Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Bencana Berlanjut, Bagaimana Nasib Rakyat Selanjutnya?


Topswara.com -- Memasuki musim hujan bencana banjir dan longsor hadir silih berganti, bagaikan ombak yang menerjang batu karang tanpa henti. Bencana Sumatra yang hingga kini belum juga teratasi. Kini banjir dan longsor pun menghantui kota Bandung kecamatan Cisarua kabupaten Bandung Barat pada tanggal 1 Febuari 2026 mengakibatkan 10 koban dinyatakan hilang.

Para relawan, Basarnas, TNI, dan juga Polri bahu membahu menyusuri tempat yang diduga menjadi titik lokasi tertimbunnya korban. Akibat dari longsor dan banyaknya material tanah yang tebal mempersulit evakuasi korban. Selain mengunakan tenaga manusia tim SAR juga menggunakan 18 unit alat berat untuk mencari 10 korban yang hilang tersebut.

Menurut Muhammad Adip selaku Kasi Operasi Kantor SAR, menyatakan sudah menemukan 10 jasad tertimbun dan total yang sudah di temukan ada 70 jasad dan masih ada 10 korban lagi yang masih dalam proses pencarian atau hilang, Minggu (1/2/2026) INEWS JABAR.

Fenomena bencana alam yang berlangsung selama 1 bulan ini menjadi peringatan keras bagi kita. Alam yang sudah terlanjur rusak oleh keserakahan segelintir golongan mengakibatkan kerusakan yang sangat fatal hingga hilangnya nyawa manusia.

Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang beruntun menghantui negeri ini, mulai dari pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan beberapa pulau lainnya juga tak luput dari bencana. 

Banyak yang berpendapat bahwa bencana ini terjadi karena curah hujan ekstrim sehingga berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor.

Tetapi pertanyaannya, apakah musibah yang ada saat ini benar-benar murni oleh faktor cuaca atau oleh faktor yang lainnya?

Bencana alam seperti tanah longsor dan banjir bandang tidak bisa selalu dikaitkan dengan cuaca ekstrim, namun ada faktor utama yang memperparah keadaan yaitu kerusakan ekologi seperti penebangan hutan (deforestasi), pertambangan, dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit, sehingga ketika curah hujan datang, air tidak bisa terserap dengan baik oleh tanaman sawit karena sawit merupakan tanaman monokotil.

Paradigma kepemimpinan yang kapitalistik sekuler saat ini tidak perduli dengan urusan rakyat, dan lebih mendukung para oligarki demi kepentingan mereka untuk meraup keuntungan dari kerjasama antara oligarki dan penguasa.

Kita bisa melihat bagaimana penguasa tidak bisa menyelesaikan permasalahan bencana alam yang terjadi. Akibatnya masih banyak warga yang kehilangan rumah, fasilitas umum, dan masih banyak warga yang kehilangan mata pencaharian. Hidup mereka terombang-ambing tak menentu, harapan untuk hidup di masa depan terasa hampa dan hanyut oleh mimpi yang kosong.

Inilah buah diterapkannya sistem kapitalis sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Berbeda dengan sistem Islam, Islam hadir tidak hanya sebagai agama namun juga sebagai ideologi untuk mengatur kehidupan ini sesuai dengan syariat Islam, dan aturan dari Allah SWT pasti yang terbaik untuk seluruh manusia.

Namun Allah Swt juga telah mengingatkan bahwa ketidaktaatan pasti mengundang bencana dan penderitaan yang diakibatkan oleh tidak diterapkannya syariat Islam. Salah satunya dalam QS Thaha ayat 124 Allah berfirman, “Dan barang siapa berpaling dari peringatanku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta."

Selama 13 abad lamanya Islam berjaya, selama itu juga kesejahteraan, keadilan dan keamanan bisa dirasakan. Pemimpin di dalam Islam mempunya tujuan dalam memimpin rakyatnya untuk mengurusi urusan umat (raa'in) dan menjaga umat (junnah). Ketika bencana alam terjadi para pemimpin Islam berusaha mengerakkan segala daya dan upaya untuk bisa menyelesaikan dan melindungi umat.

Pembiayaan untuk bencana alam lebih di utamakan dalam penanganan bencana alam mulai dari mitigasi, pascabencana, hingga pemulihan kondisi sosial dan infrastruktur yang di perlukan oleh masyarakat. 

Dana yang di gelontorkan berasal dari baitul mal yang pemasukannya sangat banyak serta cukup untuk kepentingan umat. Sandang, pangan, papan dan termasuk obat-obatan akan disalurkan ke masyarakat agar tidak ada korban yang berjatuhan akibat sakit pascabencana.

Hukuman akan diberikan kepada para perusakan lingkungan yang mengeksploitasi alam demi keuntungan mereka. Mereka akan dihukum dengan sangat adil dan berefek jera bagi masyarakat yang melakukan hal yang sama.

Dan sejarah telah membuktikan bahwa dimana Khalifah Umar bin Khattab bisa menyelesaikan permasalahan bencana alam yang terjadi ketika beliau memimpin dunia dan itu juga disokong dengan sistem yang terbaik sepanjang sejarah Islam dalam naungan khilafah.
Wallahu alam.


Oleh: Titin Agustina
Aktivis Dakwah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar