Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pengangguran Sarjana Tinggi, Pemimpin Lupa Janji 19 Juta Lapangan Kerja?


Topswara.com -- Menurut data statistik pada bulan Mei 2026 distribusi pengangguran berdasarkan Pendidikan tertinggi yang ditamatkan terdapat lulusan D4 hingga S3 yang mengganggur sekitar 14,31 pesen. Jika dihitung mencapai 1.033.182 orang atau sekitar 1 juta orang warga Indonesia yang menganggur (detik.com, 10/08/2026). 

Fenomena sarjana menganggur tidak semata-mata berkaitan dengan kompetensi atau kesiapan kerja, namun juga adanya ketimpangan modal budaya yang tidak selalu dapat dikonversikan secara langsung menjadi modal ekonomi berupa pekerjaan dan penghasilan, juga perubahan struktur ekonomi. 

Perubahan struktur ekonomi Indonesia memberikan dampak pada penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan lapangan kerja. Sedangkan, pertumbuhan lapangan kerja berkualitas tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja terdidik dan kurangnya informasi dalam mencari pekerjaan sehingga banyak yang mengganggur. 

Pengganguran ini dapat menjadi ancaman bagi perkembangan sosial Indonesia karena melihat dari data, Tingkat penggangguran resmi di Indonesia rendah, ada kehawatiran bahwa angka ini tidak secara akurat mencerminkan kondisi sebenarnya. 

Masalah seperti ‘kurang kerja’ (Underemployment), pekerjaan paruh waktu dan pekerjaan di sektor informal menjadi tantangan utama dan mungkin malah menyembunyikan masalah struktural tertentu. 

Penyembunyian masalah struktural dalam program-program populis kerap dirancang lebih untuk menopang legitimasi kekuasaan ketimbang menjawab persoalan struktural dengan adanya pekerja terdampak PHK yang hanya gejala permukaan. 

Sedangkan yang mengkhawatirkan adalah lepas tangan dari janji yang pernah mereka ucapkan dengan janji 19 juta lapangan kerja baru dalam lima tahun, setara 3,86 juta lapangan kerja per tahun dalam janji kampanye wapres (nasional.kompas.com,13/08/2026). 

Janji kampanye yang belum terpenuhi seolah dianggap biasa atau hal yang lumrah terjadi dalam sistem demokrasi (news.detik.com, 20/08/2024) karena menetapkan arah, membangun kepercayaan dan memperkuat cita-cita kolektif masyarakat. 

Namun, janji tersebut seperti omong kosong yang sangat kecil untuk terwujud bagi rakyat kecil, kesempatan yang sangat luar biasa bagi kapitalisme karena membutuhkan biaya besar dan modal dari investor sehingga dapat bekerja sama dengan oligarki dalam niatan yang terselubung untuk mengambil kekayaan di negeri tersebut, militer maupun status sosial (kpu.go.id, 20/10/2025). 

Oleh karena itu, dengan mudahnya pemimpin berjanji dalam kampanye seperti paribahasa “Tong kosong berbunyi nyaring” artinya banyak bicara atau berjanji tapi kosong isi atau buktinya. Padahal janji itu tanggung jawabnya besar sekali di hadapan manusia juga di hadapan Allah SWT karena ketika di Akhirat akan dimintai pertanggung jawaban. 

Maka sebagai pemimpin harus minim janji tetapi perbanyak aksi dalam melakukan perubahan sebagaimana suri teladan kita yakni Rasulullah SAW yang memimpin di negara Islam untuk menegakkan keadilan juga mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia, alhasil pemimpin selanjutnya meniru gaya kepemimpinan Rasulullah SAW juga mengembangkan ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial, dll menjadi lebih baik.

Hal ini hanya akan terjadi jika pemimpin menyadari pentingnya tanggung jawab yang memiliki amanah besar sebagaimana seorang pemimpin yang ibarat seorang pengembala yang harus membawa ternaknya pada padang rumput dan menjaganya agar tidak diserang serigala.

Sebab fungsi pemimpin dalam Islam adalah Menjaga Agama, mengatur urusan dunia dan kemaslahatan rakyat. 

Apabila rakyat membutuhkan pekerjaan demi memenuhi kebutuhan hidup, maka seorang pemimpin harus sigap mencari lowongan pekerjaan atau bahkan membuka lapangan kerja baru dengan kualifikasi menurut keahlian masing-masing sehingga rakyat bekerja sesuai dengan linier keahliannya tanpa ada paksaan atau beban yang ditanggung. 

Sebagaimana dalam masa kehidupan nabi SAW yang mana ada sahabat menawarkan untuk menjadi seorang pemimpin, kemudian nabi SAW menolak dengan cara yang halus, sebagai berikut : 

“Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (HR. Muslim no. 1825).

Wallahu a'lam bishawab.


Oleh: Ainnur 
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar