Topswara.com -- Mubalighah Kota Depok Ustazah Lela Nurtilah menegaskan hakikat merdeka menurut Islam yakni terbebas dari belenggu hawa nafsu.
“Hakikat merdeka yaitu terbebas dari belenggu hawa nafsu, jiwa tidak dikuasai oleh kesombongan dan kecenderungan berbuat maksiat, serta tidak mudah diatur oleh ambisi dunia,” ungkapnya dalam acara yang diselenggarakan Komunitas Muslimah Perindu Surga, Merdeka dengan Iman, Bersatu dalam Ukhuwah, Ahad, (9/8/2026) di Depok.
Bersamaan dengan hal tersebut, jelasnya, seorang yang merdeka akan saling berlomba dalam ketaatan (fastabiqul khoirat) serta senantiasa mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran (amar makruf nahi munkar).
Menurutnya, makna merdeka yang mengacu KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yakni terbebas dari penghambaan dan penjajahan, berdiri sendiri serta tidak bergantung pada pihak lain, maknanya nyaris selaras dengan makna Merdeka dalam syariat Islam.
“Makna ini nyaris selaras dengan makna merdeka dalam syariat Islam yakni terbebas dari penghambaan kepada sesama makhluk, sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah SWT Al-Qur’an surah adz-Dzariat ayat 51 dan 56 dan hanya tunduk kepada Allah ta’ala dalam Al-Qur’an surah an Nisa ayat 59,” bebernya.
Namun yang perlu di-headline, terangnya, Islam tidak melepas kebebasan manusia sebebas-bebasnya. “Islam punya batasan dalam hal ini, yakni adanya ketundukan mutlak kepada Allah semata,” sebutnya.
Saat Ini Belum Merdeka
Ia pun menjelaskan, kondisi saat ini rakyat belum merasakan merdeka. “Rakyat bekerja namun upah sangat minim, ekonomi dikuasai oleh orang-orang kapitalis, pendidikan mahal, kesehatan berbayar, lapangan kerja sempit, ketidakadilan hukum bagi masyarakat lemah. Semua itu adalah fakta yang bisa kita temui di lingkungan sekitar kita. Tidak ada bedanya, merdeka ataupun dijajah, kedunya sama-sama menampakkan penderitaan rakyat,” ungkapnya.
Ia menilai, hari ini masyarakat hidup dalam belenggu kemaksiatan yang terstruktur. Hampir semua bangunan kehidupan, menurutnya, telah tergerus oleh kemaksiatan. “Kita tidak bisa bekerja seorang diri untuk memperbaiki kondisi ini, pun kita tidak bisa menjadi baik atau saleh sendiri untuk bertahan dalam kondisi saat ini,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya ilmu yang senantiasa membimbing dan membentengi diri. Selain ilmu, masyarakat juga membutuhkan jamaah yang dapat merangkul dan menguatkan dalam melangkah bersama.
“Saatnya kita mengenal panduan hidup kita yang sempurna dan paripurna yakni syariat Islam dengan cara mempelajarinya. Dan saatnya kita bersatu dalam ukhwah Islam untuk melawan kezaliman yang terjadi hari ini dengan cara menjadi pejuang Islam,” ujarnya.
Ia juga mengajak umat untuk bersatu dalam ukhuwah Islam dan menghadapi kezaliman yang terjadi hari ini dengan menjadi pejuang Islam.[] Tri Handayani

0 Komentar