Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Petaka Cinta di Kampus


Topswara.com -- Siapa nyana indahnya cinta membawa petaka. Cinta yang mestinya membuat bahagia malah memberi luka pada fisik dan juga jiwa. 

Inilah yang terjadi dalam kasus pembacokan mahasiswi di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) pada Kamis (26/2). Faradhilla Ayu Pramesti (23) yang saat itu tengah mempersiapkan diri menghadapi sidang skripsi di lantai dua Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum diserang oleh Raihan Mufazzar (21) dengan menggunakan parang. 

Persoalan asmara dan rasa sakit hati melatarbelakangi aksi nekat Raihan. Akibat serangan tersebut, Farra mengalami luka serius di kepala, leher belakang, dan pergelangan tangan. Atas perbuatannya tersebut, Raihan dijerat Pasal 469 Undang-Undang Nomor 1 tahun 2023 tentang KUHP dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara. (regional.inews.id, 28-2-2026)

Kekerasan hari ini kian marak di tengah generasi muda kita. Dengan mudahnya amarah menguasai hingga meluapkannya dengan kekerasan. Tak jarang aksi kekerasan tersebut sampai berujung pada penghilangan nyawa. Baik terencana atau spontan, aksi kekerasan jelas membahayakan orang lain.

Berbagai alasan dan masalah melatarbelakangi terjadinya aksi kekerasan. Demikian pula dalam kasus pembacokan di UIN Suska yang bermotifkan asmara dan sakit hati. Akibat cinta yang tak berbalas seperti harapan, pelaku nekat menyerang korban secara brutal. 

Ketika ditelusuri, ternyata pelaku sudah merencanakan aksinya sejak beberapa bulan sebelumnya. Pelaku juga sempat mengasah parang yang digunakan untuk menyerang korban. 

Kasus pembacokan ini bukan semata tentang kekerasan, tetapi juga mengenai liberalnya pergaulan anak muda zaman sekarang. Aktivitas pacaran dan sejenisnya banyak dilakukan oleh para pemuda. 

Gaya pacarannya bukan lagi sekedar jalan berdua atau gandengan tangan, melainkan sudah sampai berhubungan layaknya pasangan menikah. 

Mirisnya, yang semacam ini bukan hal tabu lagi. Kekerasan dan penyimpangan seolah dinormalisasikan. Masyarakat yang individualis seperti membiarkan saja karena dianggap bukan urusannya. Mereka hanya peduli dengan diri sendiri sehingga tidak ada spirit untuk saling mengingatkan atau menasihati untuk kebaikan.

Kondisi ini menjadi konsekuensi dari penerapan sistem yang sekuler liberal. Kekerasan dan pergaulan bebas yang marak di kalangan generasi merupakan hasil dari sistem pendidikan sekuler. 

Sistem yang menafikan agama dari kehidupan ini menghasilkan generasi yang tak paham agamanya, apalagi mempraktikkannya. Mereka tak punya landasan yang benar untuk menjalani hidup. 

Mental mereka rapuh ketika menemui masalah. Solusi yang diambil pun berdasarkan hawa nafsunya sendiri sehingga masalah bukannya beres malah makin pelik dan runyam.

Pemikiran yang sekuler liberal membuat generasi muda merasa bebas bertindak sesukanya, termasuk melakukan kekerasan pada orang lain. Mereka menjadikan nilai-nilai sekuler liberal sebagai jalan dan solusi untuk setiap permasalahan. 

Di sisi lain, keluarga dan masyarakat tak mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Keluarga tidak menjadi tempat untuk berkasih sayang dan mendidik anak-anak. Masyarakat juga tak mampu menjadi pengontrol sosial. 

Akibatnya, generasi menjadi mudah terbawa arus pergaulan yang buruk dan tidak ada yang mengawasi ataupun mengingatkan.

Inilah hasil dari penerapan sistem sekularisme yang menghasilkan permasalahan dan kerusakan di segala lini. Kondisi akan terus bertahan selama sistem sekuler terus bercokol. 

Karena itu, untuk mengakhirinya dibutuhkan sistem alternatif yang memiliki seperangkat aturan komprehensif. Sistem itu adalah Islam yang pernah diterapkan pada masa kekhilafahan dan menghasilkan kebaikan dan kemajuan.

Dalam sistem Islam, peran negara sangat penting sebagai periayah urusan rakyatnya. Negara akan menerapkan sistem pendidikan Islam untuk mencetak generasi unggul yang tak hanya cerdas dan tangguh, tetapi juga berakhlak mulia sesuai Islam. Generasi Islam ini menjadi cikal bakal peradaban yang tinggi. 

Mereka meninggalkan hal yang tidak bermanfaat, apalagi yang dilarang syariat seperti pacaran dan melukai orang lain. Mereka akan menyibukkan diri dengan hal-hal yang positif sehingga mampu menghasilkan karya-karya bermanfaat untuk umat manusia. 

Penerapan sistem pergaulan Islam juga akan menjaga masyarakat dari penyimpangan. Negara akan menjaga suasana ketakwaan hidup di tengah masyarakat. Setiap orang akan berusaha untuk tetap taat. Amar makruf nahi mungkar juga akan terus dihidupkan sehingga bibit-bibit penyimpangan dapat dicegah untuk berkembang. 

Penegakan hukum Islam juga menjamin keamanan di dalam masyarakat. Setiap pelanggaran hukum akan ditindak tegas. Pelaku kekerasan akan disanksi sesuai perbuatannya. Sistem sanksi yang tegas ini mampu menjadi efek jera sehingga mencegah kejahatan terulang atau merebak.

Sistem Islam mampu menjadi pengatur kehidupan manusia dan memberi solusi setiap permasalahan ketika ada negara yang menerapkannya. Untuk itu, mengadakan negara yang demikian menjadi sebuah keniscayaan.


Oleh: Nurcahyani 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar