jadi pengingat dan penahan terkuat bagi seorang Muslim dari keputusasaan.

Islam akan membangun ikatan yang kuat antara keluarga dan masyarakat berdasarkan akidah, tidak ada seorang pun dibiarkan menanggung beban hidup sendirian. Ikatan yang kuat ini akan melahirkan kepekaan dan empati terhadap sesama, serta menciptakan kondisi di mana orang-orang akan merasa memiliki ruang aman untuk berbagi dan lingkungan yang menerimanya dengan hangat, hingga mereka tidak lagi merasa kesepian.

Selain menerapkan sistem pendidikan yang berbasis akidah, negara juga akan menerapkan sistem ekonomi yang meniscayakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Dengan kesejahteraan yang dijamin negara tentu orang-orang tidak akan khawatir akan kehidupannya. 

Hanya sistem Islam yang bisa dengan tuntas menangani kasus bunuh diri, dengan Islam, individu yang tercipta adalah individu yang kokoh dan masyarakat yang saling peduli, bukan yang rapuh, kesepian dan hanya berpikir bahwa bunuh diri adalah solusi. []


Oleh: Irohima
(Aktivis Muslimah)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar