Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Dari Jerit Anak Palestina Menuju Kebangkitan Umat


Topswara.com -- Jerit anak-anak Palestina dari Tepi Barat seharusnya tidak berhenti sebagai berita duka. Ia semestinya menggugah kesadaran umat: ada penjajahan yang terus berlangsung, sementara dunia berkali-kali gagal menghentikannya.

Data PBB sungguh mengguncang. Sejak Januari 2024 hingga Juli 2026, 174 anak Palestina tewas di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur—lebih dari satu anak setiap pekannya. Lebih dari 1.500 anak terluka, hampir separuh akibat peluru tajam. Sebanyak 355 anak Palestina dari Tepi Barat masih ditahan dalam tahanan militer Israel, jumlah tertinggi dalam delapan tahun terakhir (Republika, 12/08/2026).

Situasi terus memburuk. Eskalasi serangan tentara dan pemukim Israel di Tepi Barat, termasuk pengepungan keluarga Palestina dan upaya mendirikan pos permukiman di tanah milik warga Palestina (ANTARA, 15/08/2026).

Ini bukan kekerasan sporadis. Serangan, pengusiran, penghancuran rumah, perampasan tanah, perluasan permukiman, pembatasan gerak, dan penahanan terus berulang. PBB bahkan mencatat sekitar 190 serangan pemukim per bulan pada empat bulan pertama 2026.

Jerit yang Mengungkap Akar Penjajahan

Di sinilah akar persoalan harus dibongkar. Palestina bukan sekadar konflik antara dua pihak. Ada pendudukan yang memungkinkan Israel menguasai tanah, memperluas permukiman, mengusir warga Palestina, dan menggunakan kekuatan militer untuk mempertahankan penguasaannya.

Anak-anak menjadi korban paling rentan. Mereka kehilangan rumah, keluarga, sekolah, dan rasa aman. Luka yang ditinggalkan bukan hanya fisik, tetapi juga trauma yang membekas.

Karena itu, solusi yang hanya menyerukan “menurunkan eskalasi” tidak menyentuh akar masalah. Bagaimana perdamaian lahir jika pendudukan terus berlangsung?

Bagaimana anak Palestina hidup aman jika tanah keluarganya dirampas dan rumahnya sewaktu-waktu diserang?

PBB sendiri memperingatkan bahwa kekerasan pemukim di Tepi Barat telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Keluarga Palestina terusir dari tempat tinggalnya, sementara tanah mereka terancam diambil alih pemukim.

Maka, jerit anak Palestina sesungguhnya sedang membuka mata dunia: persoalannya bukan sekadar kekerasan, melainkan penjajahan yang terus dipelihara.

Ketika Dunia Mengutuk, Umat harus Bangkit

Tragedi ini berlangsung ketika dunia berkali-kali menyatakan keprihatinan. Namun, kecaman tidak menghentikan pendudukan. Pernyataan diplomatik tidak mengembalikan rumah yang dihancurkan. Resolusi tidak menghidupkan kembali anak-anak yang telah kehilangan masa depan.

Inilah problem paradigma politik dunia. Keselamatan manusia kerap tunduk pada kepentingan politik dan kekuatan negara besar.

Lebih ironis, negeri-negeri Muslim yang memiliki potensi politik, ekonomi, dan militer besar belum mampu menghadirkan kekuatan bersama yang efektif untuk menghentikan penjajahan Palestina.

Padahal, Islam tidak mengajarkan umat menjadi penonton ketika saudara mereka dizalimi.

Allah SWT berfirman: “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak...”
(QS An-Nisa: 75)

Rasulullah ï·º bersabda: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya dizalimi.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Beliau ï·º juga bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Maka, penderitaan anak-anak Palestina bukan hanya ujian bagi keluarga mereka. Ia adalah ujian bagi umat Islam dan para penguasanya. Apakah jerit itu hanya akan ditangisi, atau menjadi pemantik kebangkitan umat?

Dari Kesadaran Menuju Kebangkitan

Islam memiliki paradigma berbeda. Nyawa manusia bukan komoditas politik. Keselamatan rakyat bukan sekadar statistik. Wilayah kaum Muslimin bukan objek yang boleh dikuasai kekuatan asing.

Bantuan kemanusiaan dan donasi penting untuk meringankan penderitaan korban.
Namun, itu tidak cukup. Akar masalah harus diselesaikan: pendudukan dan penjajahan harus dihentikan.

Islam menempatkan negara sebagai pelindung rakyat dan penjaga wilayah kaum Muslimin. Karena itu, negeri-negeri Muslim tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri ketika Palestina terus dijajah.

Diperlukan persatuan politik umat dan kekuatan negara yang mandiri untuk menjadikan pembebasan Palestina sebagai agenda nyata, bukan sekadar isu diplomatik.

Dalam perspektif politik Islam, khilafah dipandang sebagai institusi yang menyatukan kekuatan politik kaum Muslimin serta menjalankan kewajiban negara dalam menjaga wilayah dan melindungi rakyat.

Karena itu, perjuangan menghadirkan persatuan umat dan pemerintahan berlandaskan syariat harus menjadi bagian dari kesadaran politik umat.

Perjuangan tersebut ditempuh melalui dakwah dan aktivitas politik untuk membangun kesadaran umat, menuntut para penguasa Muslim menjalankan tanggung jawabnya, serta mendorong lahirnya kekuatan politik yang mampu melindungi umat dan memperjuangkan pembebasan Palestina.

Sebab, kebangkitan umat tidak lahir dari banyaknya air mata, tetapi dari kesadaran yang mengubah jerit anak-anak Palestina menjadi tekad untuk mengakhiri penjajahan.

Wallahua'lam.


Zahida Ar-Rosyida
(Aktivis Muslimah Banua)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar