Topswara.com -- Telah terjadi pengeroyokan yang menimpa seorang pelajar di Bantul, dia sempat dirawat di rumah sakit namun dinyatakan meninggal dunia. 2 dari 7 orang pelaku sudah tertangkap namun 5 lainnya masih buron. Polisi masih mendalami motif dibalik pengeroyokan itu.
Sementara itu pelaku dijerat dengan pasal berlapis karena pengeroyokan itu direncanakan, sebelumnya korban dijemput dan di bawa ke belakang SMA 1 Bambanglipuro, lalu dibawa ke lapangan gadung Mlaten dan dikeroyok secara brutal menggunakan selang, pipa paralon, disundut rokok bahkan korban dilindas motor beberapa kali. (kumparannews.com 21 April 2026).
Peringatan Hardiknas menjadi seremonial wajib tiap tahun, akan tetapi refleksi nya jauh dari kata positif. Dimana semakin bobroknya sistem pendidikan dan juga output yang dihasilkan dari produk tersebut.
Kasus kekerasan dan pelecehan seksual makin banyak dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa, ruang aman di sekolah dan kampus tak terjamin. Prilaku amoral ini dilakukan oleh orang orang yang terdidik, sebagai cerminan dari rusaknya moral generasi hari ini. Yang jauh dari akhlak mulia dan kepribadian orang terpelajar.
Sejatinya momen Peringatan hardiknas menjadi alarm keras bagi semua pihak untuk memperbaiki kembali kondisi buruk dunia pendidikan hari ini. Yang jauh dari kata ideal. Dunia pendidikan hari ini banyak tercoreng oleh prilaku amoral para pelajar.
Kegagalan implementasi arah/peta jalan pendidikan sehingga menghasilkan pelajar yang krisis kepribadiannya, yaitu cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis, sehingga jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral.
Sistem pendidikan hari ini hanya di rancang untuk memenuhi tuntutan dunia pekerjaan sehingga jauh dari nilai-nilai islami yang lebih menitikberatkan bukan hanya pada kecerdasan intelektual tetapi juga kepribadian Islam sehingga melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas tapi berakhlak mulia.
Sistem pendidikan sekuler kapitalistik menghasilkan output orang-orang yang ingin sukses instan tanpa mau berusaha secara serius, juga orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar.
Longgarnya sanksi negara bagi pelaku pelajar (mayoritas masih di bawah umur) sehingga menoleransi kriminalitas yang dilakukan sebagai kenakalan anak semata. Tanpa ada sanksi yang tegas sehingga tidak ada efek jera bagi pelakunya. Hari ini nyawa manusia seolah tidak ada harganya di rusaknya sistem.
Minimnya pendidikan nilai-nilai agama yang benar dalam pendidikan sekuler, memperlebar ruang kebebasan yang akhirnya mengikis moral dan kepribadian, bahkan mudah terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan.
Agama bukan dijadikan sebagai acuan dalam sistem pendidikan tetapi hanya pelengkap dan simpan sebagai ranah pribadi bukan sebagai dasar kurikulum pendidikan.
Dalam Islam, pendidikan merupakan hal penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Asas akidah pada sistem pendidikan Islam menghasilkan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa sehingga tidak melakukan kecurangan demi meraih kesuksesan.
Pendidikan Islam fokus pada pembentukan karakter (syakhsiyah Islamiah) dimana pelajar harus memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikapnya. Pengaruhnya adalah keterikatan pelajar dengan syariat Islam. Dampaknya adalah terciptanya masyarakat yang bertakwa. Yang mengedepankan amat makruf nahi mungkar dan tersebar luas dakwah Islam.
Metodologi penerapan dari fikrah ini adalah terciptanya sistem pendidikan Islam yang diselenggarakan oleh negara. Sebagai perwujudan dari pengaturan urusan umat yang merupakan tanggungjawab negara sebagai junnah/pelindung/ perisai. Karena politik dalam Islam adalah mengurusi urusan umat.
Islam menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi para pelaku kejahatan termasuk pelajar. Bagi pelaku pembunuhan di berlakukan hukum qishas. Bagu pelaku zina Islam menerapkan hukum cambuk 100 kali bagi pelaku zina yang belum menikah dan dirajam sampai mati bagi pelaku zina yang sudah menikah. Penerapan hukum Islam ini tentu akan memberikan efek jera bagi pelaku zina.
Islam mewajibkan untuk menutup aurat dan menundukkan pandangan kepada para pemuda, mendorong para pemuda yang layak menikah untuk segera menikah.
Negara Islam akan membangun suasana hidup yang penuh ketakwaan dan mendorong setiap orang untuk berlomba dalam amal kebaikan.
Sinergi pendidikan dalam keluarga, lingkungan dan sistem pendidikan Islam yang diterapkan oleh negara harus berpijak pada akidah dan syariat Islam.
Oleh sebab itu sudah saatnya kita menerapkan kembali sistem Islam hyang bukan hanya ibadah ritual tetapi penerapannya secara menyeluruh dalam aspek kehidupan.
Wallahu alam bissawab.
Oleh: Dewi Sulastini
Aktivis Muslimah

0 Komentar