Topswara.com -- Tanggal 23 Juli 2026 bertepatan dengan Hari Anak Nasional (HAN) dengan mengusung tema: "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan." Tak hanya itu, untuk mewujudkan tema tersebut maka peringatan hari anak disertai dengan kolaborasi Gerakan Nasional #RuangAmanNyamanAnak (Gernas RANA).
Perwujudan Gernas RANA (Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak) diimplementasikan melalui terciptanya ekosistem lingkungan pendidikan (sekolah, madrasah, dan pesantren) yang inklusif, humanis, dan bebas dari segala bentuk kekerasan fisik, verbal, maupun digital.
Maka saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di galakkan anti-perundungan untuk menghalau rasa cemas siswa di hari pertama sekolah. Kemudian memasifkan upaya menciptakan lingkungan yang aman secara fisik dan psikis, aman dari perundungan (bullying), serta kekerasan seksual.
Di lingkungan rumah pun digalakkan Gerakan #SatuJamKu: Menginisiasi kampanye bagi keluarga untuk meluangkan waktu berkualitas selama minimal satu jam bersama anak guna memperkuat ikatan emosional.
Dan hari ini di beberapa sekolah diiimbau untuk melakukan upacara bendera. Dilanjutkan dengan seremonial lainnya berupa 'dolanan anak'. Anak-anak dibiarkan mengikuti beberapa permainan 'legend' masa lampau agar anak kembali pada masa yang menyenangkan.
Tapi sayang itu hanya sehari. Esok dan esok hari, anak harus berjibaku dengan kerasnya dunia, tekanan orang dewasa, atau bahkan perlakuan kejahatan dan ketidakadilan dari lingkungan sekitar. Tidak jarang anak pun menjadi pelaku kekerasan.
Miris memang, menjumpai kenyataan yang sebenarnya. Fenomena gunung es, kekerasan seksual anak seolah tak bersolusi. Satu persoalan di selesaikan, persoalan yang sama muncul di tempat lain.
Seperti beberapa kasus perundungan yang terjadi berulang. Dulu jadi korban kini jadi pelaku. Begitu pula kasus kekerasan seksual. Tak sedikit pelaku adalah anak-anak yang di masa lampau menjadi korban. Masalah yang terus berkelindan.
Mengapa persoalan ini sulit terurai?
Tak dipungkiri kehidupan sekulerlah yang membawa pola liberal di masyarakat sehingga anak-anak menjadi korban kekerasan. Ruang digital makin bebas, sehingga anak juga menjadi pelaku kekerasan.
Mereka dengan mudah mendapatkan informasi tanpa penyaring.
Karena perlindungan dari negara pun tak ada untuk menyaring informasi melalui media sosial. Ini tampak pada tidak tegasnya negara terhadap platform digital yang merusak anak, termasuk judol, pornografi, dan game sarang pedofil. Juga tampak pada tidak tegasnya hukuman terhadap anak pelaku kriminalitas.
Lingkup keluarga dan masyarakat pun minim kontrol. Mereka tersibukkan oleh aktivitas pribadi. Beban ekonomi yang berat membuat keluarga dan masyarakat abai memberi pengawasan yang ketat.
Inilah gambaran sistem kehidupan sekuler kapitalisme, lapisan-lapisan perlindungan anak telah hilang fungsinya satu persatu. Yang membuat anak hidup tanpa perlindungan yang memadai.
Sebagai umat yang peduli dengan generasi masa depan, tentu kita tak ingin peringatan Hari Anak Nasional, sebatas hanya seremonial saja. Kita ingin negara mewujudkan tata sosial yang aman untuk anak-anak. Di antaranya dengan penjagaan terhadap sistem pergaulannya, sehingga ia terjauhkan dari kasus perundungan atau kekerasan seksual.
Maka peringatan ini tak hanya diiringi dengn berbagai 'Gerakan Nasional', tetapi diikuti pula dengan gerakan untuk kembali taat pada aturan ilahi. Karena dengan aturan ilahi (syariat), semua aspek kehidupan akan bersinergi untuk menjaga anak pada fitrahnya.
Di usia tumbuh kembangnya, akal dan fisiknya mencerna sesuatu yang memang ia butuhkan. Bukan informasi yang merusak. Sehingga ketika memasuki fase akil-baligh ia akan menjadi orang dewasa yang siap menerima taklif (beban) tanggung jawab untuk taat pada aturan Allah SWT.
Lingkungan keluarga dan masyarakat pun akan mendukung. Terlebih negara. Ia akan memberikan perlindungan dan penjagaan yang maksimal pada generasi penerus.
Semua itu hanya bisa terwujud saat aturan dan sistem kehidupan ini kembali pada aturan Sang Khaliq, yaitu sistem kehidupan Islam.[]
Oleh: Sari Diah Hastuti
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar