Topswara.com -- Penderitaan perempuan dan anak-anak Palestina terus berlangsung tanpa ujung. Agresi militer yang terjadi di Jalur Gaza bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga menghapus jejak kehidupan ribuan manusia.
Dalam berbagai laporan investigasi, ribuan warga Palestina dinyatakan hilang sejak agresi dimulai pada Oktober 2023, diduga akibat penggunaan senjata dengan daya rusak ekstrem, termasuk senjata termal dan termobarik.
Jika benar senjata termal dan termobarik digunakan di wilayah padat penduduk, maka ini menunjukkan kezaliman yang melampaui batas kemanusiaan. Islam memandang nyawa manusia sebagai sesuatu yang sangat mulia.
Allah SWT berfirman:
“Barang siapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32)
Ayat ini menegaskan bahwa pembunuhan terhadap satu jiwa tanpa hak adalah kejahatan besar di sisi Allah. Apalagi jika yang menjadi korban adalah perempuan dan anak-anak, kelompok yang justru diwajibkan untuk dilindungi.
Rasulullah ï·º secara tegas melarang pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak dalam peperangan. Larangan ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi perlindungan warga sipil.
Namun apa yang terjadi di Gaza justru sebaliknya. Serangan dilakukan secara berulang meski klaim gencatan senjata disampaikan. Rumah sakit, sekolah, dan tempat pengungsian tidak luput dari serangan. Perempuan kehilangan anak-anaknya, anak-anak kehilangan orang tuanya, dan generasi masa depan Palestina terancam hilang.
Dalam pandangan Islam, kezaliman tidak boleh dibiarkan. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”
(QS. Hud: 113).
Sikap dunia yang membiarkan agresi ini terus berlangsung menunjukkan betapa lemahnya komitmen terhadap keadilan dan kemanusiaan. Kejahatan kemanusiaan yang dilakukan secara terang-terangan seolah tidak cukup untuk menggerakkan sanksi yang tegas. Padahal, Islam mengajarkan bahwa keadilan harus ditegakkan meski terhadap pihak yang kuat.
Masalah Palestina bukan semata konflik politik, tetapi persoalan aqidah, kemanusiaan dan keadilan. Umat Islam diperintahkan untuk peduli terhadap penderitaan sesama Muslim.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Perumpamaan kaum mukminin dalam kasih sayang dan kepedulian mereka seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa penderitaan perempuan dan anak-anak Palestina seharusnya menggugah nurani umat Islam di seluruh dunia. Solidaritas tidak cukup hanya dengan simpati, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata yaitu jihad akbar, tidak cukup hanya bantuan logistik,tekanan politik dan basa basi perdamaian PBB.
Perdamaian tidak akan terwujud selama penjajahan terus dibiarkan. Perdamaian yang sejati hanya akan terwujud bila penjajah diusir dari tanah Palestina. Dan ini hanya akan terjadi apabila umat Islam dibawah komando satu kepemimpinan yaitu khilafah.
Karena itu, perjuangan umat Islam hari ini adalah menyatukan umat Islam di seluruh dunia di bawah panji tauhid dan satu kepemimpinan yang akan menggerakkan tentara-tentara di negeri negeri muslim untuk bergerak membebaskan Palestina.
Derita perempuan dan anak-anak Palestina adalah luka bagi umat Islam. Sudah saatnya umat Islam bersatu dan bergerak untuk menghentikan penderitaan Palestina bukan sekadar menjadi penonton atas tragedi kemanusiaan terbesar di abad ini.
Oleh: Nur Hidayah
Aktivis Muslimah

0 Komentar