Topswara.com -- Tema Hari Anak Nasional tahun ini terdengar begitu hangat, "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan." Kalimat itu tentu jadi harapan semua orang.
Siapa yang tidak ingin melihat anak-anak tumbuh dengan rasa aman? Tetapi setiap kali membaca berita tentang anak, rasanya pertanyaan itu justru kembali muncul. Benarkah anak Indonesia sudah hidup di ruang yang aman?
Jawabannya sepertinya belum.
Belakangan ini, berita tentang kekerasan terhadap anak nyaris tidak pernah sepi. Ada yang terjadi di rumah, ada pula yang terjadi di sekolah. Tempat yang seharusnya menjadi ruang paling nyaman justru berubah menjadi tempat yang meninggalkan trauma.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bahkan menyebut kasus kekerasan seksual terhadap anak sebagai fenomena gunung es. Maksudnya, yang terungkap ke publik hanya sebagian kecil, sementara masih banyak kasus lain yang tidak pernah sampai ke permukaan.
Yang membuat hati makin miris, sekarang anak-anak tidak hanya menjadi korban. Di beberapa kasus, mereka juga terlibat sebagai pelaku kekerasan.
Sumber: sinpo.id, 23 Juli 2026.
Kalau melihat kondisi seperti ini, rasanya terlalu sederhana kalau semua kesalahan hanya dibebankan kepada orang tua. Memang keluarga punya peran besar, tetapi persoalan ini sudah jauh lebih luas.
Anak-anak tumbuh di lingkungan yang setiap hari dipenuhi berbagai hal yang memengaruhi cara berpikir mereka. Media sosial, game, film, hingga berbagai konten digital menyuguhkan kekerasan dan hal-hal yang merusak seolah itu sesuatu yang biasa. Lama-kelamaan, batas antara yang benar dan yang salah pun semakin kabur.
Di sisi lain, perlindungan yang seharusnya datang dari berbagai arah juga terasa belum kuat. Masyarakat sering memilih diam karena merasa bukan urusannya.
Negara pun lebih sering hadir lewat kampanye dan slogan, sementara berbagai pintu kerusakan masih terbuka lebar. Judol masih mudah ditemukan, pornografi masih beredar, bahkan ruang digital yang tidak ramah anak masih bebas diakses.
Sulit rasanya berharap anak-anak tumbuh baik jika lingkungan yang mengelilinginya justru penuh ancaman.
Karena itu, persoalan ini sebenarnya bukan sekadar tentang memperbanyak sosialisasi atau membuat peringatan setiap tahun.
Yang dibutuhkan adalah sistem yang benar-benar menjaga anak sejak awal. Dalam Islam, negara diposisikan sebagai raa'in (pengurus) sekaligus junnah (pelindung). Negara tidak cukup hanya bertindak ketika sudah ada korban, tetapi juga wajib menutup semua jalan yang bisa membahayakan anak.
Lingkungan sosial dijaga dengan aturan Islam, keluarga dibina agar menjalankan perannya, masyarakat didorong untuk saling mengingatkan, dan pelaku kekerasan diberi sanksi yang tegas agar kejahatan tidak terus berulang.
Hari Anak Nasional seharusnya menjadi momen untuk mengevaluasi, bukan sekadar merayakan.
Sebab anak-anak tidak membutuhkan kata-kata indah bahwa mereka adalah masa depan bangsa. Mereka membutuhkan perlindungan yang benar-benar nyata. Dan perlindungan itu tidak akan lahir hanya dari slogan, tetapi dari aturan kehidupan yang benar-benar menjaga mereka.
Oleh: Nilam Astriati
Aktivis Muslimah

0 Komentar