Topswara.com -- Standar sosial yang berkembang di tengah masyarakat dinilai tidak dapat dijadikan tolok ukur dalam memahami perempuan. Menurut Praktisi Klinis Bidan, Owner dan Leader Klinik Utama Cikal Mulia, Bidan Nur Alima Amelia, S.Tr.Keb.,M.Sc ia membeberkan
“Standar Sosial Tak Bisa Menggeser Fitrah Perempuan, Bidan Amel Tegaskan Ketetapan Allah” tegasnya, dalam kegiatan Ruang Sapa dan Curhat Muslimah yang digelar di resto AdoGalo Bogor bertajuk Wanita Hebat Dalam Fitrahnya. Senin (6/4/2026)
Bidan Amel menegaskan bahwa fitrah perempuan merupakan ketetapan Allah yang tidak bisa digeser oleh konstruksi manusia. “Fitrah itu datang dari Allah. Maka tidak mungkin aturan Allah bertentangan dengan kebaikan bagi perempuan itu sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, fitrah manusia telah ditetapkan secara tetap sebagaimana makna QS. Ar-Rum ayat 30.
“Fitrah bukan hasil budaya, bukan konstruksi sosial. Ini ketetapan Allah yang tidak berubah,” katanya.
Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan merupakan bagian dari kesempurnaan penciptaan.
“Perempuan memiliki kecenderungan kasih sayang dan kekuatan emosional. Itu bukan kelemahan, tapi potensi yang harus dijalankan sesuai tuntunan,” ujarnya.
Namun demikian, ia menilai berkembangnya berbagai pandangan saat ini justru melemahkan kepercayaan perempuan terhadap dirinya sendiri, termasuk dalam hal fungsi biologis.
“Saya sering mendengar narasi ‘panggul sempit, tidak bisa melahirkan normal’. Seolah-olah tubuh perempuan ini tidak mampu menjalankan perannya,” ungkapnya.
Data World Health Organization menunjukkan angka persalinan melalui operasi caesar di berbagai negara terus meningkat dan kerap melampaui batas ideal 10–15 persen, yang memunculkan perhatian terhadap kecenderungan intervensi medis yang tidak selalu didasarkan pada kondisi darurat.
Menanggapi hal tersebut, Bidan Amel menegaskan pentingnya mengembalikan cara pandang pada keyakinan terhadap penciptaan Allah.
“Kalau Allah yang menciptakan tubuh perempuan, maka Allah Maha Tahu dan Maha Mengatur. Tidak mungkin Allah menciptakan sesuatu tanpa kemampuan menjalankan fungsinya,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa rasa takut yang muncul pada sebagian perempuan sering kali dipengaruhi oleh cara pandang yang tidak utuh.
“Banyak perempuan sebenarnya mampu, tetapi sudah merasa tidak bisa sejak awal karena rasa takut,” katanya.
Di sisi lain, ia juga menyoroti kondisi perempuan saat ini yang menghadapi tekanan peran yang semakin kompleks. “Perempuan hari ini dituntut banyak hal, tapi sering kali tidak diarahkan untuk kembali memahami jati dirinya sesuai fitrah,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sumber konflik yang banyak dialami perempuan saat ini berakar dari kesenjangan antara ekspektasi dan realita.
“Ada standar-standar tinggi yang dibentuk oleh lingkungan dan media, sehingga perempuan merasa harus menjadi ‘sempurna’ di semua sisi. Ketika realita tidak sesuai dengan ekspektasi itu, muncullah tekanan, rasa tidak cukup, bahkan kehilangan percaya diri,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut makin menjauhkan perempuan dari ketenangan karena tidak berpijak pada fitrah yang telah ditetapkan. “Kalau ukurannya bukan lagi apa yang Allah tetapkan, tetapi apa kata manusia, maka perempuan akan terus merasa kurang,” tambahnya.
Dalam kajian tersebut, Bidan Amel kembali menegaskan bahwa Islam telah menetapkan posisi perempuan secara jelas dan memuliakan.
“Islam menjaga perempuan, melindungi, dan memuliakan perannya,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa perempuan memiliki peran sebagai hamba Allah sekaligus menjalankan fungsi dalam kehidupan seperti sebagai anak, istri, dan ibu. “Peran itu adalah ladang amal, bukan beban,” ujarnya.
Di akhir pemaparannya, ia menekankan pentingnya menjadikan ilmu dan hubungan dengan Allah sebagai landasan dalam menjalani kehidupan.
“Kuncinya perbaiki hubungan dengan Allah dan pastikan semua dijalani dengan ilmu,” pungkasnya.[]Titin Hanggasari

0 Komentar