Topswara.com -- Setiap Idul Adha datang, manusia sibuk upload foto sate, gulai, tongseng, dan kambing yang mendadak jadi artis kompleks.
Timeline penuh asap bakaran. Yang biasanya diet ketat, mendadak berkata, “Bismillah cheat day karena sunnah.”
Padahal Idul Adha bukan sekadar momen daging melimpah atau lomba siapa paling cepat upload foto sapi kurban ukuran truk alias jumbo premium. Di balik semua itu ada pelajaran besar tentang sesuatu yang makin langka di zaman sekarang, yaitu ketaatan total kepada Allah.
Karena inti Idul Adha bukan soal hewan yang disembelih. Tetapi ego manusia yang seharusnya ikut disembelih.
Kisah ini bermula dari Nabi Ibrahim AS. Seorang nabi mulia yang begitu lama menunggu kehadiran anak. Bayangkan. Bertahun-tahun berdoa. Usia makin tua. Harapan manusiawi mungkin sudah hampir padam. Lalu Allah mengaruniakan seorang anak yang sangat dicintai, dialah Ismail AS.
Ketika cinta itu tumbuh begitu dalam, Allah menguji Nabi Ibrahim dengan sesuatu yang mengguncang hati manusia biasa. Allah Swt memerintahkan beliau menyembelih anaknya sendiri. Bukan anak tetangga. Bukan kambing. Bukan unta. Tetapi anak yang lahir setelah penantian panjang.
Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman, “Maka ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’” (QS Ash-Shaffat: 102).
Coba perhatikan. Nabi Ibrahim tidak sedang menghadapi ujian kecil.
Ini bukan sekadar kehilangan harta. Ini ujian tentang cinta terbesar dalam hidupnya. Namun luar biasanya, Nabi Ibrahim tidak membantah. Tidak protes. Tidak berkata, “Ya Allah kenapa anakku?”
Tidak juga membuat thread panjang berjudul, “Lima alasan kenapa ujian hidupku paling berat.”
Beliau taat dan lebih luar biasa lagi, jawaban Nabi Ismail AS. Ia berkata, “Wahai ayahku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS Ash-Shaffat: 102).
MasyaAllah. Bayangkan anak muda hari ini disuruh bangun subuh saja kadang jawabnya, “Nanti dulu lima menit” Tapi Ismail AS diminta disembelih justru berkata, “Laksanakan perintah Allah.”
Inilah level iman yang luar biasa. Para ulama menjelaskan bahwa kisah ini bukan sekadar tentang penyembelihan fisik, tetapi tentang pembuktian cinta tertinggi kepada Allah.
Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah menguji Nabi Ibrahim pada sesuatu yang paling ia cintai agar tampak bahwa cinta beliau kepada Allah berada di atas segalanya. Karena manusia sering mengaku mencintai Allah, tetapi ketika keinginannya bertabrakan dengan syariat, yang dipilih malah hawa nafsunya sendiri.
Maunya nutup aurat, tetapi masih tetap ingin dipuji manusia kecantikan rambutnya. Maunya taat, tetapi masih gengsi meninggalkan maksiat. Maunya surga tetapi tetap nyaman melanggar aturan Allah.
Padahal Idul Adha mengajarkan bahwa iman itu bukan sekadar ucapan. Iman itu ketaatan, bahkan ketika berat. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan kurban).” (HR Tirmidzi)
Namun jangan salah paham. Allah bukan butuh darah hewan kita. Allah berfirman, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS Al-Hajj: 37)
Nah, di sini tamparannya keras.
Karena kadang manusia sibuk cari hewan kurban paling besar, tetapi lupa memperbesar ketakwaannya sendiri.
Kambingnya jumbo. Sapinya mahal. Tetapi lisannya masih suka melukai. Shalat masih bolong. Maksiat masih dipelihara baik-baik seperti tanaman hias.
Padahal hakikat kurban adalah menyembelih sifat buruk dalam diri.
Menyembelih kesombongan. Menyembelih cinta dunia berlebihan. Menyembelih hawa nafsu yang membuat manusia jauh dari Allah.
Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa hikmah terbesar Idul Adha adalah melatih seorang Muslim untuk mendahulukan perintah Allah di atas kepentingan pribadi.
Karena agama ini bukan dibangun di atas logika manusia semata. Tetapi di atas kepatuhan kepada Rabb semesta alam.
Dan lihatlah bagaimana akhir kisah Nabi Ibrahim AS. Ketika beliau benar-benar membuktikan ketaatan total, Allah mengganti Ismail dengan sembelihan yang besar. Allah tidak menyia-nyiakan pengorbanan hamba-Nya.
Maka sebenarnya Idul Adha sedang bertanya kepada kita, apa yang paling sulit kamu lepaskan demi Allah? Ego? Maksiat Hubungan haram? Kesombongan? Atau dunia yang terlalu kau cintai?
Karena mungkin hari ini Allah tidak meminta kita menyembelih anak seperti Nabi Ibrahim AS. Tetapi Allah meminta kita menyembelih hawa nafsu yang terus membuat hati jauh dari-Nya.
Jadi Idul Adha bukan sekadar tentang daging yang dibagikan. Tetapi tentang hati yang belajar tunduk. Sebab pada akhirnya, manusia yang paling mulia bukan yang paling kaya, paling terkenal, atau paling viral. Tetapi yang paling taat kepada Allah SWT bahkan ketika itu berat. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar