Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Zaman Sekuler, Penulis Ideologis kok Kehabisan Ide?


Topswara.com -- "Mbak kok produktif banget sih nulis, sampai dikira AI?" Lho, justru aku bingung kalau ada penulis ideologis bilang, "Lagi enggak ada ide." Serius?

Di zaman sekuler begini, ide itu bukan dicari. Ide malah antre minta ditulis. Bayangkan sob, baru buka mata, sudah disambut berita kriminalitas. Harga kebutuhan pokok masih menjadi keluhan banyak keluarga. Biaya hidup terus terasa berat, sementara daya beli sebagian masyarakat belum sepenuhnya pulih. BBM mengalami penyesuaian harga di berbagai periode. 

Di beberapa daerah, masyarakat juga sempat menghadapi pemadaman listrik bergilir akibat gangguan pasokan maupun pemeliharaan jaringan. 

Sementara itu, kasus korupsi terus bermunculan bahkan jumlah pelaku dan nominal yang dikorupsi semakin banyak, penyalahgunaan narkoba belum surut karena disinyalir ada keterlibatan aparat dalam proses jual-beli, perundungan yang memakan korban masih terjadi, kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menghiasi pemberitaan, hingga kejahatan jalanan yang membuat masyarakat waswas.

Belum selesai menghela napas eee muncul lagi berita baru. Besoknya? Ada lagi. Lusa? Jangan ditanya.

Kadang aku merasa, yang capek itu bukan mencari ide tulisan, tetapi memilih, hari ini mau mengkritisi kerusakan yang mana dulu?

Mau bahas ekonomi? Ada. Mau bahas pendidikan? Ada. Mau bahas kesehatan? Ada. Mau bahas hukum? Masih ada.
Mau bahas moral generasi? Waduh, kasus itu seperti serial sinetron yang episodenya enggak habis-habis hingga ditonton tujuh turunan.

Makanya aku suka ketawa kalau ada yang bilang, "penulis dakwah sekarang susah cari inspirasi."

Inspirasi? MasyaAllah Gaes, inspirasinya justru bertebaran. Sayangnya, yang bertebaran itu bukan kabar baik, melainkan potret kerusakan akibat sistem yang menjadikan akal manusia sebagai standar tertinggi, bukan wahyu Allah.

Dalam pandangan Islam, seorang Muslim tidak cukup hanya menjadi penonton. Apalagi jika ia memiliki ilmu dan kemampuan menyampaikan kebenaran. Pena bukan sekadar alat merangkai kata, tetapi juga amanah untuk menyuarakan yang hak dan mengingatkan dari yang batil.

Rasulullah SAW bersabda, "barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim).

Bagi seorang penulis, "lisan" hari ini bisa berupa tulisan yang mengedukasi, meluruskan cara pandang, dan mengajak umat kembali menjadikan Islam sebagai pedoman hidup.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa dakwah adalah aktivitas mengemban risalah Islam untuk mengubah pemikiran, perasaan, dan aturan kehidupan agar tunduk kepada syariat Allah. 

Karena itu, seorang pengemban dakwah tidak boleh diam ketika menyaksikan kezaliman, tetapi terus menjelaskan akar persoalan sekaligus menawarkan solusi Islam sesuai kemampuan yang Allah berikan.

Kalau kita hanya sibuk mengomentari gejalanya tanpa membongkar akar masalahnya, besok akan muncul kerusakan yang sama dengan wajah berbeda.

Hari ini soal harga. Besok soal hukum. Lusa soal moral. Lusanya lagi soal KDRT
Lusa lusanya lagi soal pendidikan dan seterusnya

Padahal akarnya tetap sama. Sistem sekuler memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, manusia membuat aturan berdasarkan kepentingan, bukan berdasarkan wahyu. 

Dampaknya akan lahir manusia yang cerdas secara akademik, tetapi tidak selalu memiliki rasa takut kepada Allah. Ukuran benar dan salah lebih sering ditentukan oleh untung-rugi, bukan halal-haram. 

Akibatnya, ketika kesempatan berbuat curang terbuka dan pengawasan manusia tidak ada, banyak yang tetap berani melakukan korupsi, manipulasi, perundungan, kekerasan, hingga berbagai bentuk kemaksiatan karena merasa tidak ada yang melihat.

Oleh karena itu, selama akar itu tetap dipertahankan, tambal sulam kebijakan hanya akan memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain.

Itulah sebabnya penulis ideologis tidak cukup hanya pandai merangkai kalimat yang indah. Ia harus berani menunjukkan akar persoalan dan mengajak umat melihat solusi Islam secara menyeluruh.

Jadi, kalau masih ada penulis ideologis yang berkata, "Aku lagi enggak punya ide..."

Aku cuma bisa senyum.
Ingin kubisikkan pelan, "coba buka berita lima menit saja."

Kalau masih enggak dapat ide, berarti yang kurang bukan bahan tulisan. Mungkin yang perlu di-charge adalah bacaan, pemahaman ideologis dan keberanian penanya.

Karena selama masih ada kezaliman, selama masih ada kebijakan yang menyulitkan rakyat, selama syariat Allah belum diterapkan secara kaffah, maka pena seorang pejuang ideologis seharusnya tidak pernah benar-benar kehabisan tinta.

Justru di zaman seperti inilah, umat membutuhkan lebih banyak pena yang jujur daripada sekadar konten yang viral.

Sebab pena yang berpihak pada kebenaran bisa menjadi saksi di hadapan Allah, bahwa kita tidak memilih diam saat melihat kemungkaran.


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar