Topswara.com -- Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei seharusnya menjadi momen refleksi. Namun, realitanya dunia pendidikan semakin memprihatinkan. Berbagai kasus bermunculan dan menunjukkan kondisi miris.
Pemerintah berencana menutup program studi yang dianggap tidak relevan dengan dunia industri, termasuk keguruan (Pikiran Rakyat, 27 April 2026). Hal ini mengkhawatirkan di tengah menurunnya kualitas pendidikan.
Kasus kekerasan semakin parah. Seorang siswa di Batu meninggal akibat pengeroyokan (tvOneNews, 22 April 2026). Ini bukan sekadar kenakalan remaja, tetapi krisis kepribadian.
Kasus pelecehan seksual juga meningkat, bahkan terjadi di perguruan tinggi (Kompas.com, April 2026). Hal ini menunjukkan pendidikan belum menjamin akhlak yang baik.
Selain itu, praktik kecurangan seperti joki dan plagiarisme semakin marak (Medcom.id, 23 April 2026). Hal ini mencerminkan rendahnya kejujuran dan tanggung jawab. Bahkan, ada pihak yang memfasilitasi kecurangan. Akibatnya, kampus berisiko meluluskan mahasiswa yang tidak kompeten.
Semua fakta menunjukkan satu hal: pendidikan hari ini gagal membentuk kepribadian. Pelajar cenderung pragmatis, instan, dan berani melanggar norma.
Akar masalahnya terletak pada sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem kapitalisme tampak menjanjikan kemajuan materi, tetapi memiliki banyak kelemahan.
Sistem ini tidak mampu membentuk dan mengarahkan generasi dengan baik, sehingga lahir generasi yang kehilangan arah dan nilai. Padahal, Allah telah memberikan aturan hidup yang sempurna melalui Islam.
Allah berfirman:
اِÙ†َّ الدِّÙŠْÙ†َ عِÙ†ْدَ اللّٰÙ‡ِ الْاِسْÙ„َامُۗ
"Sesungguhnya agama yang diridai di sisi Allah hanyalah Islam." (QS. Ali Imran: 19)
Allah juga berfirman: "Maka ikutilah syariat itu dan jangan mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui." (QS. Al-Jasiyah: 18). Ayat ini menegaskan bahwa aturan hidup manusia bersumber dari Allah, bukan akal semata.
Islam hadir sebagai solusi karena mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan.
Pertama, pendidikan Islam berbasis akidah. Tujuannya bukan hanya mencetak individu cerdas, tetapi juga bertakwa. Pelajar menyadari Allah sebagai Pencipta sekaligus Pengatur hidup. Allah berfirman:
اِÙ‚ْرَØ£ْ بِاسْÙ…ِ رَبِّÙƒَ الَّذِÙŠْ Ø®َÙ„َÙ‚َۚ
"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-‘Alaq: 1)
Dan dalam QS. Al-Mujadilah: 11 disebutkan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang beriman dan berilmu.
Kedua, Islam membentuk kepribadian (syakhsiyah islamiah), yaitu keselarasan antara pola pikir dan perilaku. Allah berfirman: "Wahai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?" (QS. As-Saff: 2–3)
Islam juga menanamkan kejujuran sebagai prinsip utama. Allah berfirman: "Bertakwalah kepada Allah dan bersama orang-orang jujur." (QS. At-Taubah: 119)
Rasulullah bersabda bahwa kejujuran membawa pada kebaikan dan kebaikan mengantarkan ke surga.
Ketiga, Islam membangun lingkungan yang baik melalui sinergi keluarga, masyarakat, dan negara.
Peradaban Islam melahirkan ilmuwan seperti Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi yang unggul dalam ilmu dan berakhlak mulia.
Negara menjaga sistem agar berjalan sesuai syariat, sehingga tidak ada ruang bagi kekerasan, pergaulan bebas, maupun kecurangan.
Sinergi ini menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan melahirkan generasi cerdas serta berakhlak.
Dari sini jelas bahwa solusi pendidikan tidak cukup melalui perubahan teknis, tetapi membutuhkan perubahan sistem secara menyeluruh.
Selama pendidikan dipisahkan dari agama, masalah akan terus muncul. Sebaliknya, jika Islam diterapkan secara menyeluruh, pendidikan akan melahirkan generasi cerdas, berakhlak, dan bertanggung jawab.
Wallahualam bissawab.
Oleh: Wilda Nusva Lilasari, S.M.
Aktivis Muslimah

0 Komentar