Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Utamakan Musyawarah Suami Istri Sebelum Menerima Campur Tangan Mertua


Topswara.com -- Dari sekian banyak DM yang masuk, ada satu pola yang berulang. Bukan soal ekonomi. Bukan soal orang ketiga. Bukan soal kekerasan.

Tapi soal satu hal yang sering dianggap sepele, padahal bisa bikin rumah tangga panas tiap hari, yaitu campur tangan mertua tanpa musyawarah suami istri. Ada yang curhat, “Bun, setiap keputusan rumah tangga harus nanya ibu mertua dulu.”

Ada juga yang bilang, “Suami saya baik, tetapi apa-apa selalu ikut kata orang tuanya, bukan hasil musyawarah kami berdua.” Dan yang paling sering, “Saya bukan istri, Bun. Saya cuma kayak tamu di rumah sendiri.”

Kalimat terakhir itu sering bikin dada sesak. Karena rumah tangga seharusnya tempat paling aman, bukan tempat paling asing.

Dalam Islam, setelah akad nikah, suami istri adalah satu tim, satu kesatuan. Bukan lagi anak kecil yang semua keputusannya ditentukan orang tua.

Bukan berarti durhaka. Bukan berarti memutus silaturahmi. Tapi ada batas yang harus dijaga. Rumah tangga itu bukan proyek keluarga besar. Rumah tangga itu amanah dua orang yang disatukan oleh Allah.

Makanya, setiap keputusan yang menyangkut rumah tangga seharusnya dimulai dari musyawarah suami istri, bukan langsung menyerahkan kemudi ke orang tua.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)

Ayat ini bukan cuma untuk urusan negara atau masyarakat. Rumah tangga juga bagian dari kehidupan yang harus dibangun dengan musyawarah.

Artinya, sebelum mertua bicara, sebelum saudara ikut komentar, sebelum tetangga memberi saran, yang pertama duduk bareng harus suami dan istri.

Bukan ibu mertua dulu yang diajak diskusi, baru istri dikasih tahu. Bukan bapak mertua yang menentukan, baru suami mengumumkan.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa keluarga adalah unit dasar masyarakat. Di dalam keluarga, suami memiliki kepemimpinan, dan istri menjadi partner yang saling melengkapi. Bukan bawahan. Bukan anak buah. Bukan objek keputusan keluarga besar.

Artinya, ketika suami istri tidak punya ruang musyawarah sendiri, maka pondasi keluarga itu sebenarnya sudah goyah. Bukan karena orang tua jahat. Sering kali orang tua justru niatnya baik. Ingin menolong. Ingin memberi saran. Ingin anaknya tidak salah langkah.

Masalahnya bukan di niat, tapi di posisi. Kalau setiap konflik rumah tangga selalu dibawa ke orang tua tanpa musyawarah dulu, yang rusak bukan cuma hubungan suami istri, tapi juga hubungan menantu dengan mertua.

Ada satu kalimat yang sering muncul di DM, “Bun, saya seperti kalah sebelum bicara. Karena setiap saya punya pendapat, mertua sudah lebih dulu didengar.”

Di situ biasanya istri mulai lelah. Bukan karena miskin. Bukan karena suami jahat.
Tapi karena tidak punya ruang dihargai sebagai pasangan hidup.

Padahal seorang istri itu tidak butuh istana. Dia cuma butuh didengar. Cuma butuh satu kalimat sederhana dari suaminya, “Sebentar, Bu. Saya mau bicarakan dulu dengan istri saya.”

Kalimat itu pendek. Tetapi rasanya bagi seorang istri seperti dilindungi seluruh dunia. Musyawarah suami istri itu bukan tanda melawan orang tua. Justru itu tanda kedewasaan.

Suami yang dewasa bukan yang selalu menuruti ibunya. Dan istri yang bijak bukan yang memusuhi mertua. Yang dewasa adalah yang tahu mana ruang orang tua, mana ruang rumah tangga.

Orang tua tetap dihormati. Nasihatnya tetap didengar. Doanya tetap diharapkan.
Tapi keputusan rumah tangga, tetap harus dimulai dari musyawarah suami istri.

Coba bayangkan kalau setiap masalah kecil langsung dibawa ke orang tua. Suami istri bertengkar sedikit, langsung telepon ibu. Masalah uang, langsung diskusi sama bapak. Masalah anak, langsung nanya mertua. Akhirnya, rumah tangga itu tidak pernah berdiri sendiri.

Selalu bergantung. Selalu dikendalikan dari luar. Padahal, rumah tangga yang sehat itu seperti pohon. Akar boleh dari keluarga besar, tapi batangnya harus kuat berdiri sendiri.

Maka sebelum mendengar suara dari luar, dengarkan dulu suara pasangan di rumah. Sebelum minta nasihat orang tua, ajak dulu pasangan duduk berdua. Tanya pelan-pelan, “Menurut kamu, sebaiknya kita bagaimana?”

Karena setelah akad, yang akan menemani susah senang bukan orang tua, tetapi pasangan kita sendiri. Jadi, jangan sampai suara orang luar lebih keras, daripada suara pasangan yang tidur di sebelah kita setiap malam.

Rumah tangga tidak butuh terlalu banyak suara. Cukup dua hati yang saling mendengar. Karena dari musyawarah yang sederhana itulah, Allah turunkan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Barakallahufikum.[]


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis) 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar