Topswara.com -- Negeri ini kaya, kaya akan sumber daya alam yang sangat melimpah, jika di kelola dengan benar maka sangat mustahil ada rakyat yang lapar, kekurangan bahkan ada yang nekad bunuh diri karena alas ekonomi.
Negeri ini di anugerahkan kekayaan alam yang tidak terbatas, namun ketika salah kelola dan penguasanya tidak pandai dalam pengelolaannya, maka rakyat yang menanggung akibatnya. Rakyat miskin makin miskin, rakyat yang tadinya berkecukupan menjadi miskin baru, bahkan lebih dari itu.
Kemiskinan masih menjadi tantangan utama dalam pembangunan nasional, ditengah berbagai capaian ekonomi, masih terdapat kelompok masyarakat yang hidup dalam keterbatasan dan membutuhkan perhatian khusus dari negara.
Di Kabupaten Bandung Barat (KBB) Jawa Barat, seorang anak disabilitas bernama Muhamad Rizky (11) mempunyai kebiasaan tidak lazim, ia memakan dedaunan, mulai dari rumput hingga pucuk tanaman. Kebiasaan itu ia lakukan karena keterbatasan ekonomi keluarga. Ia tinggal bersama ayah dan neneknya, keluarga ini hidup dalam kondisi ekonomi sangat terbatas. (30/04/2026 tribunnews.com)
Miris, fakta diatas mungkin hanya satu yang terekspos media, bukan tidak mungkin ada kasus-kasus di daerah lain yang mengalami hal yang sama, mereka kesulitan mendapatkan bahan pokok makanan dan akhirnya memakan dedaunan atau pucuk daun hanya sekedar untuk mengganjal perut yang lapar. Bahkan tidak jarang juga mereka memakan nasi aking, tiwul dan lain-lain.
Kasus-kasus tersebut seharusnya menjadi tamparan yang sangat keras bagi pemerintah daerah khususnya dan pemerintah pusat umumnya, bahwa kondisi tersebut merupakan cermin bagaimana abainya pemerintah mengurusi rakyatnya. Namun inilah kondisi yang saat ini terjadi, rakyat dibiarkan hidup dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Sementara pemerintah terus menghamburkan APBN untuk program yang belum jelas manfaatnya, seperti MBG (makan bergizi gratis) dengan tujuan awal menyelesaikan masalah stunting.
Kini bergeser menjadi lahan bancakan bagi para elit dan keluarganya, yang makin menyedot anggaran negara, bahkan menambah hutang lagi, alhasil, hutang negeri ini melambung tinggi dengan bunga yang sangat tinggi pula, dan terancam mengalami defisit anggaran.
Inilah bukti nyata betapa kondisi saat ini tidak baik-baik saja, sistem kapitalisme sekularisme makin jelas membuat jarak antara miskin dan kaya, mereka yang mempunyai uang bisa makan enak sedangkan rakyat miskin harus rela hidup dengan serba kekurangan bahkan kelaparan, negeri ini kaya namun salah kelola, sehingga kemiskinan makin melejit karena rakyat di miskinkan secara struktural.
Berbeda halnya dengan Islam, didalam Islam penguasa adalah raa'in atau pengurus, mereka mengurus dengan sebaik-baiknya, rakyat ibarat gembalaan, dan seorang penggembala tidak akan membiarkan gembalaannya kelaparan. Begitupun seorang khalifah atau pemimpin tidak akan membiarkan rakyatnya kelaparan.
Sumber daya alam dikelola dengan sebaik-baiknya oleh negara dan diperuntukkan untuk rakyat, mekanisme pengelolaan sangat jelas dan transparan, sehingga tidak akan ada penyalahgunaan dalam pengelolaan, karena kesadaran penuh bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban.
Begitulah Islam, seorang khalifah didalam Islam memimpin dengan hati dan iman yang kuat, sehingga mempunyai rasa takut ketika amanah yang di bebankan tidak terlaksana. Dan semua itu hanya bisa di terapkan dalam sistem yang memanusiakan manusia yaitu sistem khilafah 'alaa minhajjinnubuwwah.
Wallahualam bishawab.
Oleh: Ade Siti Rohmah
Aktivis Muslimah

0 Komentar