Topswara.com -- Refleksi Mendalam atas QS. Adz-Dzariyat Ayat 56–58
Ketika Manusia Kehilangan Tujuan Hidup
Salah satu krisis terbesar manusia modern bukanlah krisis ekonomi, bukan pula krisis teknologi, melainkan krisis makna hidup. Banyak orang hidup dengan kesibukan yang luar biasa, tetapi tidak memahami untuk apa mereka hidup.
Mereka berlari dari pagi hingga malam, mengejar harta, jabatan, popularitas, dan berbagai kenikmatan dunia, namun hati mereka tetap merasa kosong.
Ada yang mengira bahwa tujuan hidup adalah menjadi kaya. Setelah kaya, ternyata kegelisahan tetap ada. Ada yang menganggap kebahagiaan terletak pada kekuasaan. Setelah berkuasa, ternyata ketakutan kehilangan kekuasaan terus menghantuinya.
Ada pula yang mengejar pujian manusia, tetapi semakin dipuji makin haus akan pengakuan. Di tengah kegelisahan itu, Al-Qur'an memberikan jawaban yang sangat mendasar dan sekaligus membebaskan manusia dari kebingungan eksistensial.
Allah SWT berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56–58:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ مَآ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَآ اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh."(QS. Adz-Dzariyat (51) : 56-58 ).
Tiga ayat ini merupakan salah satu deklarasi paling agung dalam Al-Qur'an tentang siapa manusia, untuk apa ia hidup, dan kepada siapa ia harus bergantung.
Misi Agung Penciptaan Manusia
Allah menegaskan: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
Ayat ini menjelaskan bahwa manusia tidak diciptakan secara sia-sia. Kehidupan bukanlah sebuah kebetulan, dan keberadaan manusia bukanlah hasil dari proses tanpa tujuan. Setiap manusia lahir membawa misi yang sangat mulia, yaitu menjadi hamba Allah.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa makna ibadah dalam ayat ini sangat luas. Ibadah bukan hanya shalat, puasa, zakat, dan haji. Ibadah adalah seluruh aktivitas yang dilakukan sesuai perintah Allah dan diniatkan untuk mencari ridha-Nya.
Karena itu, seorang petani dapat beribadah ketika mengolah sawahnya dengan jujur. Seorang guru dapat beribadah ketika mengajarkan ilmu yang benar. Seorang pedagang dapat beribadah ketika berdagang tanpa menipu. Bahkan seorang ayah dan ibu yang mendidik anak-anaknya dalam ketaatan juga sedang beribadah kepada Allah.
Inilah keindahan Islam. Islam tidak memisahkan kehidupan dunia dan akhirat. Dunia bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk dijadikan ladang pengabdian kepada Allah.
Ibadah Membebaskan Manusia dari Perbudakan Dunia
Ironisnya, banyak manusia yang mengaku bebas, tetapi sebenarnya diperbudak oleh berbagai hal.
Ada yang menjadi budak uang sehingga menghalalkan segala cara demi keuntungan. Ada yang menjadi budak jabatan sehingga rela mengorbankan prinsip dan kehormatan. Ada yang menjadi budak hawa nafsu sehingga hidupnya dikendalikan oleh syahwat dan keinginan sesaat.
Padahal hakikat kemerdekaan sejati adalah ketika seseorang hanya tunduk kepada Allah. Semakin seseorang menghambakan dirinya kepada Allah, semakin bebas ia dari ketergantungan kepada makhluk. Ia tidak lagi menjadikan dunia sebagai tujuan hidup, tetapi sebagai sarana menuju ridha Allah.
Para ulama salaf mengatakan:
"Barangsiapa lari dari penghambaan kepada Allah, maka ia akan jatuh dalam berbagai bentuk penghambaan kepada selain-Nya."
Karena itu, ibadah bukanlah belenggu. Ibadah justru merupakan jalan pembebasan jiwa.
Allah Tidak Membutuhkan Ibadah Kita
Setelah menjelaskan tujuan penciptaan manusia, Allah berfirman:
"Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku."
Ayat ini mengandung pelajaran akidah yang sangat mendalam. Allah tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya.
Allah tidak menjadi lebih mulia karena ketaatan manusia. Allah juga tidak menjadi berkurang kekuasaan-Nya karena kemaksiatan manusia.
Seluruh alam semesta adalah milik-Nya. Langit dan bumi berada dalam genggaman-Nya. Maka ketika Allah memerintahkan ibadah, sesungguhnya perintah itu bukan demi kepentingan Allah, tetapi demi kemaslahatan manusia sendiri.
Shalat bukan kebutuhan Allah, melainkan kebutuhan hati manusia. Zikir bukan kebutuhan Allah, melainkan kebutuhan jiwa manusia. Taubat bukan kebutuhan Allah, melainkan kebutuhan manusia yang ingin kembali kepada fitrahnya.
Ibadah adalah rahmat yang Allah berikan agar manusia menemukan ketenangan, kebahagiaan, dan keselamatan hidup.
Mengapa Hati Tetap Gelisah?
Banyak orang memiliki kecukupan materi tetapi tidak memiliki ketenteraman batin. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana tetapi hatinya tenang.
Salah satu sebabnya adalah karena hati manusia diciptakan untuk mengenal dan menyembah Allah.
Ketika hati menjauh dari tujuan penciptaannya, ia akan mengalami kegelisahan. Sebagaimana ikan tidak akan hidup tanpa air, demikian pula hati tidak akan hidup tanpa kedekatan kepada Allah.
Karena itu, kemajuan teknologi tidak otomatis menghadirkan kebahagiaan.
Kekayaan tidak otomatis menghadirkan ketenteraman. Hanya hubungan yang benar dengan Allah yang mampu mengisi kekosongan terdalam dalam jiwa manusia.
Allah Adalah Satu-Satunya Pemberi Rezeki
Kemudian Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya: "Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh."
Ayat ini meluruskan cara pandang manusia terhadap rezeki. Sering kali manusia menggantungkan harapannya kepada pekerjaan, jabatan, usaha, relasi, atau kekuatan ekonomi. Ketika salah satu di antaranya hilang, ia merasa masa depannya hancur.
Padahal Al-Qur'an mengajarkan bahwa semua itu hanyalah sebab. Hakikat pemberi rezeki adalah Allah SWT.
Pekerjaan bukan sumber rezeki.
Perusahaan bukan sumber rezeki.
Pasar bukan sumber rezeki.
Manusia bukan sumber rezeki.
Semua hanyalah perantara yang Allah gunakan untuk menyalurkan rezeki-Nya.
Kesadaran ini melahirkan ketenangan yang luar biasa. Seseorang akan bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi hatinya tidak bergantung kepada pekerjaannya. Ia berusaha maksimal, namun tawakalnya hanya kepada Allah.
Mencari Rezeki dengan Jalan Ketaatan
Jika Allah adalah Ar-Razzaq, maka tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk mencari rezeki melalui jalan yang haram.
Korupsi, suap, riba, penipuan, manipulasi, dan berbagai bentuk kemaksiatan sering kali lahir dari ketakutan bahwa rezeki tidak akan cukup.
Padahal keyakinan kepada Allah sebagai Ar-Razzaq mengajarkan bahwa rezeki tidak akan tertukar dan tidak akan datang lebih cepat atau lebih lambat dari ketentuan-Nya.
Karena itu, keberkahan rezeki lebih penting daripada jumlah rezeki. Sedikit tetapi halal dan diberkahi Allah jauh lebih bernilai daripada banyak tetapi diperoleh melalui jalan yang dimurkai-Nya.
Refleksi untuk Diri Kita
Ketika membaca QS. Adz-Dzariyat ayat 56–58, ada tiga pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri:
Pertama, apakah hidup kita benar-benar diarahkan untuk beribadah kepada Allah, atau justru habis untuk mengejar dunia semata?
Kedua, apakah ibadah yang kita lakukan sudah lahir dari kesadaran sebagai hamba, atau sekadar rutinitas tanpa penghayatan?
Ketiga, apakah hati kita bergantung kepada Allah Sang Pemberi Rezeki, atau masih bergantung kepada makhluk dan sebab-sebab duniawi?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan kualitas hidup kita di dunia dan nasib kita di akhirat.
Penutup: Kembali kepada Tujuan Penciptaan
QS. Adz-Dzariyat ayat 56–58 mengajarkan bahwa manusia akan menemukan ketenangan ketika ia memahami tiga hakikat besar: Ia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Allah tidak membutuhkan dirinya, tetapi dirinyalah yang membutuhkan Allah. Allah adalah satu-satunya pemberi rezeki yang sejati.
Ketika tiga keyakinan ini tertanam kuat dalam hati, hidup akan menjadi lebih jernih. Kesuksesan tidak membuat sombong, kegagalan tidak membuat putus asa, dan kesempitan rezeki tidak membuat gelisah berlebihan.
Seorang mukmin akan menjalani hidup dengan penuh makna, bekerja dengan penuh amanah, beribadah dengan penuh cinta, dan bertawakal dengan penuh keyakinan.
Sebab ia mengetahui bahwa tujuan hidupnya bukan sekadar hidup lebih lama, bukan sekadar mengumpulkan lebih banyak, tetapi menjadi hamba Allah yang setia hingga kembali menghadap-Nya dengan hati yang bersih dan amal yang diridhai-Nya.
"Barangsiapa mengenal tujuan penciptaannya, ia akan menemukan arah hidupnya. Dan barangsiapa mengenal Tuhannya, ia akan menemukan ketenangan yang tidak dapat diberikan oleh dunia." Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Oleh: Dr Nasrul Syarif M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo

0 Komentar