Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Surat dari Kota Tua: Pelajaran Hidup dari Kantor Pos Tertua Surabaya


Topswara.com -- Sebelum menjadi kantor pos, gedung ini digunakan sebagai Kantor Kabupaten Surabaya sekitar tahun 1800 – 1881. Setelah itu, gedung ini beralih fungsi lagi menjadi gedung HBS (Hogere Burgerschool) hingga tahun 1923, dan salah satu lulusannya yang terkenal adalah Soekarno (1915-1920). 

Selain Soekarno, beberapa tokoh lain yang juga bersekolah di sini adalah Hubertus Jan van Mook (1906-1913) dan Christian Eichholtz (1916-1923). 

HBS ini merupakan sekolah untuk anak-anak bangsa Eropa, putra bangsawan pribumi atau putra para tokoh pribumi terkemuka, dengan pengantar dalam Bahasa Belanda. 

Gedung ini juga sempat dipakai selama tiga tahun sebagai gedung Kepala Komisaris Surabaya (Hoofdcommissariaat van Politie) sebelum akhirnya digunakan sebagai kantor pos hingga sekarang.(tourism.surabaya.go.id)

Selama lebih dari satu abad, gedung ini telah menghubungkan ribuan manusia dengan kabar, rindu, doa, dan harapan bahkan di masa perang dan pergolakan kemerdekaan.

Kini ia masih berdiri, sementara orang-orang yang dulu berlalu-lalang di dalamnya telah lama kembali ke tanah. Di sanalah kita mulai memahami betapa hidup ini sejatinya hanyalah persinggahan.

Ketika berdiri di depan Kantor Pos tua itu, hati seperti disapa oleh waktu. Dinding-dindingnya tidak berteriak, tetapi diamnya lebih lantang dari ribuan kata. Ia seakan berkata, 

"Manusia datang dan pergi, generasi silih berganti, kekuasaan berpindah tangan, tetapi hidup tetap berjalan menuju satu kepastian, yaitu kematian.

Gedung ini bertahan bukan karena siapa yang memilikinya, melainkan karena apa yang ia layani. Ia mengantare surat, menyambungkan jarak, dan menjadi perantara cinta dan kabar. Dari sana kita belajar bahwa yang membuat hidup bernilai bukanlah kekuasaan, tetapi kebermanfaatan.

Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari berkata, “Tidak ada yang membuatmu bangga kecuali sesuatu yang akan sirna darimu.”

Harta, jabatan, popularitas, dan pujian akan pergi satu per satu. Bahkan bangunan kolonial yang dibangun dengan ambisi dan kesombongan kini hanya menjadi objek wisata dan sejarah. Apalagi manusia yang diciptakan dari setetes air dan akan kembali menjadi tanah.

Syaikh Ibnu ‘Atha’illah juga berkata, “Jika engkau mengenal dunia sebagaimana hakikatnya, engkau tidak akan bersedih atas apa yang luput darimu dan tidak akan sombong atas apa yang datang kepadamu.”

Kota Tua Surabaya seakan menafsirkan hikmah itu dalam bentuk batu dan bata. Dunia ini memang penuh warna, tetapi semuanya fana. Yang tertinggal hanyalah nilai dari apa yang pernah kita lakukan.

Di hadapan bangunan tua itu, kita juga diajak menilai kembali apa arti “sukses” menurut Islam. Syaikh Ibnu ‘Atha’illah berkata, “Bisa jadi Allah memberimu dunia, tetapi Dia ingin menyelamatkanmu dari tenggelam di dalamnya.”

Tidak semua kelapangan adalah rahmat, dan tidak semua kesempitan adalah hukuman. Ada orang yang terlihat berhasil di mata manusia, tetapi hatinya jauh dari Allah. Ada pula yang hidupnya sederhana, penuh ujian, namun jiwanya tenang karena dekat dengan Rabb-nya.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa dunia hanyalah satu fase dalam perjalanan manusia menuju pertanggungjawaban di hadapan Allah. Manusia tidak diciptakan untuk menjadikan dunia sebagai tujuan, melainkan sebagai ladang amal. 

Peradaban yang dibangun tanpa iman dan keadilan, betapapun megahnya, akan melahirkan kezaliman dan kehancuran seperti bangunan kolonial yang kini tinggal cerita.

Kantor Pos Besar Surabaya mengajarkan satu hal yang lembut tetapi dalam, yaitu ia hidup karena melayani, bukan karena menguasai. Ia bertahan karena memberi manfaat, bukan karena menindas. Inilah nilai Islam dalam kehidupan bahwa yang mulia bukan yang paling tinggi, tetapi yang paling bermanfaat.

Setiap hari kita pun sedang menulis “surat” kehidupan kita. Setiap keputusan, setiap kata, dan setiap niat adalah pesan yang sedang kita kirim ke masa depan, yaitu ke akhirat.

Pertanyaannya, apa yang sedang kita kirim? Kesombongan, atau amal? Keluhan, atau syukur? Dendam, atau kesabaran?

Di hadapan Kantor Pos tertua itu, kita diajak menundukkan ego dan meninggikan iman. Karena suatu hari, kita pun akan pergi seperti mereka yang dulu memenuhi gedung ini. Yang akan tertinggal bukan wajah dan nama kita, tetapi jejak kebaikan yang kita titipkan dan di situlah makna hidup yang sejati.[]


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar