Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Israk Mikraj, dari Langit ke Bumi, Saatnya Hukum Allah Ditegakkan


Topswara.com -- Bulan Rajab selalu hadir sebagai bulan istimewa bagi umat Islam. Di bulan inilah terjadi peristiwa agung Israk Mikraj, perjalanan Rasulullah saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidratul Muntaha. 

Umumnya, peringatan Israk Mikraj dimaknai sebagai momentum spiritual, khususnya turunnya perintah shalat lima waktu. Masjid-masjid dan sekolah mengisinya dengan ceramah, lomba, dan penguatan ibadah individual. Semua itu tentu baik, namun sayangnya makna Israk Mikraj sering berhenti di situ.

Padahal, Israk Mikraj tidak sekadar peristiwa ruhiyah, melainkan juga peristiwa ideologis dan politis. Tidak lama setelah Israk Mikraj, Rasulullah saw. mendapatkan baiat aqabah kedua, yang menjadi gerbang berdirinya Daulah Islam di Madinah. 

Ini menunjukkan bahwa Israk Mikraj bukan hanya tentang hubungan hamba dengan Allah, tetapi juga awal perubahan besar dalam kehidupan umat, termasuk perubahan sistem dan kepemimpinan.

Hikmah Israk Mikraj selama ini dipersempit hanya pada kewajiban shalat sebagai ibadah mahdhah. Padahal, shalat memiliki makna yang lebih luas. Dalam sebuah hadis disebutkan larangan memerangi seorang imam selama ia masih menegakkan shalat. 

Para ulama menjelaskan bahwa “menegakkan shalat” bukan sekadar gerakan ritual, tetapi kinayah dari menegakkan hukum Allah secara menyeluruh. Artinya, shalat menjadi simbol tegaknya syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Sayangnya, pemahaman ini belum menyentuh kesadaran umat secara luas. Umat Islam hari ini hidup di bawah sistem sekuler demokrasi yang secara global memisahkan agama dari kehidupan. 

Hukum Allah disingkirkan dari pengaturan politik, ekonomi, pendidikan, dan hukum. Padahal, sistem sekuler sejatinya adalah bentuk penentangan terhadap hukum yang diturunkan dari langit. Ketika hukum buatan manusia dijadikan standar, hukum Allah hanya dibiarkan hidup di ruang ibadah personal.

Akibat ditinggalkannya syariat Islam, berbagai bencana menimpa umat manusia. Bencana politik terlihat dari konflik berkepanjangan, penjajahan, dan peperangan yang tak kunjung usai. Bencana ekonomi hadir dalam bentuk kesenjangan ekstrem, kemiskinan struktural, dan penguasaan sumber daya oleh segelintir elite. 

Bencana sosial muncul dalam rusaknya moral, keluarga, dan meningkatnya kejahatan. Bahkan bencana alam pun kerap diperparah oleh sistem eksploitatif kapitalisme yang merusak lingkungan tanpa batas.

Runtuhnya Khilafah Islamiah 105 tahun yang lalu adalah bencana terbesar bagi umat Islam. Sejak saat itu, umat kehilangan perisai politiknya. Rasulullah saw. bersabda bahwa imam adalah perisai, tempat umat berlindung dan berperang di belakangnya. 

Ketika perisai itu runtuh, umat tercerai-berai dalam puluhan negara bangsa, lemah, dan mudah dijajah. Dunia pun menderita di bawah kepemimpinan kapitalisme global yang rakus dan menindas.

Oleh karena itu, Rajab dan Israk Mikraj sejatinya adalah momen membumikan kembali hukum Allah dari langit ke bumi. Bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi momentum kesadaran untuk mencampakkan hukum sekuler kapitalisme dan kembali menegakkan syariat Islam secara kafah. 

Inilah esensi Israk Mikraj, menerima perintah langsung dari Allah dan menjadikannya pedoman hidup, baik individu, masyarakat, maupun negara.

Masjidil Aqsha, titik awal perjalanan Isra’ Mikraj Rasulullah saw., hari ini masih berada dalam cengkeraman penjajahan entitas Yahudi. Palestina terus berdarah, sementara dunia Islam terpecah dan tak berdaya. Ini bukan sekadar persoalan kemanusiaan, tetapi persoalan politik umat. 

Demikian pula kezaliman yang menimpa kaum muslim di Rohingya, Uighur, India, Rusia, dan Filipina selatan. Semua ini menunjukkan absennya kepemimpinan Islam yang mampu melindungi umat secara nyata.

Karena itu, seruan kepada tentara-tentara muslim menjadi sangat penting. Mereka adalah kekuatan umat yang seharusnya digunakan untuk membebaskan Palestina dan menghentikan kezaliman terhadap kaum muslim. 

Tentara muslim bukan alat kekuasaan sekuler, melainkan pelindung umat dan penegak hukum Allah. Dengan kepemimpinan Islam, kekuatan ini akan diarahkan untuk tujuan yang mulia dan diridai Allah.

Umat Islam bukan umat lemah. Kita adalah umat Rasulullah saw., umat Khulafaur Rasyidin, cucu Al-Mu’tashim yang membela kehormatan seorang muslimah, cucu Shalahuddin Al-Ayyubi pembebas Al-Quds, cucu Muhammad Al-Fatih penakluk Konstantinopel, dan cucu para khalifah yang pernah memimpin dunia dengan keadilan. 

Sejarah ini bukan untuk dibanggakan semata, tetapi untuk membangkitkan keyakinan bahwa umat Islam mampu bangkit kembali.

Perjuangan menegakkan khilafah bukanlah mimpi utopis, melainkan kewajiban syar’i yang agung, penting, dan vital. Partai Islam ideologis hari ini terus berjuang siang dan malam, memimpin dan membimbing umat agar kembali memahami Islam sebagai mabda, bukan sekadar agama ritual. Mereka menyeru umat untuk melanjutkan kehidupan Islam secara total.

Rajab dan Israk Mikraj harus menjadi alarm kebangkitan. Inilah saatnya umat menyambut perjuangan besar untuk membumikan hukum Allah. 

Tegaknya Khilafah Islamiah akan mengembalikan kemuliaan Islam dan memuliakan umat Islam di hadapan dunia. Insyaallah, dengan kesadaran, perjuangan, dan pertolongan Allah, janji kemenangan itu akan terwujud. 

Wallahu a'lam bishshawab.


Oleh: Ema Darmawaty
Praktisi Pendidikan 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar