Topswara.com -- Banyak DM yang masuk dengan kalimat yang hampir sama, “Bun, saya bertahan karena anak.” “Kalau bukan karena anak, mungkin saya sudah pergi.” “Saya kuat bukan karena suami, tetapi karena anak-anak.”
Kalimat itu terdengar sangat kuat, tetapi sekaligus sangat lelah. Karena di balik kata “Bertahan”, biasanya ada luka yang tidak ringan.
Banyak perempuan tidak benar-benar bahagia dalam rumah tangganya. Tetapi ia tetap bangun pagi, masak, mengurus anak, melayani suami, dan tersenyum di depan orang lain. Bukan karena semuanya baik-baik saja, tetapi karena ada wajah-wajah kecil yang tidak boleh kehilangan rumah.
Ia tidak ingin anaknya tumbuh tanpa ayah. Ia tidak ingin anaknya menyaksikan rumah tangga yang pecah. Maka ia memilih bertahan, meski hatinya kadang terasa hancur pelan-pelan.
Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan secara ruhiah. Bertahan hanya karena anak, itu baik. Tetapi bertahan karena Allah, itu jauh lebih kuat. Karena anak suatu hari akan tumbuh besar. Mereka akan sekolah, bekerja, menikah, dan punya kehidupan sendiri. Lalu ketika rumah mulai sepi, apa yang tersisa di hati seorang istri?
Kalau sejak awal ia hanya bertahan karena anak, maka saat anak-anak pergi, ia akan merasa seperti hidupnya kosong dan sia-sia. Tetapi kalau ia bertahan karena Allah, maka setiap air mata, setiap kesabaran, setiap malam yang sepi, semuanya berubah menjadi pahala yang terus mengalir.
Syaikh Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam mengingatkan, “Amal yang sedikit tapi disertai keikhlasan, lebih baik daripada amal banyak yang disertai kesombongan.”
Artinya, kesabaran dalam rumah tangga bukan dilihat dari seberapa lama kita bertahan, tapi untuk siapa kita bertahan.
Kalau niatnya karena Allah, maka yang terlihat sebagai penderitaan, di sisi Allah bisa menjadi tangga menuju kemuliaan.
Namun, Islam juga tidak pernah memaksa seseorang bertahan dalam kezaliman. Sabar bukan berarti membiarkan diri dihancurkan. Sabar adalah menjaga iman, bukan mengorbankan harga diri tanpa batas.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa tujuan pernikahan dalam Islam adalah mewujudkan ketenangan (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat (rahmah) dalam kehidupan suami istri. Pernikahan bukan sekadar ikatan legal, tapi sarana untuk membangun kehidupan yang penuh ketenteraman sesuai syariat Allah.
Jika tujuan itu masih bisa diperjuangkan, jika masih ada ruang untuk memperbaiki, jika masih ada harapan untuk berubah, maka bertahan bisa menjadi pilihan yang mulia.
Tapi jika pernikahan justru menjadi tempat kezaliman, tempat kekerasan, tempat iman terus diruntuhkan, maka Islam juga membuka jalan keluar.
Karena dalam Islam, pernikahan bukan penjara. Ia adalah ibadah yang harus membawa kebaikan, bukan kehancuran.
Untuk para istri yang hari ini masih bertahan, entah karena anak, entah karena janji di hadapan Allah, entah karena tidak punya tempat lain untuk pulang, ketahuilah satu hal, Allah melihat semua perjuanganmu.
Air matamu tidak sia-sia. Kesabaranmu tidak hilang begitu saja dan setiap detik yang kau jalani dengan niat karena Allah, akan berubah menjadi cahaya di akhirat.
Maka luruskan niat. Bertahanlah bukan hanya karena anak, tapi karena ingin menjaga amanah Allah, menjaga rumah tangga dalam koridor syariat, dan berharap ridha-Nya.
Karena anak-anak mungkin menjadi alasan kita kuat, tetapi Allah adalah alasan kita tetap hidup. Semoga setiap rumah tangga yang sedang diuji, dikuatkan oleh iman, dipeluk oleh kesabaran dan dipertemukan kembali dengan ketenangan, aamiin. Barakallahufikum. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar