Topswara.com -- Curhatan Yurizal, seorang pasien BPJS Kesehatan yang diunggahnya di Threads mendadak viral. Pasalnya keluhan pria asal Bogor ini mendapat komentar nyinyir dari sejumlah oknum tenaga kesehatan (nakes). Beberapa komentar bernada merendahkan peserta BPJS dan menghina status ekonomi pasien.
Komentar yang dinilai tidak berempati ini sungguh tidak layak dilontarkan oleh seseorang dengan profesi dokter dan perawat yang notabene berasal dari kalangan terpelajar. Sikap yang sangat bertolak belakang dengan tugas mereka menolong sesama.
Begitulah buah dari pendidikan sekuler, dimana nilai agama dipisahkan dari kehidupan. Keberhasilan pendidikan dinilai dengan angka namun tidak diajari etika dan sopan santun. Maka tidak heran jika lahir orang-orang berpendidikan namun tak bermoral seperti para nakes yang nirempati.
Sekularisme juga melahirkan liberalisme atau kebebasan dalam berpendapat. Para nakes tersebut merasa memiliki kebebasan dalam mengekspresikan pendapat mereka di kolom komentar.
Namun mereka lupa bahwa seharusnya dimanapun dan kapanpun, ada etika dan tata krama sopan santun yang harus di junjung tinggi, mengingat mereka adalah para petugas medis dan orang yang terpelajar.
Kasus ini juga mengundang perhatian masyarakat karena buruknya sistem jaminan kesehatan di Indonesia. Kurangnya fasilitas kesehatan di sebuah rumah sakit besar, membuat pasien gawat darurat harus menunggu selama 8 jam untuk mendapatkan pelayanan hingga nyawanya tak tertolong.
Tingkat keterisian ruangan di RSCM tempat Yurizal menghembuskan nafas terakhirnya memang sangat tinggi. Mengingat RSCM merupakan rumah sakit rujukan nasional, sehingga kapasitas ruangannya terbatas. Pertanyaanya, mengapa sebuah rumah sakit besar diperkotaan tidak siap menangani pasien gawat darurat.
Seharusnya peristiwa ini menjadi bahan evaluasi bagi dunia kesehatan di Indonesia. Pasien BPJS seolah mendapat diskriminasi karena harus menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan. Sementara fasilitas dan kecepatan pelayanan kesehatan yang sangat berbeda diterima oleh pasien non BPJS yang membayar biaya lebih.
Jaminan kesehatan seharusnya dibiayai sepenuhnya oleh negara secara merata bagi seluruh warga negara, bukan hanya untuk si miskin. Karena sejatinya jaminan kesehatan merupakan kewajiban negara.
Namun dalam sistem sekular kapitalis, kesehatan dianggap sebagai komoditas bisnis. Maka sangat wajar bila biaya kesehatan justru dibebankan kepada pasien sebagai objek bisnis.
Inilah bukti sistem kesehatan yang rusak, diskriminatif dan kepribadian nakes yang nirempati lahir dari pola pikir dan pola sikap yang tidak Islami. Hal ini juga merupakan buah dari sistem pendidikan hari ini gagal membentuk karakter kepribadian Islam.
Berbeda halnya dengan sistem pendidikan Islam ditopang oleh 3 pilar utama, yang pertama adalah keluarga. Dalam Islam, Keluarga merupakan institusi pendidikan pertama yang menanamkan akidah Islam pada anak. Keluarga pula yang menanamkan dasar pendidikan etika, tata krama dan membentuk kepribadian anak.
Pilar kedua adalah lembaga pendidikan, disini anak digembleng untuk mendapatkan pendidikan formal. Lembaga pendidikan baik milik pemerintah atau swasta sama-sama menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam.
Visi misi dari pendidikan Islam adalah untuk membentuk generasi yang beriman, bertakwa serta bersyaksyiyah Islamiah (berkepribadian Islam).
Pilar yang ketiga adalah negara. Sebagai Institusi tertinggi, negara akan menerapkan syari'at Islam dalam setiap aspek kehidupan dan memastikan rakyatnya selalu dalam suasana keimanan yang tinggi. Adapun media televisi, media sosial ataupun media cetak akan digunakan untuk menunjang dakwah dan pendidikan.
Peran negara sebagai Raa'in (pelayan) akan menjamin pemenuhan kebutuhan pokok termasuk pendidikan dan kesehatan gratis. Baitul mal sebagai lembaga keuangan negara lah yang akan mendanai pemenuhan hak dasar rakyat tersebut. Dananya bersumber dari pengelolaan harta milik umum (sumber daya alam).
Dengan sumber dana Baitul Mal yang sangat melimpah, negara akan memastikan baik pasien maupun para pelayanan kesehatan sejahtera dalam naungan Islam. Rumah sakit pertama dalam sejarah Islam didirikan pada masa kekhalifahan Umayyah di Damaskus pada tahun 707 M.
Bangunan rumah sakit modern ini terdiri dari tempat perawatan bagi pasien, sekolah kedokteran dan nakes, sekaligus sebagai pusat riset para ilmuwan kesehatan. Semua pelayanan kesehatan maupun pendidikan di komplek rumah sakit ini diberikan secara gratis tanpa memandang status sosial, agama maupun kekayaan.
Sungguh Allah SWT telah menciptakan aturan yang begitu sempurna sebagai pedoman bagi seluruh umat manusia, maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan. Semoga syar'iat Islam bisa segera tegak di bumi ini sebagai Rahmatan Lil alamiin.
Wallahu 'alam Bissawab.
Oleh: Vini Setiyawati
Aktivis Muslimah

0 Komentar