Topswara.com -- Kaum muda saat ini sangat memprihatinkan dalam pergaulan makin hari makin bertambah tindak kekerasan yang dilakukan terhadap pertemanan. Aturan yang tidak tertulis dimasyarakat pun dilanggar untuk kesenangan sesaat.
Gaya hidup yang bebas sudah membutakan nurani, tanpa berpikir yang logis, dan dampak yang ditimbulkan dari kebebasan. Pengaruh media sosial sangat cepat menyebar terhadap perilaku kekerasan, bulliying dan tindak tutur yang dapat merusak pemikiran.
Berbagai macam persoalan saat ini tidak terlepas dari kebebasan gaya hidup modern. Kekerasan yang terjadi sudah merambah ke semua lini, dan yang lebih memilukan terjadi di kampus.
Kasus pembacokan yang terjadi di UIN Sutan Syarif Kasim Riau, terhadap mahasiswi yang sedang menunggu sidang proposal. Pelaku sesama mahasiswa menyerang dengan senjata tajam hingga korban terluka dan dirawat. Motif diduga terkait persoalan pribadi setelah penolakan cinta saat keduanya mengikuti KKN, yang berujung pada aksi penyerangan di kampus (kumparan.com, 27/02/2026).
Fenomena seperti ini kerap terjadi, lingkungan sangat mempengaruhi proses perkembangan remaja. Fondasi keluarga sangat dibutuhkan dalam kehidupan, rumah adalah tempat untuk mencurahkan kegundahan sehingga pemuda dapat menjaga emosi.
Kekerasan yang terjadi karena lingkungan abai terhadap hal-hal yang dianggap sepele, salah satunya komunikasi antar keluarga. Peran orang tua menajdi hilang karena persolaan hidup untuk memenuhi kebutuhan.
Perilaku pemuda yang dekat dengan aktivitas kekerasan, pembunuhan, pergaulan bebas, menunjukkan kegagalan sistem pendidikan sekuler. Generasi muda kita sudah jauh dari kepribadian yang mulia. Standar kebebasan dan bertindak semaunya terbentuk dari sekulerisme dalam diri remaja tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.
Miris dengan sistem pendidikan saat ini hanya mementingakn akademik tanpa penguatan iman dan ahlakul karimah. Sehingga yang terjadi normalisasi nilai-nilai liberalisme, khususnya pergaulan bebas (pacaran, perselingkuhan, perilaku menyimpang dan lain-lain) di tengah keluarga dan masyarakat berdampak besar dalam mengubah prilaku yang bertentangan dengan norma agama bahkan berujung pada pembunuhan.
Negara dengan sistem kapitalis dinilai kurang memprioritaskan pembinaan generasi, sehingga generasi sering dipandang hanya sebagai faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada materi.
Pemuda seharusnya menjadi agen perubahan yang dapat membawa peradaban yang mulia. Kapitalisme merusak pemuda di ruang publik dan ruang digital, inilah yang menjadi penyebab secara psikis remaja salah bertindak tanpa berpikir cemerlang.
Sudah sangat jelas sistem yang digunakan saat ini dapat menjauhkan agama dari kehidupan sehingga menimbulkan kriminalitas secara sistem.
Sistem pendidikan Islam dibangun di atas dasar akidah, dengan tujuan membentuk kepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap sesuai nilai syariat). Pola pikir yang mustanir sesuai dengan ajaran dalam pendidikan Islam.
Keberhasilan dalam akademik bukan hal yang utama namun yang dibutuhkan adalah keimanan, takwa, emosional, intelektual, sosial dan yang penting ahlakul karimah. Pemuda sebagai kader perjuangan dapat membawa perubahan yang hakiki, akidah yang tangguh, serta memahami dan terlibat dalam memperjuangkan Islam secara paripurna.
Generasi dididik untuk memiliki kesadaran untuk taat pada syariat, halal-haram, tanggung jawab, dan ketakwaan, bukan hanya fokus pada capaian akademik atau keterampilan.
Masyarakat saling mengingatkan dalam kebaikan, menentang kemaksiatan, sehingga tercipta suasana yang mendukung ketaatan dan menjauhkan dari perilaku menyimpang. Negara Khilafah menerapkan aturan dan sanksi sesuai hukum Islam untuk memberi efek jera dan menjaga keamanan serta kehormatan masyarakat.
Dengan demikian, perlu memberikan kesadaran politik pada generasi muda melalui keluarga dan lingkungan melalui proses berpikir yang kritis, analitis untuk kemulian Islam.
Oleh: Ariyana
Dosen dan Aktivis Muslimah

0 Komentar