Topswara.com -- Menyesakkan! Mungkin inilah kata yang tepat menggambarkan kondisi bangsa hari ini yang dipenuhi dengan berbagai kebijakan yang kita mengernyitkan dahi. Bagaimana tidak, ditengah kondisi negara yang makin tidak menentu.
Presiden Prabowo Subianto secara mengejutkan bergabung dalam Board of Peace atau Piagam Dewan Perdamaian yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dilansir dari bbc.com, ada delapan negara, termasuk Indonesia yang menandatangani piagam perdamaian yang bertujuan mewujudkan perdamaian di Palestina, dan menjamin stabilisasi Gaza khususnya dengan melakukan rekontruksi dan perbaikan di wilayah tersebut.
Namun, yang banyak menyedot perhatian publik adalah, dewan bentukan Trump ini akan dipimpin Trumps seumur hidup meskipun tidak menjabat lagi sebagai presiden.
Point lain yang lebih menyesakkan lagi adalah iuran untuk menjadi keanggotaan permanen senilai US$1 miliar (sekitar Rp16,9 triliun) atau jika tidak membayar, negara yang tergabung hanya berhak memperoleh keanggotaan selama tiga tahun.
Deretan tokoh yang menuai kontroversi bermunculan menjabat dalam struktur dewan tersebut. Salah satunya adalah mantan Perdana Mentri Inggris Tony Blair yang menyeret Irak dalam pusaran konflik dengan tudingan Irak memiliki nuklir sebagai senjata pembunuh massal yang sampai detik ini tidak pernah terbukti. (bbc.com, 22/1/26)
Sudah cukup rasanya, rakyat melihat kezaliman demi kezaliman yang diciptakan oleh para penguasa hanya untuk memenuhi hasrat prestisius, validasi dari negara adidaya, dan ambisi berkuasa semata.
Tidak ada keberpihakan pada rakyat, apalagi pada kebenaran. Sesungguhnya board of peace yang digadang-gadang mampu memberi perdamaian untuk Gaza dan Palestina hanyalah dukungan semu untuk menutupi ambisi mereka yang sebenarnya, yakni menguasai bumi Palestina secara utuh, menaklukan secara fisik, politik dan ekonomi.
Bumi Syam yang sangat disucikan oleh agama samawi yang kaya akan sejarah peradaban para nabi, serta kaya pula secara sumber daya alam, dan kaya secara letak geografis yang sangat strategis sebagai jalur perdagangan dunia. Semua itu dimilikinya terdiri dari Palestina, Suriah, Libanon dan Yordania.
Kita bisa lihat bagaimana Yordania sudah menjadi boneka asing sedari dulu, dan tiga negara lainnya diporak-porandakan dengan berbagai tuduhan palsu, konflik horizontal, hingga masuknya dominasi asing secara politik dan ekonomi.
Semua ini mengerucut pada ambisi menaklukan Syam di tangan ideologi kapitalisme yang hari ini dikontrol oleh negara adidaya Amerika dan sekutunya. Lalu mengapa Indonesia bergabung ke piagam perdamaian yang jelas-jelas merupakan bentukan penjajah?
Bukan rahasia, Amerika Serikat merupakan penyokong dana terbesar Israel untuk melakukan genosida di Palestina, serta banyaknya perjanjian, gencatan senjata hanya omon-omon saja.
Kenyataan hingga saat ini penjajahan terus berlangsung, dan berbagai perjanjian dari dulu hingga sekarang tidak menyelesaikan penjajahan. Itu artinya penjajahan di Palestina tidak bisa diselesaikan dengan perjanjian.
Penjajahan Palestina harus diselesaikan dengan Islam. Sungguh, hanya ada satu cara mengalahkan dominasi para penguasa zalim ini yakni kesatuan politik dari negeri-negeri muslim dibawah naungan khilafah Islamiyah.
Mengapa harus dengan khilafah? Karena memang hanya khilafah yang akan menyatukan seluruh kekuatan muslim yang terpecah dalam batas-batas negara saat ini, disatukan dengan ikatan akidah dan visi politik yang jelas berlandaskan Al Quran dan As Sunnah.
Saat ini kaum muslim takut melawan kebiadaban Israel mapun dominasi Amerika, karena mereka terpisah-pisah, melawan dengan kekuatan sendiri yang terbatas dan dibatasi oleh para penguasa negeri adidaya.
Namun, jika semua bersatu dalam sistem politik Islam yang jelas melalui institusi khilafah, maka kekuatan Islam tidak akan terbendung. Karena semua pecahan negeri-negeri muslim yang dulunya bersatu dalam peradaban khilafah Islamiyah, memiliki sumber daya alam yang kaya serta jumlah sumber daya manusia yang luar biasa.
Dan yang lebih penting lagi, umat muslim memiliki kekuatan Islam sebagai mabda dan sistem hidup, yang menjadi sumber kekuatan utamanya. Hanya satu saja, umat Islam belum bersatu sebagaimana yang dicontohkan dalam perjuangan dakwahnya Rasulullah Saw dengan para sahabatnya hingga melahirkan peradaban Islam yang bertahan 1400 tahun lamanya.
Wallahu rasulu a’lam.
Oleh: Sheila Nurazizah
Aktivis Muslimah

0 Komentar