Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ketika Dunia Bungkam, Zionis Makin Beringas


Topswara.com -- Keputusan Israel untuk mengesahkan undang-undang hukuman mati khusus bagi tahanan Palestina tak sekadar kebijakan hukum biasa. Itu merupakan penegasan terang-terangan mengenai watak rezim penjajah yang makin brutal serta tidak lagi merasa harus menyembunyikan kezaliman di balik retorika demokrasi maupun keamanan.

Undang-undang tersebut secara eksplisit menyasar warga Palestina yang dituduh melakukan serangan mematikan. Reaksi dunia pun bermunculan. Berbagai lembaga ham serta negara-negara Eropa mengkritik keras kebijakan itu sebagai bentuk diskriminasi serta pelanggaran hukum internasional.

Tetapi, sebagaimana yang sudah berulang kali terjadi, kecaman tersebut berhenti pada level pernyataan tanpa daya tekan yang nyata. Pada titik inilah kita mesti jujur membaca fakta munculnya undang-undang tersebut justru memperlihatkan ketidakmampuan sistem represif Zionis dalam memadamkan perlawanan rakyat Palestina.

Jangankan surut, perlawanan tersebut tetap hidup, bahkan di tengah tekanan yang makin kejam. Jadi, pilihan untuk melegalkan hukuman mati, bukanlah tanda kekuatan, tetapi refleksi dari keputusasaan yang dibalut dengan kebiadaban.

Tetapi di sisi lain, keberanian Israel untuk mengesahkan kebijakan yang jelas bertentangan dengan norma Internasional dan menunjukkan sesuatu yang lebih besar, tingkat kesombongan serta kejemawaan yang memuncak. 

Mereka mengerti dunia akan mengecam, namun mereka mengerti bahwa kecaman tersebut tak akan pernah berubah menjadi tindakan nyata. Dikarenakan mereka berdiri berdiri di bawah payung kekuatan besar, terutama dukungan Amerika Serikat, yang selama ini menjadi tameng politik sekaligus militer untuk setiap kejahatan yang dilakukan.

Lebih menyakitkan lagi, keadaan tersebut juga membuka luka lama umat Islam, ketidakberdayaan. Dunia Islam saat ini nampak seperti raksasa yang sedang tertidur, mempunyai potensi besar, tetapi lumpuh dalam tindakan. 

Para penguasa negeri-negeri Muslim lebih sibuk menjaga stabilitas kekuasaan masing-masing dari pada mengambil langkah nyata demi menghentikan kebiasaan tersebut. Sebagian cukup dengan kecaman diplomatik, sebagian lainnya bahkan memilih diam.

Padahal, sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa penjajahan tak pernah berhenti hanya dengan kata-kata. Ia hanya dapat dihentikan dengan kekuatan baik kekuatan ekonomi, politik, maupun militer yang terorganisir.

Karena itu, umat Islam terutama para pemimpinnya tak pantas lagi merasa cukup dengan sekadar mengecam. Dibutuhkan keberanian guna mengambil langkah politik strategis yang benar-benar dapat menekan serta membungkam agresi Zionis. Tanpa itu, setiap kecaman hanya akan menjadi formalitas kosong yang justru memperpanjang penderitaan rakyat Palestina.

Lebih dalam lagi, kenyataan ini seharusnya menyadarkan umat bahwa menggantungkan harapan pada sistem kepemimpinan yang tak berlandaskan Islam adalah ilusi. Sistem yang lahir dari sekularisme global terbukti gagal melindungi kaum tertindas, bahkan sering kali menjadi bagian dari masalah itu sendiri.

Umat Islam sudah saatnya menggagas perubahan yang lebih mendasar, tidak hanya reaktif terhadap peristiwa, namun membangun kembali kepemimpinan yang berlandaskan akidah serta syariat Islam secara kaffah. Sebuah kepimpinan yang tak tunduk pada tekanan global, tak berkompromi dengan kezaliman, serta mempunyai visi pembebasan yang nyata. 

Itulah jalan panjang yang harus ditempuh dakwah Islam yang bersifat ideologis serta politis, mengikuti metode perjuangan Rasulullah SAW dalam membangun kekuatan umat hingga dapat menegakkan keadilan secara nyata. Tanpa ini, tragedi demi tragedi akan terus berulang serta umat hanya akan menjadi penonton dari penderitaan saudaranya sendiri. []


Oleh: Dwi Ariyani 
(Aktivis Muslimah di Sedayu, Bantul)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar