Topswara.com -- Dulu orang mau berjudi harus repot. Cari lapak. Cari bandar. Cari teman yang sama-sama siap kehilangan uang.
Sekarang? Cukup rebahan. Pakai ponsel. Modal kuota. Tinggal klik. Godaan setan pun ikut bertransformasi digital. Kalau dulu ia menggoda dari balik meja judi, sekarang ia nongkrong manis di layar smartphone sambil berkata, "Deposit dulu, siapa tahu rezekimu hari ini."
Lucunya, banyak yang percaya. Padahal kalau memang semudah itu menghasilkan uang, kenapa bandar judi tidak ikut bermain? Kenapa justru mereka sibuk menghitung keuntungan dari orang-orang yang berharap menjadi kaya dalam semalam?
Jawabannya sederhana. Dalam judi, yang benar-benar menang hanyalah bandar.
Yang lain? Hanya bergantian menjadi korban.
Belakangan publik kembali diguncang oleh kabar memilukan. Seorang anak diduga tega menghabisi ibu kandungnya sendiri setelah terjerat persoalan yang berkaitan dengan judi online. Mengerikan bukan?
Tetapi kalau dipikir lebih dalam, ini bukan kejadian yang muncul tiba-tiba seperti petir di siang bolong. Ini adalah buah yang dipanen dari pohon yang sudah lama dibiarkan tumbuh.
Judol tidak langsung membuat orang menjadi pembunuh. Ia bekerja jauh lebih halus. Mula-mula membuat seseorang merasa beruntung.
Lalu penasaran. Lalu ketagihan. Lalu kehilangan kontrol. Lalu kehilangan rasa malu. Lalu kehilangan hati dan pada titik tertentu, kehilangan akal.
Psikologi modern menjelaskan bagaimana kemenangan kecil memicu pelepasan dopamin yang membuat seseorang ingin mengulang perilaku yang sama. Kekalahan justru sering memperkuat dorongan untuk terus bermain demi "balik modal". Akibatnya lahirlah lingkaran kecanduan yang sulit diputus.
Tidak heran jika kita melihat begitu banyak pecandu judi online rela menjual motor, menggadaikan rumah, menguras tabungan, meminjam ke sana kemari, menipu keluarga, bahkan melakukan kekerasan hingga pembunuhan. Karena yang sedang rusak bukan sekadar isi dompet. Tetapi cara berpikir.
Imam Al-Ghazali pernah menjelaskan bahwa ketika hawa nafsu berhasil menaklukkan akal, manusia dapat jatuh lebih rendah daripada binatang. Binatang hanya mengikuti naluri saat membutuhkan.
Manusia yang diperbudak hawa nafsu justru mampu menghancurkan dirinya sendiri sambil merasa sedang mencari jalan keluar dan judi online adalah contoh yang sangat nyata.
Allah SWT sebenarnya sudah memberikan peringatan yang sangat jelas. "Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, judi, berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, maka jauhilah agar kamu beruntung."
(QS. Al-Ma'idah: 90)
Perhatikan kalimatnya.
Bukan "dikurangi." Bukan "dimoderasi."
Bukan "main secukupnya." Tetapi jauhilah.
Karena perjudian memang bukan aktivitas ekonomi. Ia adalah mekanisme pemindahan harta tanpa kerja produktif yang melahirkan permusuhan, kemalasan, dan kehancuran sosial.
Lalu muncul pertanyaan yang jauh lebih penting. Kalau semua orang tahu judi itu haram, kenapa judi online tetap tumbuh subur?
Nah, Sobat Nabila, di sinilah persoalannya tidak lagi berhenti pada moral individu. Kita sering diminta menyalahkan rakyat. Katanya rakyat kurang iman. Kurang sabar. Kurang kerja keras. Padahal rakyat juga sedang hidup di tengah tekanan ekonomi yang tidak ringan.
Harga kebutuhan naik. Lapangan pekerjaan tidak selalu mudah diperoleh. Utang konsumtif makin menggila. Iklan gaya hidup menyerbu setiap hari. Di saat yang sama, aplikasi judi bisa muncul lebih cepat daripada lowongan pekerjaan. Bukankah ini ironis?
Syaikh Taqiyyudin An-Nabhani menjelaskan bahwa berbagai kerusakan sosial tidak boleh hanya dipahami sebagai kesalahan individu semata. Dalam pandangan beliau, sistem yang diterapkan negara memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku masyarakat.
Ketika sistem ekonomi, pendidikan, media, dan penegakan hukum tidak dibangun berdasarkan syariat Islam, maka berbagai bentuk penyimpangan akan terus bermunculan meskipun pelakunya ditangkap satu per satu.
Artinya, memberantas judi online hanya dengan menangkap pemain atau bandar ibarat mengepel lantai saat keran air masih dibiarkan terbuka. Ya Capek. Ya Basah. Tetapi banjirnya tidak selesai.
Islam Berantas Judi
Islam menawarkan solusi yang jauh lebih mendasar. Bukan hanya melarang perjudian. Tetapi membangun masyarakat yang memiliki akidah kuat, menyediakan mekanisme ekonomi yang halal, memastikan kebutuhan pokok rakyat terpenuhi, mengawasi media agar tidak menjadi sarana penyebaran kemaksiatan, sekaligus menegakkan hukum secara adil terhadap pelaku kejahatan.
Dalam Islam, negara bukan sekadar penonton. Negara adalah raa'in (pengurus urusan rakyat) yang bertanggung jawab menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan masyarakat. Hari ini kita menyaksikan paradoks yang menyedihkan.
Iklan pinjaman begitu mudah muncul.
Promosi judi terus mencari celah. Pejabat dan artis pamer kekayaan. Sementara rakyat diajari bermimpi menjadi kaya tanpa proses. Padahal Islam justru mengajarkan sebaliknya.
Rezeki yang baik bukan sekadar besar. Tetapi halal. Berkah dan menghadirkan ketenangan. Karena uang haram mungkin bisa membeli makanan. Tetapi tidak bisa membeli ketenteraman.
Bisa membeli rumah. Tetapi tidak bisa membeli keluarga yang utuh. Bisa membeli kasur mahal. Tetapi tidak bisa membeli tidur yang nyenyak.
Judi online bukan sekadar aplikasi. Ia adalah wajah baru dari kerusakan yang lahir ketika hawa nafsu dipertemukan dengan sistem yang gagal melindungi masyarakat.
Maka kalau hari ini yang hilang baru uang, segera berhenti. Sebab besok yang dipertaruhkan bukan lagi saldo rekening. Bisa jadi akal. Keluarga. Kehormatan.
Bahkan akhirat dan ketika setan sudah punya aplikasi sendiri di genggaman manusia, yang dibutuhkan bukan hanya kuota internet. Tetapi iman, aturan yang benar, dan negara yang benar-benar menjalankan tugasnya menjaga rakyat dari pintu-pintu kerusakan.[]
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar