Topswara.com -- Maulid Nabi Muhammad SAW adalah momen penting bagi umat Islam untuk memperingati lahirnya Rasulullah sambil memperkuat kasih sayang kepada beliau. Peringatan Maulid bukanlah sekadar aktivitas formal atau selebrasi religius, tetapi juga menjadi peluang bagi umat Islam untuk meninjau kembali kehidupan, perjuangan, dan akhlak yang baik yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Saat ini, semangat untuk mengikuti ajaran Nabi hanya sebatas meniru perilaku pribadi beliau, seperti kejujuran, kesabaran, rasa syukur, ketenangan, dan kelembutan.
Di sisi lain, aspek-aspek penting dari ajaran tersebut terabaikan, seperti isu politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, industri, dan pertahanan. Kini kita lihat bahwa pada semua bidang tersebut, umat Islam berada dalam keadaan lemah dan mengalami banyak kerusakan.
Kemaksiatan terus saja menguasai, ketidakadilan menjalar di seluruh tempat, korupsi merusak negeri, keputusan penguasa melumpuhkan rakyat, praktik riba dan zina diterima begitu saja, lingkungan dirusak tanpa henti dan berujung pada bencana, dan hidup manusia seolah tak bernilai.
Peringatan Maulid muncul dari kasih sayang terhadap Rasulullah SAW. Ekspresi cinta terhadap Rasul dapat dilihat dari upaya untuk mengikuti ajaran yang beliau sampaikan. Oleh karena itu, inti dari perayaan Maulid Nabi adalah itibak, yang berarti mengikuti segala ajaran yang beliau bawa.
Dalam mencontoh Rasulullah SAW adalah dalam segala ucapan, tindakan, dan berbagai aspek lainnya. Oleh karena itu, tindakan mengikuti Rasul ini berarti melaksanakan setiap ucapan, tindakan, dan semua hal lainnya yang bersumber darinya, atau dengan kata lain mengimplementasikan Islam secara menyeluruh.
Mengikuti Rasul secara menyeluruh memerlukan keberadaan negara yang menerapkan syariat Islam secara utuh. Sementara dalam sistem kehidupan dan negara sekuler (yang tidak menerapkan Islam secara menyeluruh), mengikuti secara menyeluruh itu tidak dapat terwujud.
Penerapan sistem kapitalisme sekuler di negeri-negeri Muslim menjadi persoalan yang patut diperhatikan oleh umat Islam. Sistem ini memisahkan agama dari pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sehingga nilai-nilai Islam sering kali hanya ditempatkan pada ranah ibadah pribadi.
Dalam pandangan sebagian umat Islam, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menghadirkan kembali syariat Islam secara menyeluruh atau syariat kaffah dalam kehidupan.
Upaya tersebut dipandang bukan sekadar perubahan aturan, tetapi juga sebagai usaha membangun tatanan masyarakat yang berlandaskan nilai keadilan, kemaslahatan, dan tanggung jawab moral.
Dalam kenyataannya, saat ini kita belum dapat menerapkan ajaran Rasul secara utuh, melainkan baru sebagian kecil, yaitu pada aspek ibadah dan akhlak. Negara ini dan dunia secara keseluruhan terjebak di bawah pengaruh ideologi sekuler kapitalisme.
Akibatnya, terjadi kerusakan yang sangat besar dalam segala aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk beralih dari sistem kapitalisme menuju sistem Islam.
Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh tentang cara melakukan perubahan dari sistem yang cacat menuju sistem yang benar (Islam). Beliau berhasil mengubah masyarakat Arab dari kondisi jahiliah ke dalam sistem Islam melalui aktivitas dakwah. Maka sangat penting bagi kita untuk mencontoh metode dakwah Rasul supaya terwujud perubahan yang nyata.
Metode dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dilalui melalui tiga tahap yakni tahap pembinaan dan pengaderan, tahap interaksi dengan masyarakat dan perjuangan, serta tahap menerima kekuasaan.
Adapun tahap pembinaan serta pengaderan dimulai ketika beliau diangkat menjadi Rasul. Beliau mulai menarik perhatian orang per orang untuk memeluk Islam hingga terbentuklah kelompok orang yang beliau didik di rumah Arqam. Beberapa individu dari kelompok tersebut diutus untuk menyebarkan dakwah kepada orang lain.
Selanjutnya, tahap interaksi dengan masyarakat yaitu beliau beserta sahabatnya menyebarkan dakwah secara terbuka kepada masyarakat di Jazirah Arab. Beliau mengundang masyarakat dengan pendekatan kolektif, termasuk kepada jemaah haji yang datang dari berbagai daerah di Arab (walaupun banyak penolakan terjadi), hingga akhirnya para tokoh Madinah menerima ajakan beliau.
Ketika memasuki tahap penerimaan kekuasaan, Rasulullah melakukan hijrah ke Madinah dan mendirikan Daulah Islam di sana. Beliau melaksanakan syariat Islam secara menyeluruh di negara tersebut dan berhasil menyelesaikan berbagai masalah umat. Selain itu, beliau juga meneruskan dakwah dan perjuangan ke luar negeri.
Oleh karena sudah saatnya bagi kita umat Islam untuk meneladani perjuangan Rasulullah SAW melalui metode dakwah yang sudah beliau contohkan. Sehingga akan terwujud kehidupan Islam yang penuh kemuliaan dan kesejahteraan. []
Oleh: Dewi Nur Hasanah
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar