Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Tatanan Dunia Rusak Akibat Sistem Bathil


Topswara.com -- Kalau kita perhatikan sering muncul perasaan ada yang aneh dengan dunia ini. Bukan cuma karena perang, krisis, atau bencana yang datang silih berganti, tetapi karena pola besarnya mulai kelihatan. 

Kita seperti hidup di dunia yang arahnya sudah ditentukan oleh segelintir pihak. Negara boleh banyak, bendera boleh beda, tetapi garis besarnya sering ditarik dari satu tempat, Amerika dan sistem yang ia sebarkan.

Bukan berarti semua masalah datang dari satu negara. Tetapi kita tahu, kapitalisme yang mereka bawa sudah jadi bahasa bersama dunia. Cara negara berpikir, cara pejabat membuat keputusan, bahkan cara orang memandang sukses dan gagal, semuanya diukur dengan uang dan pertumbuhan.

Di negeri-negeri Muslim, ini terasa getir. Kita disebut merdeka, tetapi hidup di dalam sistem yang bukan lahir dari nilai kita sendiri. Riba bukan lagi sesuatu yang memalukan, malah jadi tulang punggung ekonomi. 

Utang dianggap wajar. Ketimpangan dianggap “risiko pasar”. Pelan-pelan, Islam didorong jadi urusan pribadi saja, tidak boleh mengganggu cara negara mengatur harta dan kekuasaan.

Yang bikin miris, dampaknya bukan cuma di angka-angka. Ia masuk ke cara orang memandang hidup. Yang kaya dianggap sukses, apa pun caranya. Yang miskin disuruh “berusaha lebih keras”. Seolah sistemnya sendiri tidak pernah salah.

Sementara itu, alam juga ikut dibayar mahal. Hutan habis, laut rusak, tanah diperas. Semua demi proyek, demi investasi, demi “pertumbuhan”. Tetapi siapa yang benar-benar menikmati hasilnya? Rakyat biasa, atau segelintir orang yang sudah punya segalanya?

Kadang kita heran melihat banjir, longsor, kekeringan, lalu menyebutnya musibah. Padahal banyak dari itu adalah akibat dari keserakahan yang dilegalkan. Ketika keuntungan jadi ukuran utama, yang lain selalu dikorbankan.

Di panggung dunia, logika yang sama berlaku. Negara yang tidak nurut bisa dihukum. Disanksi. Ditekan. Venezuela, misalnya, pernah merasakannya. Soal siapa yang benar sering kali kalah oleh siapa yang paling kuat. Hukum internasional terdengar indah, tetapi mudah ditekuk ketika kepentingan besar bermain.

Semua ini bikin satu hal makin jelas, yang bermasalah bukan cuma satu atau dua kebijakan. Yang bermasalah adalah sistem yang mengatur semuanya.

Kapitalisme sekuler tidak punya rasa malu ketika harus mengorbankan manusia dan alam. Yang penting mesin tetap berputar.

Di tengah situasi seperti ini, wajar kalau orang mulai melirik kembali Islam sebagai sistem hidup. Bukan sekadar agama yang mengatur shalat dan puasa, tetapi cara mengelola kekuasaan dan harta. 

Dalam Islam, pemimpin itu bukan pemilik negara. Ia cuma pengurus. Kekuasaan bukan tiket jadi kaya, tetapi beban amanah. Maka ketika khilafah disebut-sebut, itu sebenarnya bukan nostalgia. Itu lahir dari rasa sesak melihat dunia yang makin tidak adil dan tidak manusiawi. 

Dunia ini seperti berjalan tanpa rem, dan kita semua tahu, sesuatu yang melaju tanpa rem pasti akan menabrak.
Islam menawarkan rem itu, batas, arah, dan ukuran benar-salah yang tidak ditentukan oleh pasar atau kekuatan senjata.

Wallahu'lam bishawab.


Oleh: Nilam Astriati 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar