Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Bersabar Meriayah Orang Tua, Menanam Bekal untuk Masa Tua Sendiri


Topswara.com -- Masih episode kontrol Mama mertua. Hari ini ditemani Mas Sayyid. Kehadirannya bukan sekadar membantu mengantar ke rumah sakit, mengurus administrasi, atau menemani menunggu antrean dokter. Ada pelajaran yang jauh lebih besar daripada itu. Ia sedang belajar bagaimana kelak harus meriayah kedua orang tuanya ketika usia renta menghampiri.

Mungkin hari ini ia belum menyadarinya sepenuhnya. Namun setiap langkah kaki menuju ruang pemeriksaan, setiap kesabaran menghadapi orang tua yang jalannya mulai melambat, setiap kesediaan mendengar keluhan yang diulang berkali-kali, sedang ditulis Allah sebagai latihan menjadi anak yang berbakti.

Banyak orang berpikir bahwa dakwah hanya dilakukan di atas mimbar, melalui tulisan panjang, ceramah yang memukau, atau unggahan media sosial yang viral. Padahal dakwah yang paling kuat sering kali justru dilakukan tanpa suara. Dakwah itu bernama keteladanan.

Anak-anak adalah peniru terbaik. Mereka mungkin lupa nasihat yang kita ucapkan bertahun-tahun lalu, tetapi mereka hampir tidak pernah lupa bagaimana ayahnya memperlakukan ibunya, bagaimana ibunya berbicara kepada nenek dan kakeknya, atau bagaimana kedua orang tuanya bersabar ketika harus mengurus orang tua yang sakit.

Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa anak tumbuh mengikuti pendidikan, kebiasaan, dan teladan yang diberikan kepadanya. Hati mereka ibarat tanah yang bersih; apa pun yang ditanam akan tumbuh. Jika yang ditanam adalah akhlak mulia, maka akhlak itu akan berbuah. Jika yang ditanam adalah kemarahan, kelalaian, dan sikap kasar, maka itulah yang akan mereka panen ketika dewasa.

Karena itu, saat kita sedang mengusap keringat orang tua, menyuapi mereka, menggandeng tangannya ketika berjalan, atau menahan lelah demi menemani kontrol ke rumah sakit, sesungguhnya bukan hanya orang tua yang sedang kita layani. Kita sedang mendidik generasi setelah kita.

Allah SWT berfirman, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua..." (QS. Al-Isra': 23).

Perintah berbakti kepada orang tua ditempatkan setelah perintah mentauhidkan Allah. Ini menunjukkan betapa agung kedudukannya. Bahkan ketika orang tua telah renta, Allah melarang seorang anak mengucapkan kata "ah" sekalipun. Mengapa? Karena di usia senja, orang tua tidak hanya membutuhkan biaya. Mereka membutuhkan kelembutan hati anak-anaknya.

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa pendidikan yang paling efektif bukanlah banyaknya nasihat, tetapi baiknya contoh. Seorang anak akan lebih mudah meniru apa yang ia lihat daripada mengingat apa yang ia dengar. Maka jangan heran jika suatu hari nanti anak memperlakukan kita sebagaimana dulu ia melihat kita memperlakukan orang tua.

Ada sebuah pepatah Arab yang sangat dalam maknanya, "Sebagaimana engkau berbakti kepada orang tuamu, demikian pula anakmu akan berbakti kepadamu."

Kalimat ini bukan hadis Nabi, tetapi mengandung hikmah yang sejalan dengan sunnatullah. Apa yang ditanam hari ini sering kali akan dipanen pada masa depan. Bila hari ini kita memperlihatkan wajah masam kepada orang tua, jangan terkejut bila suatu hari anak-anak juga merasa berat menemani kita. 

Sebaliknya, bila hari ini mereka menyaksikan kesabaran, kelembutan, dan kasih sayang kita, insya Allah nilai itu akan hidup dalam diri mereka.

Syaikh Abd al-Fattah Abu Ghuddah pernah menekankan bahwa adab sering kali dipelajari melalui pergaulan dan keteladanan, bukan sekadar melalui buku. Sebab itu, rumah adalah madrasah pertama, sedangkan ayah dan ibu adalah guru yang pelajarannya berlangsung sepanjang hari.

Mungkin anak tidak ikut masuk ke ruang dokter. Namun ia melihat bagaimana ayahnya mendorong kursi roda nenek. Ia melihat ibunya menyiapkan obat dengan telaten. Ia melihat bagaimana kedua orang tuanya tetap lembut ketika harus mengulang penjelasan berkali-kali kepada orang tua yang mulai pelupa.

Semua itu sedang direkam. Bukan oleh kamera. Melainkan oleh hati dan rekaman hati itulah yang akan diputar kembali ketika kelak ia menjadi seorang suami, seorang istri, bahkan ketika ia harus mengurus kita yang mulai renta.

Karena itu, wahai para orang tua, bersabarlah. Jangan lelah mencontohkan akhlak terbaik. Jangan bosan menunjukkan kasih sayang kepada ayah dan ibu kita. Sebab bisa jadi, pelayanan yang hari ini kita berikan kepada orang tua bukan hanya menjadi sebab ridha Allah, tetapi juga menjadi doa yang diam-diam sedang kita tanam untuk masa tua kita sendiri.

Semoga Allah menjadikan anak-anak kita sebagai penyejuk mata, anak yang ringan melangkah mengurus orang tuanya, dan menjadikan rumah-rumah kaum Muslim dipenuhi kasih sayang antargenerasi hingga akhir hayat.

Percayalah Sobat Nabila, apa yang sedang kita perlihatkan hari ini akan menjadi pelajaran bagi anak-anak kita dan apa yang mereka pelajari hari ini, sangat mungkin menjadi cara mereka memperlakukan kita di masa tua nanti. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar