Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Razia Pelajar: Solusi Instan yang Gagal Menyentuh Akar Masalah


Topswara.com -- Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bengkulu mengamankan sejumlah pelajar yang kedapatan bolos sekolah pada jam belajar. Tak hanya itu, para pelajar tersebut juga diamankan karena merokok di salah satu warung warga, Jumat (13/03/2026).

Kasus ini terungkap saat petugas melakukan operasi rutin untuk menertibkan pelajar yang berada di luar sekolah pada jam belajar. 

Kepala Satpol PP Kota Bengkulu, Sahat M. Situmorang, mengatakan razia tersebut merupakan bagian dari upaya pengawasan terhadap aktivitas pelajar. “Petugas melakukan razia pelajar yang bolos, nongkrong di warung saat jam belajar,” ujarnya (regional.kompas.com, 13-03-2026).

Saat dilakukan pemeriksaan, para pelajar awalnya tidak menimbulkan kecurigaan. Namun, setelah memeriksa barang bawaan, petugas menemukan bahwa para pelajar tersebut merupakan siswi yang menyamar dengan mengenakan atribut menyerupai pelajar laki-laki.

“Kami temukan mereka menyimpan jilbab dan mengubah penampilan menyerupai laki-laki saat bolos,” jelas Sahat.

Menurutnya, hal tersebut dilakukan agar para siswi dapat berbaur dengan pelajar laki-laki tanpa menarik perhatian masyarakat sekitar.

Fenomena ini menunjukkan upaya penegakan kedisiplinan melalui razia oleh aparat dan sekolah belum menyentuh akar persoalan. Tanpa diimbangi dengan penanaman nilai aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) Islam, perubahan perilaku pelajar tersebut sulit terwujud.

Tindakan tasyabuh (menyerupai laki-laki) yang dilakukan para siswi juga mencerminkan ketidakpahaman terhadap syariat Islam terkait batasan laki-laki dan perempuan. 

Kondisi ini tidak lepas dari pengaruh pemahaman sekuler liberal yang mengaburkan batas identitas gender serta tidak menekankan aturan yang jelas dalam berperilaku.

Dalam sistem sekuler liberal, kebebasan diagungkan sebagai nilai tertinggi kehidupan. Pelajar didorong untuk bebas bertindakan selama dianggap tidak merugikan orang lain. Pola pikir ini pada akhirnya memicu perilaku menyimpang, seperti membolos, merokok, hingga melakukan tasyabuh.

Dampaknya, solusi yang ditempuh hanya bersifat permukaan. Program razia yang dilakukan untuk menegakkan kedisiplinan pelajar menjadi kurang efektif karena hanya berfokus pada penindakan, bukan pada pembentukan kepribadian dan pemahaman nilai yang mendasar.

Dalam pandangan Islam, pembinaan generasi bukan hanya tugas individu, melainkan peran bersama antara keluarga, masyarakat, dan negara. Islam menanamkan aqidah sebagai fondasi dalam berpikir dan bersikap, sehingga setiap individu memiliki standar yang jelas dalam menentukan benar dan salah.

Lebih dari itu, pendidikan dalam Islam menekankan pembentukan kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiah), tidak hanya kecerdasan intelektual. Pelajar dibentuk menjadi pribadi yang memiliki rasa malu, tanggung jawab, serta menjaga kehormatan diri dalam setiap perilaku.

Islam juga menetapkan aturan pergaulan yang tegas antara laki-laki dan perempuan. Larangan menyerupai lawan jenis bukan sekadar aturan simbolik, melainkan bagian dari penjagaan fitrah dan identitas manusia.

Peran negara dalam sistem Islam pun bersifat aktif dan menyeluruh, tidak hanya mengatur aspek administratif pendidikan, tetapi juga memastikan kurikulum, lingkungan sosial, dan media mendukung terbentuknya generasi yang berkepribadian Islam. 

Di sisi lain, masyarakat turut berperan melalui budaya amar makruf nahi mungkar, yaitu saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Dengan demikian, penanganan persoalan pelajar tidak cukup hanya melalui razia dan penertiban. Selama akar persoalan berupa krisis nilai dan lemahnya pembentukan kepribadian tidak disentuh, maka upaya yang dilakukan akan terus berulang tanpa memberikan solusi yang tuntas. 

Wallahu a’lam bishshawab. 


Oleh: Dinda Ilmiasih 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar