Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Bukan Sekadar Penjajahan, Gaza dan Luka Umat yang Terbelah


Topswara.com -- Kita sudah terlalu sering melihat Gaza hancur sampai hati ini seperti kebal, seolah seperti biasa. 
Di sana, yang hilang bukan cuma bangunan. Tetapi orang. Manusia. Anak-anak. Ibu-ibu.

Laporan yang dikutip CNN Indonesia dari investigasi Al Jazeera menyebut setidaknya 2.842 warga Palestina dinyatakan hilang sejak Oktober 2023.

Hilang. Kata itu sederhana, tetapi isinya berat sekali. Hilang berarti tidak ada kabar. Tidak ada jasad. Tidak ada kepastian.
Ada dugaan penggunaan senjata termal dan termobarik oleh Israel di Jalur Gaza. Senjata yang efeknya bukan cuma menghancurkan gedung, tetapi menghasilkan panas dan tekanan luar biasa.

Sampai ada laporan bahwa sebagian korban sulit dikenali, bahkan seperti lenyap. Bayangkan jadi orang tua yang tidak pernah menemukan tubuh anaknya. Tidak tahu masih hidup atau meninggal. 

Dan yang membuat dada makin sesak, serangan tetap terjadi meski ada momen gencatan senjata. Jadi sebenarnya gencatan itu untuk siapa?

Perempuan dan anak-anak terus jadi wajah paling nyata dari penderitaan ini. Mereka bukan tentara. Mereka bukan pengambil kebijakan. Tetapi justru mereka yang paling banyak terkubur di bawah reruntuhan.

Dunia mengecam. Dunia rapat. Dunia mengeluarkan pernyataan. Tetapi di Gaza, suara yang terdengar tetap suara ledakan.

Sebagai muslim, sulit untuk melihat ini hanya sebagai “konflik”. Ada rasa sakit yang berbeda. Ada ikatan yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa politik. Ketika satu bagian tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya. 

Dalam Islam satu nyawa sangat berharga. Satu saja. Jadi ketika ribuan melayang, itu bukan sekadar angka berita malam hari. Itu tragedi besar.

Jihad, sering kali kata ini dipersempit. Jihad bukan kemarahan yang meledak tanpa arah. Jihad adalah kesungguhan melawan kezaliman dengan aturan yang jelas. 

Bahkan dalam perang pun, Rasulullah melarang membunuh perempuan dan anak-anak. Artinya, kebiadaban terhadap warga sipil jelas bukan bagian dari ajaran Islam.

Masalahnya hari ini bukan cuma soal siapa kuat siapa lemah. Tetapi soal umat yang terpecah.

Negara-negara muslim berdiri sendiri-sendiri, dengan kepentingan masing-masing. Tidak ada satu suara yang benar-benar solid. Tidak ada satu kekuatan yang membuat dunia berhenti dan berkata, “cukup.” Akhirnya, Palestina seperti sendirian.

Sebagian orang mulai bertanya, apakah solusi damai yang ditawarkan benar-benar menghentikan kezaliman, atau hanya memperpanjang napasnya? Pertanyaan itu muncul bukan dari kebencian kosong, tetapi dari rasa frustasi melihat siklus yang berulang.

Mungkin yang kurang bukan sekadar simpati. Tetapi persatuan yang nyata. Kepemimpinan yang berani. Sistem yang membuat umat tidak mudah ditekan dan dipermainkan. Karena kalau umat terus tercerai-berai, tragedi seperti ini bisa saja terulang di tempat lain. Hari ini Gaza. Besok entah di mana.

Perempuan Gaza tidak butuh dunia yang hanya marah di media sosial. Anak-anak Palestina tidak butuh kita yang cuma terharu lima menit. Mereka butuh kezaliman ini benar-benar dihentikan.
Dan mungkin, yang paling berbahaya bukan hanya bom yang jatuh. Tetapi ketika hati kita mulai terbiasa melihatnya.

Umat Islam di seluruh dunia jumlahnya miliaran. Negara muslim juga banyak. Tetapi setiap ada tragedi, rasanya seperti sendiri-sendiri. Ada yang bicara keras. Ada yang hati-hati. Ada yang malah diam.
Padahal kalau dipikir-pikir, sumber daya ada. Kekayaan alam ada. Jumlah penduduk besar. Tetapi kenapa tetap terasa lemah?

Mungkin karena tidak ada satu arah. Tidak ada satu kepemimpinan yang menyatukan langkah. Semua berdiri dengan kepentingannya masing-masing. Akhirnya ketika satu negeri muslim terluka, yang lain hanya bisa “ikut prihatin”.

Gaza seperti cermin. Cermin yang memantulkan betapa terpecahnya kita.
Makanya ketika orang bicara tentang pentingnya kepemimpinan Islam yang menyatukan, itu bukan sekadar nostalgia masa lalu. Bukan cuma romantisme sejarah. Itu lahir dari rasa gelisah. 

Dari rasa tidak rela melihat darah terus mengalir sementara umat sebesar ini seperti tak punya daya tekan global.

Bayangkan kalau umat ini benar-benar solid. Satu suara dalam sikap politik. Satu visi dalam membela yang tertindas. Dunia pasti tidak akan semudah itu mengabaikan.

Ini bukan soal emosi meledak-ledak. Justru sebaliknya. Ini soal berpikir panjang. Tentang bagaimana membangun sistem yang membuat umat tidak mudah ditekan. Tentang bagaimana punya kepemimpinan yang bukan cuma simbol, tetapi punya kekuatan nyata.

Karena selama umat berjalan sendiri-sendiri, tragedi akan terasa seperti musibah lokal. Padahal ini luka kolektif.
Perjuangan menegakkan sistem Islam bagi sebagian orang dipandang sebagai jalan untuk menyatukan potensi itu. Supaya tidak lagi tercerai-berai. Supaya ada arah. Supaya ketika satu bagian disakiti, seluruh kekuatan bergerak, bukan cuma simpati.

Dan mungkin yang paling menyakitkan bukan cuma bomnya. Tetapi kesadaran bahwa kita sebesar ini, tetapi terasa kecil.

Gaza seperti sedang berteriak, bukan cuma minta bantuan. Tetapi minta persatuan. Dan jika persatuan itu tidak pernah benar-benar diwujudkan, maka kita akan terus menulis duka yang sama, dengan tanggal yang berbeda.

Wallahualam Bishawab.


Oleh: Nilam Astriati 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar