Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Gaza dan Hilangnya Nurani Dunia


Topswara.com -- Kekejaman Zionis terhadap muslim Palestina terus menunjukkan wajah paling brutal dari penjajahan modern. Bukan hanya mereka yang masih hidup menjadi sasaran pembantaian, bahkan jenazah pun tak luput dari penghinaan. 

Banyak warga syahid yang tidak diizinkan dimakamkan di tanah kelahirannya sendiri, bahkan kuburan dibongkar dan dipindahkan secara paksa. Anak-anak dibunuh, rumah sakit dihancurkan, dan warga sipil hidup di tengah ketakutan yang tiada henti. 

Pada saat yang sama, wilayah pendudukan terus diperluas dan agresi baru kembali disiapkan oleh Zions di Jalur Gaza (Antara News, 2026).

Gaza juga berubah menjadi tempat paling berbahaya bagi jurnalis. Sejak 7 Oktober 2023, ratusan pekerja media terbunuh saat meliput genosida yang terjadi. Laporan berbagai lembaga internasional menyebut Gaza sebagai wilayah paling mematikan bagi insan pers di dunia. 

Sementara itu, jumlah korban terus meningkat hingga puluhan ribu jiwa meninggal dan ratusan ribu lainnya mengalami luka-luka. Banyak anak Palestina harus kehilangan anggota tubuh akibat serangan brutal tanpa henti.

Realitas ini menunjukkan bahwa Zionis sama sekali tidak peduli terhadap gencatan senjata ataupun hukum internasional. Dukungan politik, militer, dan finansial dari Amerika Serikat membuat entitas penjajah itu terus leluasa memperluas pendudukan dan melakukan genosida. 

Mereka tidak hanya menyerang warga sipil, tetapi juga berusaha membungkam dunia dari fakta yang sebenarnya. Karena itulah para jurnalis ikut menjadi target serangan. Ketika media dibungkam, kejahatan menjadi lebih mudah disembunyikan.

Tragedi Palestina seharusnya mengguncang hati kaum muslim di seluruh dunia. Namun hingga hari ini, dunia internasional hanya sibuk dengan kecaman tanpa tindakan nyata. Negeri-negeri muslim yang jumlahnya lebih dari lima puluh pun tampak tidak memiliki keberanian politik untuk menghentikan penjajahan tersebut. 

Nasionalisme telah memecah umat ke dalam batas-batas negara sehingga ukhuwah islamiah melemah. Akibatnya, penderitaan Palestina dipandang sekadar urusan wilayah tertentu, bukan persoalan seluruh kaum muslim.

Padahal, akar masalah Palestina bukan sekadar konflik perbatasan atau sengketa politik biasa. Persoalan utamanya adalah keberadaan entitas penjajah Zion*s di tanah kaum muslim. Selama entitas itu tetap bercokol, maka penjajahan, pembantaian, dan penghinaan terhadap rakyat Palestina akan terus berulang.

Allah Swt. berfirman:
“Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak…” (QS An-Nisa: 75). 

Ayat ini menegaskan bahwa membela kaum tertindas bukan pilihan sampingan, melainkan kewajiban syar’i. Islam tidak membiarkan umatnya diam menyaksikan darah kaum muslim ditumpahkan.

Karena itu, pembebasan Palestina membutuhkan ukhuwah islamiah yang hakiki. Persatuan itu tidak cukup diwujudkan lewat konferensi, bantuan kemanusiaan, atau pernyataan diplomatik. Umat membutuhkan institusi pemersatu yang mampu menggerakkan seluruh potensi kaum muslim, termasuk kekuatan militer. Dalam pandangan Islam, institusi tersebut adalah khilafah.

Khilafah akan mempersatukan negeri-negeri muslim dalam satu kepemimpinan sehingga kekuatan umat tidak tercerai-berai. Dengan persatuan itu, penjajahan Zionis dapat dihentikan dan tanah Palestina dikembalikan kepada pemiliknya. Negara akan meriayah rakyat Palestina, menjamin keamanan mereka, serta memulihkan kehidupan secara mulia sesuai syariat Islam.

Hari ini, agenda paling mendesak bagi umat bukan sekadar mengecam kejahatan Zionis, tetapi memperjuangkan kembali persatuan kaum muslim di bawah kepemimpinan Islam. Sebab hanya dengan kekuatan umat yang bersatu, Palestina dapat benar-benar dibebaskan dan genosida bisa dihentikan. Wallahu a'lam bishawab []


Penulis: Mahrita Julia Hapsari
(Aktivis Muslimah Banua)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar