Topswara.com -- Saat ini rata-rata anak muda memiliki tingkat stres yang tinggi karena banyaknya tekanan hidup dan paparan dunia digital yang makin masif dan terbuka.
Akibatnya banyak orang nekad, hingga melakukan hal yang di luar batas wajar. Seperti kasus seorang mahasiswa kedokteran Universitas Brawijaya, mencoba bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 kampus, (Kompas.id.com, 10/09/2026).
Banyaknya kasus bunuh diri dikalangan pelajar dan mahasiswa, seakan menambah panjang deretan persoalan krisis mental yang menimpa generasi. Tekanan hidup yang berat, telah membukakan fakta bahwa generasi muda saat ini adalah generasi yang rapuh dan mudah putus asa.
Hal ini terjadi karena pondasi agama yang lemah, jauh dari keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT. Maka tidak mengherankan ketika diterpa suatu masalah, mereka tidak mampu untuk berpikir positif dan menyelesaikan masalahmya sendiri. Mereka tidak memiliki pegangan, kehilangan arah, yang berakhir pada keputusasaan.
Inilah potret kelam penerapan sekularisme, sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya dianggap sebatas ibadah ritual saja, sementara aturan yang mengatur kehidupan menggunakan aturan buatan manusia.
Begitupun dalam aspek pendidikan, dalam sistem ini pendidikan hanya berfokus pada nilai akademik dan mencetak generasi siap pakai. Generasi muda hanya dianggap sebagai komoditas untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor industri, tanpa membekali generasi dengan pendidikan agama dan moral yang cukup sebagai benteng keimanan.
Alhasil generasi muda lahir dengan jiwa kapitalis yang hanya berorientasi mengejar materi semata. Tolak ukur kesuksesan adalah materi dan keberhasilan di ukur dari produktivitas dan keterampilan, maka ketika mengalami kegagalan, mereka akan mencari solusi yang praktis.
Pengaruh ini diperburuk dengan kurangnya ikatan keluarga, dimana peran keluarga yang seharusnya menjadi benteng pertama dalam memberikan pendidikan dan perlindungan terhadap generasi terabaikan.
Begitupun masyarakat yang menganut sekulerisme, memiliki sifat individualis yang memaksa setiap orang untuk berjuang sendiri tanpa ada ikatan masyarakat yang kuat.
Belum lagi pengaruh budaya barat yang mendominasi, membuat generasi terjebak dalam gaya hidup hedonis, individualis demi mengejar materi, akhirnya kesepian merajalela, bahkan ini terjadi pada mereka yang secara ekonomi berkecukupan, dari rasa kesepian ini maka timbulah berbagai macam krisis mental generasi.
Persoalan krisis mental pada generasi, bukan hanya sekedar persoalan individu saja, namun ini terjadi karena sistem yang ada saat ini. Penerapan sekular kapitalisme dalam ranah negara menjadi akar permasalahan lahirnya kesenjangan sosial, kemiskinan, pengangguran, dan sulit lapangan pekerjaan, akhirnya generasi muda saat ini mengalami tingkat stres yang tinggi.
Dalam Islam generasi muda begitu di muliakan, karena generasi adalah tombak pertama peradaban. Islam mempunyai solusi dalam menghadapi persoalan krisis mental generasi tentunya dengan berbagai mekanisme yang sesuai dengan syariat Islam.
Pertama, dalam aspek pendidikan yang berbasis pada akidah Islam, akan membentengi jiwa generasi sejak dini maka akan mampu melahirkan generasi-generasi yang berkepribadian Islami, taat kepada Allah SWT, dan mempunyai iman yang kuat.
Generasi yang mampu membedakan halal dan haram, tidak mudah raput dan berputus asa, karena memahami bahwa setiap kesulitan adalah ujian dari Allah, dan segala perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban, inilah yang akan menjadi benteng terkuat seorang muslim untuk menghadapi segala bentuk tekanan hidup agar tidak mudah berputus asa.
Kedua, sistem Islam mempunyai ikatan yang kuat, diantaranya adalah ikatan keluarga dan ikatan masyarakat. Keluarga merupakan madrasah dan pelindung pertama bagi generasi. Keluarga merupakan institusi terkecil yang akan membentuk kepribadian Islam pada anak sejak dini.
Kemudian ada ikatan masyarakat yang akan saling menjaga dan beramar makruf, tidak individualisme seperti sistem sekular. Dalam akidah Islam sesama muslim itu adalah satu tubuh, yang akan saling melindungi dan menjaga, jadi tidak akan ada lagi seorang yang akan merasa kesepian dan menanggung beban hidupnya sendirian.
Dalam bidang ekonomi, negara hadir sebagai raa'in bagi rakyatnya, yang akan memberikan jaminan kesehjateraan, dengan memenuhi semua kebutuhan dasar rakyat, membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya, sehingga tidak menimbulkan kriris mental karena tekanan hidup.
Islam juga akan menutup semua akses dunia digital yang berpotensi negatif dan merusak pemikiran generasi muda dan mengganti dengan hal-hal yang positif. Dengan menerapkan sistem Islam secara keseluruhan akan mampu melahirkan individu-individu yang memiliki syakhsiyah Islamiah, kuat secara mental dan fisik.
Wallahu alam bisawab
Oleh: Iske
Aktivis Muslimah

0 Komentar