Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ahlul Musibah dan Ahlul ‘Afiyah: Ternyata Orang Beriman Itu Posisi Mana pun Tetap Untung


Topswara.com -- Menjadi manusia itu kadang lucu. Saat hidup sedang tenang, badan sehat, anak-anak baik-baik saja, rezeki cukup, kita berkata, “Alhamdulillah, Allah baik sekali.”

Begitu ujian datang satu per satu, kalimatnya mulai berubah. “Ya Allah, kok aku lagi?” “Belum selesai yang kemarin, datang lagi yang baru.”

Astaghfirullah. Namanya juga emak-emak. Kadang iman ada, tetapi mulut masih ingin mengajukan keberatan kepada keadaan. Apalagi kalau masalah datangnya tidak pakai sistem antrean. Satu belum beres, satu lagi mengetuk pintu.

Yang satu soal keluarga. Yang satu soal kesehatan. Yang satu soal anak. Yang satunya lagi urusan hidup yang kalau diceritakan semuanya, takutnya bukan jadi tulisan, tetapi sinetron 700 episode.

Kadang kita cuma bisa duduk sambil bergumam, “Ya Allah, aku tahu Engkau tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Tetapi kalau boleh usul, kemampuan saya jangan dites terus, ya Allah.”

Lalu istighfar lagi. Astaghfirullahal ‘azhim. Sebab setelah emosi sedikit reda, kita mulai sadar,  jangan-jangan selama ini kita melihat ujian hanya dari sisi sakitnya, bukan dari sisi nilainya di hadapan Allah.

Kita sibuk menghitung air mata, sementara Allah sedang menghitung pahala. Kita sibuk bertanya, “Kapan selesai?” sementara boleh jadi setiap hari yang kita jalani dengan sabar justru sedang menjadi jalan naiknya derajat.

Ahlul Bala’ dan Ahlul ‘Afiyah.

Ada sebuah hadis yang selalu membuat aku terdiam. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Saw bersabda,

يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يُعْطَى أَهْلُ الْبَلَاءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُودَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِي الدُّنْيَا بِالْمَقَارِيضِ

“Pada hari kiamat, ketika orang-orang yang mendapatkan ujian diberikan pahala, orang-orang yang dahulu mendapatkan ‘afiyah akan berharap seandainya kulit mereka dahulu dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2402. Imam At-Tirmidzi menyebut riwayat ini gharib, sementara Syaikh Al-Albani menilainya hasan)

Bukan berarti Islam mengajarkan kita mencari penderitaan. Bukan. Kita justru diajarkan meminta ‘afiyah kepada Allah. Kita meminta kesehatan. Meminta ketenangan. Meminta keluarga yang baik. Meminta perlindungan dari musibah. Meminta kehidupan yang penuh keberkahan.

Tetapi hadis tersebut seperti membuka tirai yang selama ini tidak mampu dilihat mata manusia. Bahwa musibah tidak selalu berarti kerugian. 

Ada pahala yang tersimpan di baliknya.
Ada dosa yang berguguran. Ada derajat yang mungkin sedang Allah tinggikan. Dan ada sesuatu yang baru akan kita pahami sepenuhnya ketika kehidupan dunia sudah selesai.

Enakan Jadi Ahlul ‘Afiyah atau Ahlul Musibah?

Kalau ditanya emak-emak, tentu jawabannya, "Ya ‘afiyah, lah.” Siapa pula yang bangun tidur berharap dapat masalah? Kita semua ingin keluarga sehat, rezeki lancar, anak-anak baik, rumah tenang, badan tidak sakit, saldo tidak bikin jantung berdebar, dan hidup berjalan tanpa drama. Itu manusiawi.

Tetapi kemudian aku teringat sebuah hadis yang rasanya seperti rumus anti-rugi bagi orang beriman. Rasulullah Saw bersabda bahwa sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan baginya. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar dan itu pun baik baginya. (HR. Muslim)

Alhamdulillah, jadi orang Mukmin itu pintu kebaikannya ada di dua sisi. Yang membuat rugi ternyata bukan semata keadaan, melainkan bagaimana hati merespons keadaan. Sebab ‘afiyah tanpa syukur bisa membuat manusia lalai.
Sebaliknya, musibah tanpa sabar bisa membuat manusia makin jauh dari Allah.

Maka persoalannya bukan sekadar kita sedang menjadi Ahlul Bala’ atau Ahlul ‘Afiyah. Pertanyaannya, ketika diberi ‘afiyah, apakah kita bersyukur? Dan ketika diuji, apakah kita bersabar?

Tidak harus selalu terlihat kuat karena mungkin ada hari yang berat dan kita tetap berusaha tersenyum lalu berkata, “Insya Allah, semua akan baik-baik saja,” sambil mengusap air mata.

Sabar tidak berarti manusia kehilangan hak untuk menangis. Nabi Ya’qub menangis karena kehilangan Yusuf. Kesedihan bukan otomatis tanda lemahnya iman. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kesedihan membuat kita berburuk sangka kepada Allah.

Masih shalat meskipun hati sedang berantakan. Masih berdoa meskipun jawaban belum terlihat. Masih mengatakan “Alhamdulillah” meski sambil mengusap air mata. Masih percaya bahwa Allah tahu apa yang sedang Dia kerjakan terhadap hidup kita.

Pada akhirnya, dua-duanya bisa menjadi jalan pulang. Hari ini mungkin kita termasuk Ahlul ‘Afiyah. Besok belum tentu. Dunia memang tempat bergantinya keadaan. Karena itu, ketika sedang memperoleh ‘afiyah, jangan sombong kepada mereka yang sedang tertimpa musibah.

Boleh jadi orang yang sedang menangis itu justru sedang dinaikkan derajatnya oleh Allah dan boleh jadi kita yang sedang nyaman sebenarnya sedang diuji melalui kenyamanan, apakah bersyukur atau malah lupa diri.

Maka kalau hari ini Allah memberi kesehatan, katakan Alhamdulillah. Dan jika suatu Allah mengizinkan musibah mengetuk pintu, menangislah kalau memang perlu.

Mengeluh sebentar kepada Allah 
Setelah itu, pelan-pelan katakan, “Ya Allah, aku mungkin belum memahami mengapa ini terjadi. Tetapi jangan biarkan ujian ini berlalu tanpa menjadi pahala bagiku.” []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar