Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Bukan Board of Peace, Kedamaian Palestina Meniscayakan Tegaknya Islam


Topswara.com -- Makin brutal. Donald Trump, menegaskan kendalinya atas Gaza dengan menginisiasi Board of Peace. Pada 22 Januari 2026, Board of Peace (BoP) yang digagasnya melakukan pertemuan pertama kali di Davos, Swiss (nytimes.com, 27/01/2026). 

Trump menunjuk dirinya sendiri sebagai ketua dari dewan yang dibentuknya. Dia mengatakan akan menunjuk pula pejabat-pejabat senior yang nantinya membantunya mengurus Gaza. Ini jelas merupakan bentuk arogansi untuk menjajah Gaza dengan kedok perdamaian.

Dengan narasi “enduring peace in areas affected or threatened by conflict”, seakan keberadaan BoP ini terdengar mulia. Dalam pertemuan di Davos tersebut, dipresentasikan rencana pengembangan berbagai kawasan industri, perumahan, dan pertanian untuk “New Gaza” yang akan dilakukan oleh AS di atas tanah Gaza (bbc.com, 23/01/2026). 

Padahal, bukan rahasia lagi bahwa AS merupakan negara yang dengan terang-terangan dan bangga memberikan persediaan senjata kepada Israel untuk membantai warga Palestina. Sekarang mereka membicarakan perdamaian? Sungguh terdengar sangat menggelikan dan menjijikkan. 

Berita ini tentu lagi-lagi menyakiti kaum muslimin khususnya. Setelah membantai seluruh penduduk Gaza dan meluluhlantakkan rumah-rumah mereka, para preman ini akan membangun gedung-gedung megah di atas puing-puing dan kesedihan warga Palestina. 

Tidak berhenti di situ, luka Palestina yang saat ini dirasakan oleh kaum muslimin dan seluruh manusia yang hati nuraninya masih hidup, diperparah dengan deklarasi bergabungnya Indonesia ke dalam Board of Peace (setkab.go.id, 23/01/2026).

Bagi manusia yang berpikir waras, gagasan BoP tidak serta-merta disimpulkan dengan dangkal sebagai pengatur perdamaian setelah seluruh fakta yang terjadi. Dewan ini hanyalah akal-akalan AS dan Israel yang berusaha menghilangkan jejak genosida mereka yang telah mereka lakukan atas Gaza.

Dalam presentasi proyek Gaza, digambarkan bahwa akan dibangun gedung-gedung pencakar langit yang indah dan megah. Kalimat-kalimat semacam “membangun Gaza untuk menciptakan perdamaian dan kemakmuran” adalah kebohongan yang nyata. 

Bagaimana tidak, selain menjajah dan merampok Gaza, mereka hendak mengembangkan bisnis properti di tanah Gaza. Mereka melihat Gaza hanya sebatas properti, tidak lebih. 

Apa yang dilakukan AS dan Israel hari ini pada dasarnya hanyalah untuk segelintir manusia serakah yang haus akan dunia. Manusia-manusia ini menancapkan hegemoninya di tanah Palestina untuk menguasainya, padahal mereka paham bahwa Gaza adalah milik kaum muslimin. 

Umat Islam tidak boleh sedikit pun sepakat dengan apa yang dilakukan AS dan Israel serta sekutunya. Wajib bagi Muslim untuk melakukan perlawanan dan merebut kembali Palestina dari tangan para penjajah ini. 

Sebagaimana perintah Allah di dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 190 “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu…”. 

Pada saat yang sama, harus disadari bahwa berkuasa dan langgengnya sistem kapitalisme hari ini menjadikan kaum muslimin lemah dalam berbagai aspek. Mereka terpecah-belah menjadi banyak negeri yang terkotak-kotak dalam sekat nasionalisme. 

Para penguasa negeri muslim hari ini begitu takut jika tidak berteman dengan para preman itu. Mereka takut kehilangan dunia, namun tak takut murka Allah atas diri mereka.

Kesadaran umat manusia akan kesalahan besar penerapan ideologi kapitalisme akan memberikan dorongan bagi mereka untuk mengganti sistem ini dengan sistem yang benar. Seorang ulama besar, Taqiyuddin An-Nabhani, di dalam kitab Nizhamul Islam menyebutkan bahwa kapitalisme mengukur semua hal berdasarkan kepentingan manusia yang bersifat relatif.1 

Maka sudah bisa dipastikan kerusakan akan terjadi jika kapitalisme hasil pemikiran manusia ini diterapkan. Termasuk premanisme yang dilakukan AS dan Israel atas Palestina hari ini.

Solusi yang rasional adalah kita kembali kepada aturan Zat Yang Maha Mengetahui ciptaan-Nya, yaitu syariat Islam. Allahlah Zat yang tidak memiliki keterbatasan. Dia Sang Pencipta manusia dan alam semesta, maka rasional pula jika hanya aturan-Nya yang sesuai untuk mengatur seluruh aspek di dunia ini. 

Melalui contoh dari Rasulullah Muhammad saw., sahaba-sahabat beliau, dan generasi-generasi saleh setelahnya, siapa pun yang mau belajar akan bisa memahami bagaimana metode mengganti sistem buruk hari ini dengan sistem Islam yang tidak hanya baik, namun juga benar. 

Rasulullah dan para sahabat dengan jelas mencontohkan penerapan kewajiban penegakan khilafah sebagai penjamin pelaksanaan aturan Islam dengan menyeluruh. Kaum muslimin tinggal mencontohnya saja. 

Penerapan sistem Islam tidak hanya akan membebaskan Palestina dari kekejian Israel, AS, dan sekutu-sekutunya, tetapi juga akan memuliakan seluruh kaum muslimin. Kemakmuran dan keadilan juga akan menjadi hak seluruh umat manusia karena Islam datang untuk memberikan rahmat bagi seluruh alam. 

Wallahu a’lam bish-shawaab.


Oleh: Fatmawati, M.Pd.
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar